Bertemu Ayahmu

14 Februari 2015 § Tinggalkan komentar

Pada mula perjalanan kamu bilang hubunganmu dengan Ayah seperti jalan yang akan kita lewati. Penuh tikungan tajam, tanjakan turunan yang tak habis-habis, serta sepi. Dia meninggalkanmu saat tengah beranjak remaja. Setelah itu, pertemuan kalian hanya sesekali, masih dalam jangkauan jumlah jemari di kedua tangan.

Terhitung dua bulan sebelum pernikahan kita diadakan. Akhirnya, kamu memutuskan untuk membawaku bertemu ayahmu. Aku pernah bersua dengan Papa. Pria ramah yang pandai memasak. Dari beliaulah rantai suksesmu dimulai. Sekarang di beberapa kota besar sudah ditemukan usaha restoranmu, “Father & Son”. Kamu memperingatkanku, Ayah akan berbeda dengan Papa, dan aku mungkin akan terkejut ketika menemuinya nanti.

Apapun itu, aku sudah siap. Niatku sudah mantap untuk jadi bagian dari hidupmu. « Read the rest of this entry »

hari ini aku mencintaimu

28 Februari 2015 § 1 Komentar

Jonathan,

Aku ingat sebuah pertanyaan dari sebuah film. Sekiranya amat sederhana, namun jika dimaknai begitu luas dan dalam.

‘Mengapa kita jatuh?’

‘Agar kita belajar untuk bangkit lagi.’*

Begitu pulalah yang terjadi setiap kali seseorang jatuh cinta. Kita jatuh, terbuai manisnya ilusi bersama, dan akhirnya baru menyadari sakitnya. Baru merasakan berada di dasar. Akhirnya bersama, atau berpisah, akan sama saja proses yang dialami.

Berpisah, seperti aku dan abangmu. Aku mencintainya. Jatuh bersamanya. Akan tetapi, kami bangkit sendiri-sendiri. Kamu tahu betapa sulitnya aku berusaha. Mudah untuk membenci orang lain, tapi perihal melupakan, seringkali butuh waktu lebih dari seumur hidup. Aku tak bisa membencinya, itulah mengapa aku memilih lama tinggal di dasar. Nelangsa karena sesuatu yang bagi orang lain adalah sumber bahagianya.

Dan kamu datang, Jonathan.

Kamu meyakinkan aku untuk bisa berdiri lagi dan berhenti terpuruk. Itu sama sekali tak gampang. Aku merana dan mengajakmu serta mencicipi itu. Namun, kamu tak pernah berhenti membuatku percaya aku bisa bangkit lagi. Kamu tak pernah bisa membenciku karena apa yang sudah aku lakukan. Kamu terlalu cinta kepadaku.

Aku menyerah untuk sakit sendiri. Bangun bersamamu. Menggapai tanganmu.

Memutuskan bersama bukan perkara mudah. Cinta bisa datang sedetik dua detik saja. Mencintai adalah mengalami sedetik, dua detik, tiga detik, empat, dan seterusnya. Butuh nyali besar untuk bertahan di sana. Sesuatu yang tak pernah kupunya ketika aku bersama abangmu. Sebab dulu, aku tahu suatu hari akan berpisah darinya—pasti. Sekarang dia berada di tempat yang tepat. Sebagai bayang-bayang dan kenangan. Masa lalu yang tanpa masa depan. Bersamamu, ada masa depan yang menunggu. Hari esok yang tak bisa kita tebak.

Jonathan, ketika aku bersedia bersamamu, merupakan saat aku menyerahkan semua yang kupunya. Bukan hanya cinta. Cinta hanya satu dari sedikit hal yang mengingatkan kita ke mana harus kembali pulang. Hari ini tujuanku adalah kepadamu.

Jonathan, kita jatuh dan bangkit untuk berjalan bersama. Perjalanan itu mungkin tidak akan mulus. Bahagia tidak akan datang bertubi-tubi. Besok adalah misteri. Akan tetapi, hanya satu yang pasti, Jonathan. Hari ini aku mencintaimu.

Tatyana

« Read the rest of this entry »

kamu dan surat-suratmu

26 Februari 2015 § 1 Komentar

Dear Jonathan,

Aku tidak menyangka surat-surat yang kita tulis akan semenyenangkan ini. Meski kita bisa bicara lewat media lain, menunggu surat-suratmu selalu membuat aku berdebar. Seperti yang pernah aku bilang, selalu saja ada satu atau dua hal yang lebih mudah dirangkai menjadi kata-kata (meski tidak selalu manis).

