Baca chapter dari #TimeAfterTime!

6 Mei 2015 § 41 Komentar

Pada akhirnya, apa yang dimiliki hanya kenangan.

Lasja ingat kenangan pertama yang tercetak jelas di benaknya. Warnanya belum kabur. Seakan baru terjadi kemarin, alih-alih belasan tahun lalu. Pada hari pertama masuk sekolah dasar, Lasja diantar oleh Ayah. Bangunan tua dan kelihatan seram, cat warna cerahnya sulit untuk mengusir persepsi itu dalam benak Lasja. Ibu-ibu berdiri di luar ruang kelas satu—ruangan yang ia tuju. Tangannya menggenggam erat jemari Ayah. Di belakang dan menempel pada Ayah, Lasja berjalan. Memandangi halaman sekolah yang ramai oleh anak-anak dari kelas lebih tinggi.

Ia mau masuk kelas setelah dibujuk Ayah akan diajak main ke pantai. Teman sebangkunya anak perempuan malu-malu dengan rambut dikepang dua bernama Effie. Gurunya, seorang perempuan muda yang ramah dan sering tersenyum. Namun, semua itu masih menyisakan kegundahan di hati Lasja. Beberapa menit sekali, ia mengintip keluar, lewat jendela di dinding kelas yang berwarna putih. Ayahnya masih ada.

Tangisnya hampir meledak saat wajah familier itu lenyap di antara sederetan orangtua yang melongok ke dalam. Ia menjadi sulit berkonsentrasi pada gurunya. Lasja memegang pensilnya begitu erat. Ia mau terus ditemani Ayah. Tiba-tiba, ia berlari ke luar kelas sampai membuat gurunya kaget. Ia celingak-celinguk di depan kelas. Meneliti satu demi satu orang dewasa yang ada di koridor itu.

‘Lasja, ada apa?’

Ayah menghampiri Lasja, wajahnya tampak cemas. Meski begitu, senyum tetap tersungging di bibirnya.

Ayahnya ada. Tak ke mana-mana. Namun, bukan hari ini.

Lasja tersentak. Suara yang melontarkan pertanyaan itu seolah memanggilnya dari dekat. Ia mengamati sekeliling. Orang-orang berpakaian hitam berkerumun. Berkumpul di bawah pohon-pohon kemboja yang mekar dan udara pengap sore hari. Lasja menghela napas. Menyadari betapa erat genggaman Effie di lengannya. Sahabatnya itu terisak pelan, terus menyeka wajahnya sejak tadi. Ia menepuk punggung tangan Effie, menyebabkan sahabatnya menangis lagi. Lasja menggigit bibir. Matanya sendiri kering tanpa air mata.

“Kamu sabar ya, Sja.”

Ah, orang kesekian yang mengatakan itu kepadanya. Ia menoleh, menatap kenalan ayahnya. Lasja balas tersenyum. Itu lebih baik daripada melihat orang menangis.

Orang-orang yang berdiri di sekitar Lasja semua sudah dikenalnya. Teman-teman satu tempat kerja Ayah, tetangga-tetangga, beberapa teman Lasja, kecuali seorang perempuan yang berdiri agak terpisah dari kerumunan. Matanya terlindung kacamata hitam, sebagian mukanya tertutupi syal yang dikerudungkan di kepala. Lasja menyipitkan mata, menebak-nebak siapa perempuan itu. Seolah perempuan itu sadar sedang diperhatikan, ia berbalik. Melangkah anggun meninggalkan lahan pemakaman.

Mungkin, ia hanya salah satu teman Ayah yang tidak Lasja kenal.

Lasja menatap nisan hitam yang dipancang di permukaan tanah. Nama ayahnya tertera di sana. Di kepalanya, Ayah sedang tersenyum. Bayangan Ayah masih begitu jelas. Apa yang membuatnya ketakutan adalah kalau suatu hari ia tak bisa mengingat dengan jernih sosok Ayah.

