#RabuMenulis spesial Time Traveler Series 25 Maret 2015

26 Maret 2015 § 1 Komentar

Time After Time sudah beredar di toko-toko buku dan online!

Time After Time dari Time Traveler Series Gagasmedia sudah beredar di toko-toko buku dan online!

Tanggal 25 Maret jadi hari bersejarah untuk… semua peserta #RabuMenulis, karena sesuai tema yang aku berikan: harus menulis cerita tentang time travel dan mengalami kejadian penting di masa lalu. Serta, media ke masa lalu wajib menggunakan kompas.

Banyak flash fiction yang masuk untuk event menulis cuma dalam setengah jam ini! Keren-keren ya. Semua flash fiction yang di-share kemarin akan aku kompilasi di sini. « Read the rest of this entry »

Bertemu Ayahmu

14 Februari 2015 § Meninggalkan komentar

Pada mula perjalanan kamu bilang hubunganmu dengan Ayah seperti jalan yang akan kita lewati. Penuh tikungan tajam, tanjakan turunan yang tak habis-habis, serta sepi. Dia meninggalkanmu saat tengah beranjak remaja. Setelah itu, pertemuan kalian hanya sesekali, masih dalam jangkauan jumlah jemari di kedua tangan.

Terhitung dua bulan sebelum pernikahan kita diadakan. Akhirnya, kamu memutuskan untuk membawaku bertemu ayahmu. Aku pernah bersua dengan Papa. Pria ramah yang pandai memasak. Dari beliaulah rantai suksesmu dimulai. Sekarang di beberapa kota besar sudah ditemukan usaha restoranmu, “Father & Son”. Kamu memperingatkanku, Ayah akan berbeda dengan Papa, dan aku mungkin akan terkejut ketika menemuinya nanti.

Apapun itu, aku sudah siap. Niatku sudah mantap untuk jadi bagian dari hidupmu. « Read the rest of this entry »

Rasa Jeruk

8 April 2015 § Meninggalkan komentar

Dia masih bisa merasakan asam jeruk di mulutnya saat matanya silau oleh cahaya kebiruan. Sekejap, dia tidak lagi duduk di beranda rumahnya, melainkan sebuah padang rumput yang seolah tanpa batas.

Mulutnya terbuka lebar. Kaget namun tak keluar teriakan apa-apa dari sana. Sekelompok burung kabur meninggalkan ciutan berisik yang membuatnya terbatuk. Dia membungkuk, tubuhnya terguncang, biji jeruk terlempar dari mulutnya, menggelinding sampai ke tepi gaun merah muda yang digunakannya.

Di mana piyama yang tadi dipakainya? « Read the rest of this entry »

Apa kamu mendengarnya?

1 April 2015 § 2 Komentar

“Apa kamu mendengarnya?”

Flora terkesiap. Tubuhnya menggigil sesaat karena kaget. Kelopak matanya menyipit, dia menaungi kedua matanya dengan tangan. Sebagian ruangan ini diliputi gelap. Lampu yang menyala dari balkon-balkon. Lampu yang menyorot pada panggung di tengah auditorium luas ini.

Dia seharusnya tidak berada di sini.

** « Read the rest of this entry »

Interstellar dan kenangan tentang ayah

30 Maret 2015 § 5 Komentar

IKXJO3P

Beberapa waktu belakangan ini, aku baru menyadari kadang sesuatu istimewa bukan sekadar karena luar biasa atau patut dikagumi. Seringkali muatan kenangan pada sesuatu itu yang mengubah hal yang bagi orang lain sederhana, bagimu jadi sesuatu yang spesial.

Jika kamu adalah follower twitter-ku, mungkin kamu udah capek (atau malah jadi kesengsem juga) dengan aku yang nggak berhenti juga ngomongin tentang Interstellar. Mungkin kamu cuma berkomentar: ‘ah, adit/tia cuma lagi kesengsem sama The Nolans!’. Hahaha. Yap, sebagian alasan itu memang benar. Akan tetapi, makin ke sini aku sadar kalau film itu jadi istimewa bagiku karena hal-hal lain. « Read the rest of this entry »

Lelaki yang Mengirimkan Hujan

29 Maret 2015 § Meninggalkan komentar

Di sebuah kota, hujan tidak pernah melarikan diri. Dia setia menunggu tanpa lelah, tak mengeluh sampai kapan harus terus bertahan. Tentu saja, dia berada di sana tanpa kesempatan untuk memilih.

