Peron

city lights night street
Photo by Justin Hamilton on Pexels.com

Yang mendekatkan kita kurasa saat aku dan kamu bertukar cerita tentang ayah yang mati. Ayahmu mati saat kau remaja. Ayahku mati belum lama. Ayahmu mati karena bertikai. Ayaku mati karena menua dan sudah saatnya pergi. Kamu tidak tahu menit ke menit saat ayahmu sekarat. Aku tahu dan ingat jelas bagaimana pelan-pelan ayahku meregang nyawa.

(lebih…)

Tamak

side view photo of woman in floral dress and sun hat standing in grass field
Photo by Dominika Roseclay on Pexels.com

Astrid,

Banyak yang ingin aku sampaikan kepadamu. Segala hal yang bahkan sulit terwakili oleh kata-kata. Terlalu berat untuk diucapkan. Aku kehabisan cara untuk menunjukkannya kepadamu. Tapi, aku ingin kamu melihat ke dalam mataku, sekali, dua kali, dan berkali-kali. Semua bisa kamu temukan di sana. Semua yang tak bisa mulutku katakan. Semua yang yang tak mungkin genggaman tanganku wakili.

Merindukanmu adalah anugerah. Merindukanmu setiap hari jadi satu-satunya hal yang menjagaku tetap waras. Merindukanmu tanpa pernah bisa menyampaikannya adalah jalan untuk bunuh diri. Aku datang kepadamu karena aku tak bisa menahan lebih lama. Aku rindu mendengar suaramu. Tawamu. Menatap senyummu dan matamu yang berbinar. Aku rindu memelukmu dan menciumi aroma rambutmu. Segalanya Astrid. (lebih…)

Kasmaran

woman sitting on brown wooden box
Photo by Matheus Viana on Pexels.com

Bu, anak gadismu ini sedang kasmaran. Tiap pagi berseri-seri. Setiap hari jadi lebih wangi. Tidak jarang ketahuan senyum-senyum sendiri.

Jarang-jarang aku jatuh hati, Bu. Terlebih kalau perasaan itu mencantol kepada seseorang yang sering hilir mudik di sekitar. Biasanya ada-ada saja dramanya, dari yang jauh entah di mana, yang sudah dicap milik orang lain, sampai figur yang cuma bisa nyala dan nyata dalam angan-angan. Yang kali ini, bisa kutengok sosoknya hampir setiap hari. Dia ke sana kemari, kadang-kadang sambil bernyanyi atau bercanda asik sekali. Sampai-sampai aku hafal caranya tertawa, lenggang jalannya, juga decit sendal jepitnya. Tentu saja itu bikin aku senang. Sayangnya, itu juga jadi masalah, Bu, karena dia ada di dekat aku, sering sejangkauan tangan aku, sering lutut-lutut kami ketemu, atau sekadar jari-jemari saling sentuh sesaat, akibatnya perasaan ini jadi berat, bikin penat.

(lebih…)

Pulang

photo of green leaf potted plants on window and stand
Photo by Daria Shevtsova on Pexels.com

Menyambung dua, ah mungkin tiga atau malah empat tahun yang seperti hilang dari blog ini. Postingan sesingkat ini pastilah tidak cukup untuk menggambarkan bahkan merangkum masa-masa yang terlewatkan tercatat di sini. Mengabaikan blog ini untuk sementara adalah pilihan. Kembali lagi dan mengisi dengan hal-hal yang baru juga pilihan. Akan tetapi, pulang ke sini tidak terasa asing, ada rasa tersambut yang sama yang kutemukan, seperti menemukan rumah yang lama tak disinggahi, yang kini penuh jaring-jaring laba-laba dan lebu yang begitu tebalnya.

Aku kembali lagi. Mungkin tidak akan sama lagi seperti dulu. Bisa jadi isi blog ini akan lebih berupa-rupa, berwarna-warna, bervariasi adanya.

Salam,

Aditia

Sendiri

“Andai kamu kaya, kamu akan….”

Dia membuka pintu. Membantingnya. Menyelang kalimat yang takkan pernah usai.

Kakinya menjejak pasir. Kehadirannya disambut angin. Rambutnya tercerai berai bergembira. Udara penuh wangi hari yang cerah. Langit biru. Ombak yang menderu.

Seluruh pantai ini hanya miliknya. Dia kaya. Hitung seluruh batang kelapa di sini, itu adalah miliknya. Jumlahkan seluruh pasir di sudut-sudut pantainya, semua sudah di bawah namanya.

Dia bergerak. Berlari menyongsong lautan. Sendirian.

**

Pasir lagi. Kali ini hitam. Langit yang biru jadi kelabu. Dia menjejak, melawan hisapan pasir. Jejak demi jejak tertinggal. Di sini, udara seakan tak bergerak. Menggumpal dan mencubit. Dingin yang terus ada.