Ia berharap perpisahan ini tak perlu terjadi. Ayah tak usah pergi. Semua itu tinggal angan-angan. Yang sekarang tersisa hanya kenangan-kenangan. Lasja menghela napas panjang. Andai ia diberi satu kesempatan untuk mengunjungi
salah satu kenangan itu. Sekali saja. Untuk menyatakan betapa ia mencintai Ayah.

Sekarang, seakan-akan momen-momen yang diputar dalam kepalanya itu, mulai bersuara. Lasja bisa mendengar panggilan Ayah untuknya berulang dan terus berulang. Tangis Effie perlahan pudar. Hanya Ayah yang didengar Lasja. Pesan yang terngiang lagi. Pesan yang belum sempat Lasja tunaikan. Pesan yang sebenarnya terdengar agak menggelikan.

‘Bubuhkan nama Han Solo di nisanku ya, Lasja.’

**

Time After Time sudah beredar di toko-toko buku dan online!

Time After Time sudah beredar di toko-toko buku dan online!

« Read the rest of this entry »

#RabuMenulis spesial Time Traveler Series 25 Maret 2015

26 Maret 2015 § 1 Komentar

Time After Time sudah beredar di toko-toko buku dan online!

Time After Time dari Time Traveler Series Gagasmedia sudah beredar di toko-toko buku dan online!

Tanggal 25 Maret jadi hari bersejarah untuk… semua peserta #RabuMenulis, karena sesuai tema yang aku berikan: harus menulis cerita tentang time travel dan mengalami kejadian penting di masa lalu. Serta, media ke masa lalu wajib menggunakan kompas.

Banyak flash fiction yang masuk untuk event menulis cuma dalam setengah jam ini! Keren-keren ya. Semua flash fiction yang di-share kemarin akan aku kompilasi di sini. « Read the rest of this entry »

Bertemu Ayahmu

14 Februari 2015 § Meninggalkan komentar

Pada mula perjalanan kamu bilang hubunganmu dengan Ayah seperti jalan yang akan kita lewati. Penuh tikungan tajam, tanjakan turunan yang tak habis-habis, serta sepi. Dia meninggalkanmu saat tengah beranjak remaja. Setelah itu, pertemuan kalian hanya sesekali, masih dalam jangkauan jumlah jemari di kedua tangan.

Terhitung dua bulan sebelum pernikahan kita diadakan. Akhirnya, kamu memutuskan untuk membawaku bertemu ayahmu. Aku pernah bersua dengan Papa. Pria ramah yang pandai memasak. Dari beliaulah rantai suksesmu dimulai. Sekarang di beberapa kota besar sudah ditemukan usaha restoranmu, “Father & Son”. Kamu memperingatkanku, Ayah akan berbeda dengan Papa, dan aku mungkin akan terkejut ketika menemuinya nanti.

Apapun itu, aku sudah siap. Niatku sudah mantap untuk jadi bagian dari hidupmu. « Read the rest of this entry »

hujan untukmu

31 Juli 2015 § Meninggalkan komentar

“Apa yang ingin kau dapatkan di hari ulang tahunmu?”

“Hujan.”

Jawabannya jelas di tengah lagu pop mendayu yang meluncur dari pengeras suara. Langkah kaki kami pun tak berhenti, menyusuri lorong yang kanan dan kirinya penuh warna. Bukan pelangi. Bukan gemerlap gemintang.

Dan kamu berhenti.

Permintaanmu tidak mustahil. Hanya saja, langit sendiri mogok berbagi air sejak dua bulan lalu. Pengamat bilang, kondisi ini akan bertahan hingga September.

Hari ini, baru di penghujung Juli. « Read the rest of this entry »

matahari yang terbit di matanya

14 Juli 2015 § Meninggalkan komentar

Aku pernah melihat matahari terbit dari matanya. Hangat dan berkilauan. Seperti halnya aku yang sering menunggu matahari betulan muncul. Duduk dengan segelas susu panas sesudah azan subuh. Menghadap timur, bertatap-tatapan dengan Venus, sambil mulai menghitung larik cahaya yang hadir. Saat itu ketika dunia paling damai. Tak ada yang memburumu. Tak ada yang menghakimi keputusanmu.