Sekali aku mengantarkan suratku langsung ke hadapanmu. Sekali kamu membalas dengan cara yang sama, ya walau tidak langsung datang sih. Akan tetapi, kamu sengaja menungguku sampai aku membaca surat yang datang darimu. Bagaimana kalau aku tidak membuka surat darimu malam itu juga, apa kamu masih akan terus menunggu di depan kosku? Gosh, Jonathan, aku tidak mengira kamu bisa begitu lucu dan nggak logis.

Aku nyaris berpikir kamu tidak akan mau menghabiskan waktu hanya atas dasar menebak-nebak apakah aku akan membuka suratmu segera atau tidak. Untungnya aku membukanya. Dan aku menemukanmu di depan kosku. Malam itu yang gerimisnya berubah jadi hujan deras, kita mengulang ritual kita lagi. Akan tetapi, kali itu kita duduk tanpa kata-kata.

Aku tahu kamu masih kecewa kepadaku. Aku tidak sampai hati bertanya langsung tentang itu kepadamu. Jadi, aku membiarkanmu diam. Aku ikut menutup mulut, berkeras cuma mau menjawab jika ditanya saja. Menghadapimu secara langsung lebih membuat nyaliku ciut dibandingkan memutuskan jujur lewat surat.

Sampai akhirnya, kamu menawarkan sesuatu kepadaku. Sesuatu yang tak bisa kamu utarakan lewat surat. Tapi, aku bisa membalasnya dengan surat kalau tidak bisa menjawab malam itu juga.

Jadi, aku menulis surat ini untuk menjawabnya. Kali ini, baru aku merasa menulis lebih berat dibanding mengatakannya langsung di depanmu. Aku hanya ingin menjawab itu, namun tidak tahu harus mulai dari mana. Seakan kali ini aku kehabisan stok kata-kata untuk mengindah-indahkan kalimat yang akan kuberi.

Jawaban yang sebenarnya sudah pernah kubilang kepadamu di surat yang lalu. Yang kurasa sudah merangkum segala jawaban yang kamu inginkan, Jonathan.

Aku ingin berbahagia bersamamu.

Apakah itu cukup?

Kalau belum cukup, aku akan katakan dengan gamblang, aku bersedia menjadi pendampingmu. Merelakan surat-surat kita digantikan dengan ucapan selamat pagi dan ciuman di kening setiap hari.

Tatyana « Read the rest of this entry »

titik balik

24 Februari 2015 § 2 Komentar

Aku terima kekecewaanmu, Jonathan. Kemarahanmu. Segala yang pantas aku dapatkan akan aku terima.

Aku menyesali itu, Jonathan. Andai aku bisa memutar waktu, aku tidak akan mengatakan itu kepada abangmu. Itu sia-sia. Itu menyakitimu. Itu menyakitkan untuk kita semua.

Maafkan aku.

Setiap orang butuh titik balik, Jonathan. Di sana, adalah titik balik milikku. Aku belum bisa melupakannya dan itu tidak mudah, apalagi ketika dia ada di hadapanku. Akan tetapi, aku pun tidak bisa berharap apa-apa. Aku tidak punya kesempatan apa-apa. Pilihanku antara bertahan mencintainya dan tak pernah bisa bersama, atau bersamamu dan berbahagia.

Tak ada yang ingin menukar sisa hidupnya dengan duka. Meski ada yang melakukannya. Itu pilihan mereka. Tapi, bukan pilihanku, Jonathan. Aku pantas untuk bahagia lagi, seperti orang lain.

Kehadiranmu kadang masih terasa terlalu cepat bagiku. Cintamu membuatku terkejut dan gelisah. Itulah alasanku mengapa seringkali aku menjaga jarak. Aku merasa tidak pantas untuk dicintai sebesar itu. Aku harus dihukum karena kesalahan yang aku buat, yang secara tidak langsung kamu pun terkena imbasnya.

Maka, aku menyakitimu. Aku menyakiti diriku sendiri. Menyakitinya lagi dan lagi. Dan, saat aku mengucapkan itu kepadanya, aku ingin mengakhiri rasa sakit ini. Tak ada perpisahan yang mudah. Kamu pasti mengerti. Namun, aku bisa memilih untuk mengatasi dan melewati pedihnya perpisahan itu.

Jonathan, aku tidak pantas menerima maafmu. Terlalu banyak kebaikanmu untukku. Sabarmu yang tak habis-habis. Tapi kamu hanya manusia biasa, selalu ada batas untuk segalanya.