Bangkai pesawat duduk sendirian di hamparan padang. Berkilau oleh matahari yang tak pernah lebih tinggi dari kepala.

Dia tiba di depan pintunya. Tangannya terjulur. Badan besar itu ringsek dan rusak. Tubuhnya penuh lubang-lubang yang tak mungkin diperbaiki kembali.

“Andai kamu kaya, kamu akan….”

“Aku akan membawamu terbang, Marian. Terbang yang tinggi.”

Dia dan gadis itu, berdiri di bawah pohon jati tua. Mengawasi angkasa. Bola mata gelap mereka membuntuti burung besi yang melintas. Mewarnai cakrawala dengan garis putih yang berbaur dengan awan-awan. Seperti tangan mereka yang berpadu jadi satu.

**

Bukan sekadar pesawat. Miliknya tak bersayap.

Kaca demi kaca menjadi dinding. Menyekat hanggar raksasa itu menjadi kamar-kamar lebih kecil. Di berada dalam salah satunya. Dinding kacanya berlekuk-lekuk. Begitu bening dan jernih. Membatasi dirinya dan keramaian yang ada di luar.

Kedua tangannya menyatu di balik punggung. Tubuhnya tegap dan anggun. Pandangannya tertanam pada sebuah layar besar.

“Pesawatku akan terbang, Marian.”

Putih dan menjulang. Ikon kebanggaan tercetak di permukaan roket yang ramping. Naga yang terbang. Dia akan menembus langit. Dia akan mencari keberadaan Marian.

“Andai aku kaya, Marian. Aku tidak hanya mengajakmu terbang. Aku akan membuatkanmu pesawat. Yang bisa membawamu ke Mars.”

Marian tertawa. “Gombal.”

**

Di petak sawah sebelah rumah dulu mereka bersama mencari jangkrik dan memancing belut. Setapak tegalan sawah-sawah itu akan sambung menyambung. Membawa mereka ke utara. Pada hutan-hutan penuh dengan pohon waru. Lalu pantai. Putih dan berbuih.

Hingga remaja, mereka masih sering kembali ke sana. Duduk di antara kerang-kerang yang telah pecah dan carikan rumput laut yang hanyut. Cuitan burung. Desir angin. Risik dedaunan. Saat mereka menengadah, derum keras. Sebuah pesawat melintas.

“Andai aku kaya. Aku akan mengeluarkanmu dari tempat terpencil ini, Marian.”

“Kamu selalu berandai-andai jadi kaya. Tapi kerjaanmu berenang di laut melulu. Sampai hitam keling badanmu.”

“Biarin.”

“Kamu dan mimpi-mimpimu sangat jauh, Ken. Sangat jauh. Aku tak bisa mengikutimu lagi. Mungkin bukan hari ini. Tapi besok. Atau lusa. Atau hari sesudahnya….”

**

Aku bermimpi untukmu, Marian.

Dia membuka pintu. Jendela-jendela kaca. Langit yang kelam. Butir-butir cahaya dari gedung-gedung bertingkat menyapa matanya.

Dari sini, dia bisa memperhatikan seluruh kota. Menikmati matahari terbit dan tenggelam tanpa penghalang. Hamparan pantai berpasir putih sebelah barat.

Kini dia kaya. Tanpa andai.

Dia mencari Marian ke mana-mana. Ke seluruh sudut dunia dan semesta. Namun tak pernah dia temukan lagi.

 

 

Sebelumnya terbit di Storial.co

Her Name Is Tatyana

Review Potret, cerita bersambung yang pernah kupost di Storial.co.

Times New Woman

img-20161019-wa0000.jpg cover by Aditia Yudis

Pernikahan bukanlah permainan catur.

Aku pernah janji mau mengulas buku “Potret” karya Aditia Yudis, salah satu serial terpopuler di situs storial.co. Lalu janji itu sempat terlupakan lantaran kesibukanku yang semakin menggila. Lalu teringat lagi setelah menyadari kesamaan situasiku sekarang dengan tokoh utama serial itu, Tatyana.

Ehem, mungkin kita bisa mulai dari plotnya. Potret bercerita tentang perjalanan Tatyana dan Saddam menuju hari pernikahan mereka. Selama itu, mereka menemui banyak rintangan dari (sebagian besar) saudara-saudara Saddam (dan ayah mereka). Semuanya berawal dari ucapan dingin Saddam saat makan mie di paviliun Tatyana: “Kita nikah, yuk.”

Lihat pos aslinya 453 kata lagi

Potret

Potret 22 small

Potret adalah cerita bersambung yang kurilis tiap akhir pekan di Storial.co. Awal mulanya hanya iseng. Bahkan bisa dibilang belum ada plotnya, aku hanya tahu bagaimana akhir hubungan Tatyana-Saddam, latar belakang keluarga Saddam, dan kenal baik banget dengan Tatyana. (lebih…)