“Ketika aku menuju ke sini, matahari ada di atas kepalaku. Secerah kulit lemon,” katanya, berdiri tegap sementara pengunjung di taman pemakaman ini berlarian menghindari tetes air.

Pandanganku terpaku pada nisan. Badan marmernya bersih, seolah baru ditanam kemarin. Air yang jatuh membersihkan permukaannya. Tapi tak ada butiran air yang sampai ke kepalaku, payung merah yang kugenggam akan jadi pelindung.

“Kamu datang ke sini dan mendung bergulung-gulung. Bayang-bayang menghilang. Dan sekarang…,” ujarnya lagi, menyeka air dari wajahnya. “Kamu seperti Putri Hujan yang menyimpan gerimis dalam keranjangmu.”

Laki-laki di sampingku, tubuhnya terbalut mantel gelap dan syal tebal melingkari lehernya. Dia tahu hujan akan turun bila kami bertemu.

“Aku pernah melewati dua bulan di tempat yang sama sekali tak turun hujan. Jadi argumenmu tidak valid, Oscar.”

“Karena di sana kamu bahagia. Karena tidak ada yang membebankanmu atas kematian ayahmu.”

Tubuhku menegang. “Kamu tidak seharusnya datang ke sini,” kataku tegas. Di samping sebuket lily yang kubawa, sudah lebih dulu ada lavendel pemberian Oscar tergeletak di sana.

“Aku hanya memenuhi janjiku kepadamu, Ava. Aku tidak akan pernah meninggalkamu.”

Pandangan kami beradu. Banyak yang bilang mata hijau birunya persis sama dengan milikku. Rambutnya yang cokelat terang, kini menggelap karena mulai basah.

“Kamu berjanji tak akan menemuiku lagi.”

“Aku berjanji padanya.” Oscar menunjuk nisan. Ekspresi wajahnya menegas. “Bukan padamu. Dan aku tak pernah menemuimu, meski aku bisa saja tiba-tiba muncul di depan flatmu. Tak seorang pun akan curiga jika aku melakukan itu.”

Aku menghela napas. Mengamati matanya yang teduh. Mengapa kita tidak bersama?

“Ayah meninggal karena aku mencintaimu.” Hari itu masih teringat jelas dalam ingatanku. Kakinya terjulur, melayang di atas lantai. Sebuah tali diikatkan di kasau. Aku memejamkan mataku sekarang. Tak sanggup mengenang muka ayah.

“Dia membunuh dirinya sendiri karena ingin kita tak akan pernah melupakannya, Ava.”

Aku menelan ludah. Tubuhku menggigil. “Dia membencimu, Oscar.”

“Tentu saja dia membenciku karena aku gagal menjaga adik perempuanku sendiri dan malah jatuh cinta kepadanya?” Tatapannya menyengit dan kata-katanya dilontarkan sungguh nyelekit. “Pernahkah kamu menyadari mengapa dia memilih mati? Bukan perihal dosa, Ava. Bukan. Melainkan dia sungguh membenci dan mencintai kita. Satu-satunya jalan agar kita bisa bersama adalah lewat kematiannya.”

Semua itu seperti sesuatu yang sudah lama dipendamnya dan sekarang harus meluap. Pandangan matanya terluka. Mustahil matahari akan terbit dari sana. Justru sekarang aku menemukan senja, matahari yang merangkak untuk sembunyi. Dia bilang mencintaiku, namun selalu ada pilu menyertai di kedua matanya.

Itulah mengapa aku selalu pergi membawa hujan. Aku ingin mengingat pahit lewat matanya. Mengenang kesalahan yang kami perbuat berdua. Sebab, momen ketika aku jatuh cinta selalu bermula saat aku mendapati matahari terbit di matanya.