Karena seseorang telah sengaja mengirimnya ke tempat itu.

**

“Pernahkah kamu jatuh cinta dan rela melakukan segalanya demi dia yang kamu cintai?”

Lelaki itu berdiri di depan altar. Di bawahnya lantai batu abu-abu. Langit-langitnya tinggi menjulang dan membentuk kolom-kolom berujung runcing. Sisa-sisa arsitektur abad lampau. Dia tidak terlalu memedulikan itu. Favoritnya adalah duduk di salah satu bangku kayu panjang, yang ada di bawah jendela penuh kaca hias. Kaca warna-warni itu selalu mengembalikannya sejenak pada kenangannya tentang sang ibu. « Read the rest of this entry »

hari ini 25 maret

25 Maret 2015 § 1 Komentar

Hari ini 25 Maret. Aku bersembunyi di balik kelokan. Mengintip sedikit ke lorong yang sepi. Seorang lelaki berjalan pelan di sana. Satu tangannya disembunyikan di belakang punggung.

Aku tersenyum.

Aku tahu.

Hari itu 25 Maret. Ada janji makan malam yang menyebabkan jantungku berdebar-debar sejak siang. Aku duduk, berdiri, berjalan bolak-balik di kamar hotel yang kutinggali sementara. Sejenak, aku berhenti di depan cermin, mematut penampilan. Mengatur rambutku yang hitam panjang. Sudah cukup pantaskah aku untuk janji temu kali ini?

« Read the rest of this entry »

hari ini aku mencintaimu

28 Februari 2015 § 1 Komentar

Jonathan,

Aku ingat sebuah pertanyaan dari sebuah film. Sekiranya amat sederhana, namun jika dimaknai begitu luas dan dalam.

‘Mengapa kita jatuh?’

‘Agar kita belajar untuk bangkit lagi.’*

Begitu pulalah yang terjadi setiap kali seseorang jatuh cinta. Kita jatuh, terbuai manisnya ilusi bersama, dan akhirnya baru menyadari sakitnya. Baru merasakan berada di dasar. Akhirnya bersama, atau berpisah, akan sama saja proses yang dialami.

Berpisah, seperti aku dan abangmu. Aku mencintainya. Jatuh bersamanya. Akan tetapi, kami bangkit sendiri-sendiri. Kamu tahu betapa sulitnya aku berusaha. Mudah untuk membenci orang lain, tapi perihal melupakan, seringkali butuh waktu lebih dari seumur hidup. Aku tak bisa membencinya, itulah mengapa aku memilih lama tinggal di dasar. Nelangsa karena sesuatu yang bagi orang lain adalah sumber bahagianya.

Dan kamu datang, Jonathan.

Kamu meyakinkan aku untuk bisa berdiri lagi dan berhenti terpuruk. Itu sama sekali tak gampang. Aku merana dan mengajakmu serta mencicipi itu. Namun, kamu tak pernah berhenti membuatku percaya aku bisa bangkit lagi. Kamu tak pernah bisa membenciku karena apa yang sudah aku lakukan. Kamu terlalu cinta kepadaku.

Aku menyerah untuk sakit sendiri. Bangun bersamamu. Menggapai tanganmu.

Memutuskan bersama bukan perkara mudah. Cinta bisa datang sedetik dua detik saja. Mencintai adalah mengalami sedetik, dua detik, tiga detik, empat, dan seterusnya. Butuh nyali besar untuk bertahan di sana. Sesuatu yang tak pernah kupunya ketika aku bersama abangmu. Sebab dulu, aku tahu suatu hari akan berpisah darinya—pasti. Sekarang dia berada di tempat yang tepat. Sebagai bayang-bayang dan kenangan. Masa lalu yang tanpa masa depan. Bersamamu, ada masa depan yang menunggu. Hari esok yang tak bisa kita tebak.

Jonathan, ketika aku bersedia bersamamu, merupakan saat aku menyerahkan semua yang kupunya. Bukan hanya cinta. Cinta hanya satu dari sedikit hal yang mengingatkan kita ke mana harus kembali pulang. Hari ini tujuanku adalah kepadamu.

Jonathan, kita jatuh dan bangkit untuk berjalan bersama. Perjalanan itu mungkin tidak akan mulus. Bahagia tidak akan datang bertubi-tubi. Besok adalah misteri. Akan tetapi, hanya satu yang pasti, Jonathan. Hari ini aku mencintaimu.

Tatyana

« Read the rest of this entry »