Aku mengerti konsekuensi ucapanku untuknya. Aku mengerti kalau aku bisa berhenti menyakiti diriku sendiri dan merasakan bahagia lagi. Walau jalan itu tak mudah, aku akan melewatinya. Meski waktu yang kubutuhkan untuk menempuhnya tak sebentar, aku akan sampai ke sana. Aku bisa melewatinya sendirian. Apabila aku bisa memilih seseorang untuk menemaniku, itu adalah kamu. Aku ingin berbahagia lagi, tapi bukan seorang diri. Aku ingin berbahagia bersamamu.

- Tatyana « Read the rest of this entry »

aku mencintaimu

22 Februari 2015 § 3 Komentar

Dear Jonathan,

Pertemuan terakhir kita menjadi kali pertama aku mendengar kalimat itu darimu. Jujur dan polos.

“Aku mencintaimu.”

Matamu penuh binar. Pipimu memerah. Kamu merengkuhku dalam pelukanmu. Menambatkan sebuah ciuman di pipiku.

Jadi, aku tersenyum saat kamu melakukan itu di depan semua orang. Di depan abangmu, kakak iparmu, dan kedua keponakanmu yang bersorak gembira. Menandaiku sebagai milikmu.

Aku berusaha mengeluarkan balasan setara. Kalimat sederhana yang sama. Hanya dua kata. Namun bibirku terkatup rapat. Aksara yang menyusunnya kocar-kacir dalam kepalaku.

Aku mematung. Kamu semringah. Aku menghela napas. Kamu menunggu.

Dan kata-kata itu tak pernah bisa keluar dari mulutku. Maafkan aku. Aku mencoba tapi tak bisa.

Aku mengecewakanmu. Sebesar itu juga yang aku rasakan. Saat aku minta maaf, kamu bilang akan menunggu. Sampai kapan kamu mau menunggu, Jon?

Hari itu, saat kita semua pergi berpiknik ke Taman Safari, kamu memang tak pernah meninggalkanku sendirian meski cuma sebentar. Mungkin kamu takut kalau abangmu akan mencuriku lagi. Akan tetapi, kamu tahu kalau selalu ada jalan untuk cinta.

Kamu sempat lengah. Kakak iparmu disibukkan dengan kedua buah hatinya. Dan dia mengajakku bicara. Berdua. Singkat. Di tengah jejalan manusia yang berakhir pekan di sana.

Dia menggenggam tanganku lagi. Hanya sekejap. Tatapan kami terkunci satu sama lain. Dia bilang dia masih mencintaiku.

Dia mengatakan itu dengan lirih. Suaranya yang sejuk hilang di tengah hiruk pikuk sore itu. Meski tidak mendengarnya, aku bisa membaca gerak bibirnya. Ekspresi wajahnya yang begitu sedih dan pilu saat mengucapkan itu.

Jika cintanya kepadaku membuatnya sakit, mengapa dia masih bertahan? Pertanyaan itu juga kuajukan pada diriku sendiri. Kalau itu menyakitinya, mengapa aku masih bertahan? Kami membelenggu cinta yang harusnya membebaskan.

Jon, pada sore itu, meski sadar itu begitu menyakitkan, aku membalas kata-kata dia dengan kalimat yang harusnya kuucapkan untukmu.

“Aku mencintaimu.”

Maafkan aku. Aku menyesali itu.

 

Tatyana  « Read the rest of this entry »

pilihan

20 Februari 2015 § 4 Komentar

Jonathan, di suratmu yang lalu, kamu menulis:

“Kamu bisa memilih untuk menikah dengan siapa, namun kamu tak kuasa untuk menentukan jatuh cinta dengan siapa.”

Mengapa kita tidak bisa mendapatkan keduanya? Sebagian orang jatuh cinta kepada seseorang dan bisa menikahinya. Sebagian lagi jatuh cinta, tanpa bisa menikahinya, bahkan bisa bersama saja tidak.

Mengapa tidak membuat hati yang saling mencintai untuk bisa bersatu? Persetan dengan perbedaan, takdir, status, kesempatan, atau apalah. Tak seorang pun memilih jatuh cinta hanya untuk patah hati.

Sekarang kamu membawa hal ini pada pertimbangan yang rasional atau tidak. Bagaimana bisa mencintai jadi sesuatu yang rasional sementara kita nggak bisa memilih kepada siapa kita jatuh cinta?

Kalau aku mau rasional, bisa saja dari awal aku bohong kepadamu. Aku pura-pura sudah melupakan dia dan langsung bersikap seolah-olah aku jatuh cinta kepadamu. Lagi pula, kata orang lama, cinta bisa datang karena terbiasa. Kemudian pelan-pelan aku bisa belajar menerima kehadiranmu dan mencintaimu.