(478 kata)

Akur kembali dengan naskah yang lama ditinggalkan

4 Juli 2015 § 2 Komentar

Seringkali setelah menyelesaikan satu naskah, masih ada jalan yang panjang untuk diterbitkan. Kadang-kadang harus menunggu hingga beberapa bulan atau tahun. Tidak jarang ketika harus kembali lagi ke naskah untuk proses revisi setelah sekian lama, rasanya sulit sekali akrab lagi.

Bukan hanya jeda ketika menanti naskah diproses menjadi buku, jeda di tengah proses penulisan pun bisa berefek menjauhkan. Sehari menjadi seminggu, seminggu menjadi sebulan, sebulan menjadi tiga bulan, akhirnya setahun naskah itu terkatung-katung tanpa disentuh. Sewaktu harus kembali untuk mengerjakan, ada perasaan canggung, seperti halnya dua teman yang lama tak jumpa. Kehilangan perasaan senasib, sepenanggungan yang dulu dijalani bersama. Kehilangan kesenangan, antusias, dan rasa jatuh cinta pada karakter-karakter serta ceritanya.

Aku sendiri pernah mengalami hal itu, lebih tepatnya sering. Pengalamanku saat mengerjakan novel Time After Time, dari menulis draf satu hingga terbit memakan waktu hampir dua tahun. Di antara jedanya aku sempat mengerjakan naskah-naskah lain dan meski sempat kabur-kabur dari Time After Time, aku selalu mengerahkan diri untuk kembali. Tidak mudah memang mengembalikan momen yang sama ketika mengerjakan di awal-awal setelah lama meninggalkan, tapi kewajiban yang harus dipenuhi membuat aku tidak menyerah untuk mencoba akur kembali. #aseeek « Read the rest of this entry »

Arcadia & Hadrian: Yang lebih biru dibanding lautan

30 Juni 2015 § Meninggalkan komentar

Cerita sebelumnya: Pertemukan aku dengan ombak (bagian 29/terakhir)

the master

citra dari adegan pembuka di film the master.

Apa yang lebih biru dibanding lautan?

Pertanyaan itu menghampiriku saat mencoba menghitung buih yang pecah. Aku mulai membilangnya saat berdiri di buritan kapal–semua hanya biru, putih, biru muda, laut, ombak, dan buih. Kubiarkan rambutku diterbangkan angin. Aku senang berada di sini. Tak ada penyesalan ketika aku memutuskan untuk berkunjung.

“Nona.” Seorang pria tersenyum sopan dan berdiri berjarak denganku. Dia tersenyum. “Rambut Anda sangat indah,” pujinya, menatapku hormat.

Aku mengembangkan senyum malu-malu. “Terima kasih.”

Dia terdiam sejenak, lalu pamit kepadaku. Pria itu menyeberangi buritan, menuju selasar di bagian kiri kapal. Saat itulah, aku mengingat lagi tujuanku ke sini. Sosok yang berdiri di tepi pagar teras itu menyita perhatianku. Sejak tadi dia berada di sana, dilewati orang-orang dan tak ada yang berhenti menyapanya. Kehadirannya mungkin tak terdeteksi, atau orang-orang memang tak punya alasan apa pun untuk menghampirinya.

Belum lama sejak pertemuan kami di toko buku. Aku datang lagi ke tempat itu tapi tak pernah menemukannya lagi. Aku yang belum pernah melintas menuju masa depan pun melakukannya, untuk tahu apakah benar yang dikatakannya bahwa kami akan bertemu lagi. Agak sulit untuk menemukannya sebab aku hanya tahu namanya saja. Aku mengunjungi banyak masa depan yang mungkin terjadi, seringkali kembali dengan tagan kosong dan di sinilah, akhirnya aku menemukannya. « Read the rest of this entry »

Arcadia & Hadrian: Pertemukan aku dengan ombak

29 Juni 2015 § Meninggalkan komentar

Cerita sebelumnya: terlalu banyak (bagian 28)


Divus hanya mematung ketika pedang yang digunakan perempuan berambut merah itu menusuk tubuh Hadrian. Tidak mengenai bagian vital, tapi bisa saja dia mati kehabisan darah. Divus mengelus kepala Biru, menenangkan kucing besar itu, jika ini bukan pertarungan mereka. Hadrian jatuh ke air, tubuhnya tenggelam, hanya kepalanya yang muncul di permukaan. Betapa pun sakitnya itu, sama sekali tidak membuat Hadrian bersuara. Perempuan itu menekan pedang itu, memuntirnya, hingga menembus tubuh lawannya.

