365 Hari

Februari 29th, 2012 § 2 Komentar

leap year

Kamu bilang selalu mencintaiku dalam 365 hari.

Pagi itu aku terdiam, tergugu memandangi halaman belakang dari jendela dapur. Mengaduk bubur sembari menunggu air panas yang kujerang mendidih. Langit abu-abu hari ini, padahal beberapa menit lalu temanku bilang ia berhasil bertemu sunrise di Bromo.

Secepat itu cuaca berubah, apakah perasaan juga bisa berganti sesingkat itu?

Aku dan dia pernah saling jatuh cinta. Dulu. Bahkan tanpa mengenal manisnya memandang matahari terbit di Bromo. Terlalu jauh untuk membayangkan itu.

Cerek itu berbunyi nyaring. Realita selalu jadi juara, aku tersenyum kecil. Mematikan api dan menuangkan air panas itu ke teko teh. Ini bahkan bukan rutinitas pagiku.

Aku menyesap tehku–hambar. Andai kamu tahu, aku bahkan tidak pernah berani menanyakan mengapa kamu mencintaiku. Seperti rasa teh ini–tawar–rasanya tak ada yang spesial dariku. Namun kamu tetap mencintaiku, setulus-tulusnya.

Andai kamu tahu, mungkin aku tidak sesempurna yang kamu bayangkan.

Ada 366 hari di tahun ini. Selama 365 hari aku mencintaimu dan jadi milikmu. Lalu bagaimana dengan sisa sehari di tahun ini? Apa boleh aku mencintainya? Sehari saja.

Bogor, 29 Februari 2012

Corat-coret gak jelas. *sigh* Yang penting nulis.

§ 2 Responses to 365 Hari

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading 365 Hari at Hero of The Drama.

meta