Namun, aku tidak mau berpura-pura. Aku tahu ceritamu. Pedihmu ketika ditinggalkan Shasta. Semua kebaikanmu selama ini. Aku tidak ingin rasional kepadamu, Jonathan. Aku ingin jatuh cinta kepadamu.

Tatyana « Read the rest of this entry »

Bukan Hari Ini

18 Februari 2015 § 2 Komentar

Bukan sekali, berulang kali Jonathan ini mengutuk urutan takdir. Dia tidak ingin durhaka kepada Tuhan, namun kini hatinya tersiksa lebih dari apapun.

Hujan masih jatuh. Kenangan tentang perempuan itu ikut luruh. Penuh dalam kepalanya. Cerita-ceritanya. Cuap-cuapnya yang kini tak bisa lagi didengarnya langsung. Mengapa sekarang kesempatannya untuk bisa mencintai baru datang?

Malam ini mereka janji untuk bicara lagi. Telepon genggamnya bersiaga di atas meja. Detik demi detik. Bunyi kodok yang bersahutan mengisi sunyi yang harusnya diisi suaranya.

Sepi itu pun pecah oleh deringan telepon. Tangan Jonathan langsung menyambar benda bergetar di meja. Matanya langsung bercahaya.

Kangen. Mereka sama-sama merasakan itu.

Baik. Begitulah jawaban mereka saat ditanya tentang kabar.

“Aku senang dengar suaramu.”

Suara perempuan itu perlahan-lahan melirih. Sesaat tak terdengar jawaban. Jantung Jonathan kebat-kebit, takut salah berkata. Dia tak mau kehilangan cinta yang setelah sekian lama bisa ditemukannya lagi.

“Aku mencintaimu, Tatyana.”

Ternyata tidak sulit mengatakan itu secara langsung.

Aku juga ingin mencintaimu, Jon. Tapi bukan hari ini.

“Aku akan menunggu.” Selama apapun itu.

Aku harus apa? Aku masih belum bisa melupakan abangmu. Meski begitu aku tidak ingin membuatmu menunggu. Aku hanya tidak tahu harus mulai dari mana mencintaimu.

Jonathan terdiam. Dia mencintai perempuan itu yang hatinya masih berada di tempat lain. Kalau bukan hari ini, mungkin besok. Kalau bukan tahun ini, mungkin tahun depan. Masih ada waktu. Jonathan akan bisa membuat perempuan itu mencintainya.

 

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari Tiket.com dan nulisbuku.com#TiketBaliGratis.

Potret

18 Februari 2015 § Tinggalkan komentar

Pemuda itu tertegun pada sebuah potret. Bukan itu yang dicarinya.

Bermenit-menit matanya tak lepas dari layar laptop. Tertuju kepada sepasang manusia dalam foto itu. Dia sendiri yang mengambil foto itu, beberapa bulan lalu. Perempuan mungil berambut biru dan seorang pria dalam kemeja biru. Foto kekasihnya dan lelaki yang selama ini diaku banyak membantunya.

Dia memperbesar ukuran foto. Lagi dan lagi. Hingga tinggal piksel demi piksel. Akan tetapi, ada yang jelas di sana. Pandangan mata dua orang yang saling jatuh cinta.

Inikah alasan mereka tak pernah bicara lagi selama ini? Dia kira jaraklah yang selama ini menjaraki mereka menjadi jauh.

Pemuda itu menghela napas. Mengembalikan foto dalam ukuran semua. Dia mencetaknya dengan cekatan. Mondar-mandir sambil memandanginya lagi. Ada pedih yang menyesaki dadanya. Kedut yang berulang di pelipisnya.

Telepon genggamnya berdering.

Foto.

Datang ke sini.

Ya, aku ingin bicara sesuatu.

Pembicaraan itu dia sudahi. Dia duduk di bangku tadi. Menutup laman foto di layar. Menyelipkan foto itu di antara tumpukan kertas yang ada di meja kerjanya. Matanya mengarah ke jam dinding. Sebentar lagi wanita yang dicintainya akan datang. Hatinya hangat, meski masih ada sisa cubitan atas potret tadi.

Bermenit-menit dia masih duduk di situ. Bertanya-tanya sejak kapan mereka jatuh cinta? Dia tahu ada sesuatu yang salah tapi tak bisa menebak apa itu. Nyatanya selama ini dia sudah kehilangan.

Bel berdering.

Dia segera bangkit. Membuka pintu dengan senyum semringah. Seperti tak pernah terjadi apapun barusan. Tak ada potret yang jadi bukti hilangnya cinta.

Pemuda itu memeluk tubuh tinggi seorang perempuan berambut hitam panjang. Dan berbisik. “Aku kangen padamu, sayang.”

« Read the rest of this entry »