Senja semakin merah. Permukaan di sekitar mereka berombak kecil. Kelompok-kelompok burung terbang dengan tergesa-gesa. Divus tetap berdiri di posisinya. Perempuan itu menarik pedangnya dan mengacungkannya ke udara. Darah mengaliri permukaannya yang berkilauan, menetes satu demi satu ke air danau yang beriak. Tawa perempuan itu meluncur ke udara. Matanya nyalang pada Hadrian yang masih berusaha berdiri.

“Aku akan membunuhmu pelan-pelan, Hadrian,” ujarnya, menghunjamkan sekali lagi pedang itu kepada Hadrian yang belum berdiri tegak.

Sebelum ujung lancip pedang itu menyentuh tubuh Hadrian, Divus bersama Smilodon dan Biru menghilang lewat sebuah pintu yang muncul di belakang mereka. Tak ada gunanya campur tangan pada masalah itu.

** « Read the rest of this entry »

Arcadia & Hadrian: Terlalu Banyak

28 Juni 2015 § Meninggalkan komentar

Cerita sebelumnya: Karunia (bagian 27)


Kendaraan yang ditumpangi Arcadia bergerak. Kepadatan jalanan seakan mendadak menyurut ketika mereka lewat, sehingga perjalanan begitu lancar. Di samping Arcadia, duduk Arianna yang sedang mengecek persiapan final. Setelah beberapa waktu akhirnya hari ini datang juga dalam hidup Arcadia dan Arianna.

Perjalanan itu akan jauh dan lama. Mereka masih harus menempuh perjalanan udara ke sebuah pulau terpencil tempat pembukaan gerbang akan dilakukan. Meski lokasinya terasing, tempat itu sama sekali tidak sepi. Berbagai bangunan didirikan, bermacam-macam peralatan yang akan dibawa lewat gerbang sudah siap, orang-orang hilir mudik. Selain yang berkepentingan, orang luar tak akan bisa menginjakkan kaki ke area ini.

Arcadia dan tim Arianna berhasil memformulasikan mantra yang sangat kuat untuk mencegah gerbang ke masa lalu runtuh. Mereka mulai bisa membawa alat-alat yang digunakan untuk mengeruk sumber daya Bumi. Memanennya, membawanya ke masa sekarang untuk memenuhi kebutuhan manusia yang makin melangit. Ini proyek besar. Akan banyak uang yang dihasilkan. Banyak. « Read the rest of this entry »

Merayakan #TimeAfterTime bersama Klub Buku SMA N 2 Metro

27 Juni 2015 § 1 Komentar

Pernahkah dalam hidupmu ketika timbul penyesalan dalam mengambil keputusan dan ingin kembali ke masa lalu untuk memperbaiki segala sesuatu agar berjalan lancar seperti yang diinginkan? Lasja mengalami ini. Lasja akan terlempar ke masa lalu yang nantinya akan mengubah tidak hanya jalan hidupnya tapi juga keluarganya.

Cerita dalam novel ini bernuansa kelam. Tentang seseorang yang kehilangan orangtua. Tentang menguak rahasia masa lalu. Tentang melintasi waktu. Akan banyak kejutan-kejutan yang tak terduga di dalam novel ini yang terdiri tiga ruang waktu.

(Review Time After Time dari Luckty Klub Buku SMA N 2 Metro)

time-after-time-rame

foto dari Luckty.

« Read the rest of this entry »