Kereta Malam Ini
Februari 26th, 2012 § 3 Komentar
Malam menyamarkan gerimis yang jatuh satu-satu. Kereta yang kutunggu belum juga datang. Pengumuman terakhir mengatakan kereta itu masih berjarak tiga stasiun dari tempatku menanti sekarang. Sabtu malam sudah seperempat jalan dan aku masih di sini, sendiri.
Penerangan yang cukup di peron ini membuatku tergoda menulis. Sekarang aku dengan pena dan buku catatan yang selalu kubawa ke mana-mana sudah siap memulai. Mataku menjelajahi penjuru stasiun, mencari sesuatu yang menarik untuk kuceritakan.
Angin mengembus, bahkan pagar-pagar oranye yang membatasi stasiun tak bisa menahan dinginnya. Stasiun itu sepi, mungkin orang-orang lebih memilih menaiki kendaraan pribadi bersama pasangan di malam Minggu ini.
Aku mulai menulis apa yang kurasakan, yang kulihat, kudengar—sesederhana itu saja memulai sebuah tulisan. Selanjutnya ia akan hidup dengan sendirinya—ajaib. Tanganku bergerak dengan sendirinya, mengguratkan kata demi kata, dan kubiarkan bibirku tersenyum. Rangkaian kalimat itu terhenti ketika petugas mengumumkan bahwa dua stasiun lagi sampai keretaku tiba.
Kuedarkan lagi tatapanku ke sekeliling stasiun. Bibirku mengembang lebih lebar ketika aku menemukan seorang pria sedang menunduk memeriksa kamera di tangannya di peron seberang. Wajahnya temaram di bawah sinar lampu, namun aku bisa melihat siluet wajahnya—hidungnya yang sempurna. Ketika wajah itu terangkat dari layar kamera, cahaya lampu membanjiri wajah itu, membuatnya seolah-olah berpendar. Aku mengenali bentuk bibirnya yang melengkungkan senyuman. Semburat senyuman yang mengingatkanku pada hangatnya mentari pagi. Tanpa sadar aku ikut tersenyum juga.
Ah, aku tahu apa yang harus kuceritakan—pria yang tersenyum sehangat matahari di malam bergerimis.
Aku melanjutkan tulisanku bersamaan dengan petugas mengumumkan kereta yang akan kutumpangi sudah sampai di stasiun sebelum stasiun ini. Aku terus menulis, selagi dia yang kutuliskan masih bisa kupandangi dengan jelas. Pengumuman itu berlanjut dengan kereta ke arah berbeda yang juga sudah tiba di satu stasiun sebelum stasiun ini.
Penaku bergerak lincah, menceritakan pertemuan kami. Ketika akhirnya dia memergokiku mengamatinya dan senyumnya terkembang untukku. Aku membalas senyum itu, kemudian dia bergegas menuju peron tempatku duduk sekarang. Saling bertatapan dan bertukar senyuman. Selanjutnya berjabat tangan dengan mengucap nama masing-masing.
Angin tak lagi sanggup berbagi dingin. Ada matahari di hadapanku.
Pengumuman itu hadir lagi, kereta akan segera masuk ke stasiun. Kubereskan peralatan menulisku dan segera berdiri ke sisi peron. Dia ikut berdiri, mendekat ke peron untuk menyongsong kereta yang hampir datang.
Kita berpisah di situ. Senyummu terbentang lagi di wajahmu. Kita bahkan belum bicara apa-apa.
Oh tidak, kamu ikut melangkah masuk dalam keretaku.
Aku terdiam.
Pengumuman itu terdengar lagi. Berulang dalam kepalaku dan kini nyata terdengar di pendengaranku. Buru-buru aku berhenti menulis. Bersamaan dengan itu aku memergokinya mengarahkan kameramu kepadaku. Sembari memandanginya yang menurunkan kamera dari depan wajahnya, aku memasukkan alat tulisku ke dalam tas.
Dia tersenyum padaku, menganggukkan kepalanya padaku. Aku bangkit dan berjalan menuju peron dengan penuh harap dia menuju peron tempatku berdiri sekarang. Kita tak sengaja saling berpandangan lagi, kembali dia memancarkan senyum lagi.
Senyum itu tak luruh hangatnya bahkan saat gerimis itu merupa menjadi hujan.
Rel kereta itu mendadak terang, suara gemuruh kereta mendekat. Dia masih berada di seberang sana.
Kereta dengan cepat datang dan berhenti. Dari balik kaca aku melihatnya masuk ke dalam kereta. Pun aku juga melangkah ke dalam kereta. Pelan-pelan kereta ini bergerak, aku melihatnya dan dia pun tersenyum.
Senyum secerah matahari itu tertinggal bersama keretaku dan keretamu, yang beranjak saling menjauh.
Bogor, 26 Februari 2012

yang megang kamera itu sayaa! itu saya loohh~!
ngaku-ngaku! :p
seindah tulisanmu teh, selalu membuat senyum yang tiba-tiba muncul diwajahku..
#sehabis membaca