Patah Hati

17 Februari 2013 § Tinggalkan komentar

“Kalau menyembuhkan patah hati aja semudah ini, mengapa selalu takut jatuh cinta lagi?”

Pertanyaan Tami membuatku melongo. Sebenarnya dari tadi pun aku sudah tidak melakukan apa-apa. Aku hanya memandang jauh ke pejalan kaki yang seliweran di depan kafe ini. Aku menoleh ke Tami yang meneruskan mengetik di laptopnya. Sejak lalu, aku yang mendapatkan bagian itu, mengetik.

Sejam lalu, aku lupa kalau aku patah hati. Sekarang, nyeri itu terasa lagi. Sumbernya sangatlah sederhana, hanya notifikasi biasa di facebook. Tetapi, tak kukira itu menjadi awal segalanya: Jonathan Harris is in a relationship with Lania Ariana.

Pupus sudah bertahun-tahun usaha, niat, dan doaku. Aku dan Jonathan pernah hampir dekat sampai dia mengatakan tidak bisa denganku–entah apa maksudnya. Namun kami berdua masih berteman baik, saling bertanya kabar dengan sopan sesekali. Saling menelepon di hari ulang tahun masing-masing. Dan aku, menunggu kapan lagi aku bisa menyelinap masuk dalam hatinya.

Dulu, bukan dia tidak menyukaiku. Sebabnya Jonathan punya masalah dengan sahabatku dan kekasih sahabatku. Awalnya, Jonathan menyukai sahabatku, tapi sahabatku memilih kekasihnya yang sekarang. Kekasih sahabatku itu cemburu buta terhadap Jonathan. Mereka tidak bicara satu sama lain. Maka, mungkin dari itu dia memilih untuk mundur dan menjaga jarak dariku juga.

Kasihan ya, aku.

“Bersyukur dong, masih dikasih tahu kapan harus berhenti mengejar dia,” seloroh Tami. “Banyak orang yang nggak dikasih tahu kapan harus berhenti mencintai lho. Itu lebih menyiksa….”

Aku membisu. Kuangkat cangkir tehku dan kusesap sedikit demi sedikit.

“Mudahnya, aku akan bilang, kamu pantas dapat yang lebih baik dari dia,” Tami menoleh kepadaku, “Tapi, mudah buatku bicara. Pada kenyataannya, tidak mudah menerima kalimat sederhana itu.”

Aku tersenyum kecil. Kuhela napas panjang. Pandanganku kembali kepada orang yang lalu lalang di depan kafe. Sebanyak orang di depanku, mengapa untuk jatuh cinta lagi begitu sulit?

Pikiranku mengurai pengalaman-pengalaman yang pernah kualami dan apa yang kupelajari dari novel-novel cinta yang kubaca. “Hmm… kupikir, menyembuhkan diri sendiri itu tidaklah sulit. Trauma dan ketakutan karena sudah menyakiti orang lain, itu yang tidak mudah membuatku jatuh cinta lagi.”

“Cinta sebelah tangan cuma menyakiti diri sendiri,” koreksi Tami, “mungkin itu yang lebih tepat menimpamu, Neyna.”

“Yah… mungkin seperti itu. Mungkin seharusnya aku senang karena orang sebaik Jonathan akhirnya bisa menemukan cinta yang semestinya dia dapatkan. Dia pantas mendapatkannya. Dia pantas bahagia,” kataku dengan pandangan menerawang.

“Semua orang berhak bahagia. Kamu juga. Dia tidak berhak menghalangimu untuk bahagia.”

Aku mengembuskan napas panjang. Menatap ke langit sore. Kukira, Jonathan juga tidak akan tahu bahwa aku sesedih ini mengetahui fakta itu. Setiap satu orang jatuh cinta, maka ada orang lain yang patah hati. Dia tak perlu tahu aku patah hati. Aku masih memilikinya sebagai teman dan mulai saat ini aku bisa mencari orang lain. Seseorang yang berani membuatku jatuh cinta.

 

Bogor, 17/2/13

 

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Apa ini?

Saat ini Anda membaca Patah Hati pada Hero of The Drama.

meta

%d bloggers like this: