Baca chapter dari #TimeAfterTime!

6 Mei 2015 § 42 Komentar

Pada akhirnya, apa yang dimiliki hanya kenangan.

Lasja ingat kenangan pertama yang tercetak jelas di benaknya. Warnanya belum kabur. Seakan baru terjadi kemarin, alih-alih belasan tahun lalu. Pada hari pertama masuk sekolah dasar, Lasja diantar oleh Ayah. Bangunan tua dan kelihatan seram, cat warna cerahnya sulit untuk mengusir persepsi itu dalam benak Lasja. Ibu-ibu berdiri di luar ruang kelas satu—ruangan yang ia tuju. Tangannya menggenggam erat jemari Ayah. Di belakang dan menempel pada Ayah, Lasja berjalan. Memandangi halaman sekolah yang ramai oleh anak-anak dari kelas lebih tinggi.

Ia mau masuk kelas setelah dibujuk Ayah akan diajak main ke pantai. Teman sebangkunya anak perempuan malu-malu dengan rambut dikepang dua bernama Effie. Gurunya, seorang perempuan muda yang ramah dan sering tersenyum. Namun, semua itu masih menyisakan kegundahan di hati Lasja. Beberapa menit sekali, ia mengintip keluar, lewat jendela di dinding kelas yang berwarna putih. Ayahnya masih ada.

Tangisnya hampir meledak saat wajah familier itu lenyap di antara sederetan orangtua yang melongok ke dalam. Ia menjadi sulit berkonsentrasi pada gurunya. Lasja memegang pensilnya begitu erat. Ia mau terus ditemani Ayah. Tiba-tiba, ia berlari ke luar kelas sampai membuat gurunya kaget. Ia celingak-celinguk di depan kelas. Meneliti satu demi satu orang dewasa yang ada di koridor itu.

‘Lasja, ada apa?’

Ayah menghampiri Lasja, wajahnya tampak cemas. Meski begitu, senyum tetap tersungging di bibirnya.

Ayahnya ada. Tak ke mana-mana. Namun, bukan hari ini.

Lasja tersentak. Suara yang melontarkan pertanyaan itu seolah memanggilnya dari dekat. Ia mengamati sekeliling. Orang-orang berpakaian hitam berkerumun. Berkumpul di bawah pohon-pohon kemboja yang mekar dan udara pengap sore hari. Lasja menghela napas. Menyadari betapa erat genggaman Effie di lengannya. Sahabatnya itu terisak pelan, terus menyeka wajahnya sejak tadi. Ia menepuk punggung tangan Effie, menyebabkan sahabatnya menangis lagi. Lasja menggigit bibir. Matanya sendiri kering tanpa air mata.

“Kamu sabar ya, Sja.”

Ah, orang kesekian yang mengatakan itu kepadanya. Ia menoleh, menatap kenalan ayahnya. Lasja balas tersenyum. Itu lebih baik daripada melihat orang menangis.

Orang-orang yang berdiri di sekitar Lasja semua sudah dikenalnya. Teman-teman satu tempat kerja Ayah, tetangga-tetangga, beberapa teman Lasja, kecuali seorang perempuan yang berdiri agak terpisah dari kerumunan. Matanya terlindung kacamata hitam, sebagian mukanya tertutupi syal yang dikerudungkan di kepala. Lasja menyipitkan mata, menebak-nebak siapa perempuan itu. Seolah perempuan itu sadar sedang diperhatikan, ia berbalik. Melangkah anggun meninggalkan lahan pemakaman.

Mungkin, ia hanya salah satu teman Ayah yang tidak Lasja kenal.

Lasja menatap nisan hitam yang dipancang di permukaan tanah. Nama ayahnya tertera di sana. Di kepalanya, Ayah sedang tersenyum. Bayangan Ayah masih begitu jelas. Apa yang membuatnya ketakutan adalah kalau suatu hari ia tak bisa mengingat dengan jernih sosok Ayah.

Ia berharap perpisahan ini tak perlu terjadi. Ayah tak usah pergi. Semua itu tinggal angan-angan. Yang sekarang tersisa hanya kenangan-kenangan. Lasja menghela napas panjang. Andai ia diberi satu kesempatan untuk mengunjungi
salah satu kenangan itu. Sekali saja. Untuk menyatakan betapa ia mencintai Ayah.

Sekarang, seakan-akan momen-momen yang diputar dalam kepalanya itu, mulai bersuara. Lasja bisa mendengar panggilan Ayah untuknya berulang dan terus berulang. Tangis Effie perlahan pudar. Hanya Ayah yang didengar Lasja. Pesan yang terngiang lagi. Pesan yang belum sempat Lasja tunaikan. Pesan yang sebenarnya terdengar agak menggelikan.

‘Bubuhkan nama Han Solo di nisanku ya, Lasja.’

**

Time After Time sudah beredar di toko-toko buku dan online!

Time After Time sudah beredar di toko-toko buku dan online!

« Read the rest of this entry »

#RabuMenulis spesial Time Traveler Series 25 Maret 2015

26 Maret 2015 § 1 Komentar

Time After Time sudah beredar di toko-toko buku dan online!

Time After Time dari Time Traveler Series Gagasmedia sudah beredar di toko-toko buku dan online!

Tanggal 25 Maret jadi hari bersejarah untuk… semua peserta #RabuMenulis, karena sesuai tema yang aku berikan: harus menulis cerita tentang time travel dan mengalami kejadian penting di masa lalu. Serta, media ke masa lalu wajib menggunakan kompas.

Banyak flash fiction yang masuk untuk event menulis cuma dalam setengah jam ini! Keren-keren ya. Semua flash fiction yang di-share kemarin akan aku kompilasi di sini. « Read the rest of this entry »

Potret

18 Januari 2016 § 2 Komentar

Potret 22 small

Potret adalah cerita bersambung yang kurilis tiap akhir pekan di Storial.co. Awal mulanya hanya iseng. Bahkan bisa dibilang belum ada plotnya, aku hanya tahu bagaimana akhir hubungan Tatyana-Saddam, latar belakang keluarga Saddam, dan kenal baik banget dengan Tatyana. « Read the rest of this entry »

Berburu Pangeran

17 Januari 2016 § 1 Komentar

richard madden prince charming

Richard Madden sebagai Prince Charming di Cinderella 2015. Cakepnyaaaaaa.

Malam lalu, ketika berbaring dalam kegelapan, pikiran ini merasukiku. Selama empat bulan terakhir, aku mengerjakan cerita tentang keluarga kerajaan dan bangsawan. Lalu, beberapa waktu lalu, aku membaca cerita tentang pangeran gitu yang kabur dari kerajaannya karena menolak nggg dijodohkan. Mungkin itu berlanjut jadi cerita yang bagus, tapi jujur saja bikin aku mengernyitkan dahi. Karena, bagaimana seorang pangeran nggak bisa menghadapi masalah seperti itu? Apalagi, kalau perjodohan itu berkaitan dan beralasan politis/ekonomi, bisa saja si keluarga/kerajaan putri yang akan dijodohkan merasa dilecehkan harga dirinya. Dan apa… perang atau banyak implikasi yang kurang baik lainnya.

Bagi kamu yang suka sejarah atau nonton miniseri bersetting masa-masa kerajaan gitu, pasti tahu betapa dramanya menjadi bagian dari keluarga kerajaan. Bersaing mendapatkan takhta. Kehidupan yang nggak sebebas merpati. Harus mau dijodohkan atas nama stabilitas politik dan perjanjian ekonomi. Dan bla bla bla lainnya.

Jadi, dari apa yang aku kumpulkan selama beberapa bulan terakhir, aku pengin sekali menulis tentang…, kalau kamu menulis kisah tentang cinta bersama pangeran–aku akan memberi tips. Sehingga ceritamu lebih berlapis, lebih terasa realistis (sesuaikan dengan periode). Tapi, sesuai judulnya, ini berburu pangeran, dan nggak bisa dibalik. « Read the rest of this entry »

Montase

12 Januari 2016 § Tinggalkan komentar

(sumber: foodiecrush.com)

(sumber: foodiecrush.com)


 

“Only the dead have seen the end of war.”

– George Santayana


 

1998 a.t.b.

“Kamu nggak mungkin jadi astronaut.”

Kalimat itu diucapkan jujur, meski tidak begitu polos. Sejenak dan kesunyian kembali melingkungi di antara rak buku-rak buku raksasa dan pilar-pilar pualam yang menyangga atap penuh lukisan indah. Cahaya matahari pagi menerobos jendela besar, menggarisi permukaan Perpustakaan Istana Pendragon yang mengilat.

“Kakekku menyetujui program Prometheus untuk misi ke Mars. Mereka akan memulai segera,” jawab Schneizel acuh tak acuh. Tubuh bocah delapan tahun itu menengkurap di lantai marmer. Tak peduli meski dingin menggigiti kulitnya.

“Aku sudah membaca mengenai proyek tersebut. Tapi Maharaja pasti menginginkanmu menjadi diplomat, gubernur, atau perdana menteri.” Anak lelaki yang berdiri di belakang Schneizel kembali bersuara. Merecoki. Kacamata tebal dan besar menggantung di wajah mungilnya. Sambil bersandar ke tangga kayu di samping rak buku, dia agak menjinjit untuk melihat lebih jelas apa yang sedang digambar sang pangeran.

“Dua puluh tahun lagi, Asplund, mereka sudah bisa mendirikan istana dan sekolah di sana. Aku akan jadi Gubernur Koloni Mars. Aku akan membangun pesawatku sendiri. Yang besar. Yang bisa memuat banyak orang. Kamu akan jadi kepala divisi riset teknologiku.” Schneizel menanggapi sekenanya. Jari-jarinya menggerakkan pensil. Sesekali menghapus garis yang sudah ada. Menambahkan setrip lain hingga citra itu kini agak tampak bentuknya. « Read the rest of this entry »

Sosok ‘Ayah’ dalam Time After Time

27 November 2015 § Tinggalkan komentar

Time After Time sudah beredar di toko-toko buku dan online!

Time After Time sudah beredar di toko-toko buku dan online!

Sejujurnya, aku nggak terlalu ingat dari mana karakter ‘Ayah’ ini muncul. Sepertinya sih dari kebutuhan cerita aja, tapi kemudian jadi karakter favoritku dalam novel ini. Plot beliau yang berbohong sampai meninggal kepada anaknya agar anaknya nggak membenci perempuan yang dicintainya–itu bagian paling kusuka dari Time After Time sendiri.

Sebelum-sebelumnya, aku jarang menulis tentang keluarga, terutama hubungan anak dan orangtuanya. Di novel Time After Time, tentu saja karakter ‘Ayah’ atau Dimas sedikit banyak terinspirasi oleh ayahku sendiri. Di salah satu draf awal, Ayah lebih punya banyak adegan daripada versi terbitnya. Ada interaksi-interaksi dengan Lasja sebelum beliau meninggal, kemudian ketika sakit, dan akhirnya meninggal. Bahkan sakitnya beliau juga aku ambil dari sakit yang menimpa ayahku sendiri.  « Read the rest of this entry »

sekakmat

31 Oktober 2015 § Tinggalkan komentar

hasil ngobrol dengan karakter yang lagi dikerjain, eh ditulisin.


Knight-chess

“Pernahkah kamu berada di sebuah momentum….”

Dia menginterupsi kata-kataku sesaat dengan memajukan bidaknya satu langkah. Aku bergeming. Pionku berseberangan dengan miliknya. Dia berusaha membuatku untuk melahap pionnya. Tapi…, matanya singgah di pandanganku lagi.

“Hmm… momentum ketika kamu menyadari jika kamu jatuh cinta dan ketakutan pada saat bersamaan?” tanyaku, mendorong bidak hitamku dengan ujung telunjuk hingga posisinya bersisian.

Dia memangku wajah. Memasang raut itu lagi. Jenuh. Hanya butuh sepuluh detik dan dia mendorong bidaknya yang lain.

Sial. Cepat amat. « Read the rest of this entry »

chrysanths

26 Oktober 2015 § Tinggalkan komentar

Chrysanthemum-

Pada suatu pagi, aku akan tahu siapa yang sesungguhnya kamu cintai.

Kursi kita bersebelahan di sebuah balkon. Menghadap ke hamparan ladang bunga yang berbaris lurus-lurus. Merah, jambon, kuning, jingga, biru. Berselang-seling, menyemarakkan permulaan hari yang diselimuti halimun.

Kamu menggenggam mug berisi teh. Ada ekspresi spesial setiap kali kamu mengambil teguk pertama dari teh yang kuseduhkan. Pendar di matamu, kecap lidahmu, dan gerak bibirmu. Lalu kamu akan tersenyum kepadaku dan memuji: ‘ini teh terenak di dunia‘.

« Read the rest of this entry »

elevator.

15 Oktober 2015 § Tinggalkan komentar

Sebagian perangkat cerita aku pinjam dari anime Code Geass. Bisa dibaca tanpa harus mengerti Code Geass kok dan nggak ada spoiler-nya. Inspirasi ceritanya dari Iif yang nyodorin lagu Elevator-nya Jonghyun buar didengerin. 


Perpisahan itu diawali dengan sebuah ciuman. Milly tahu saat bibir mereka berpisah—tak perlu ada sepatah kata lagi. Kakinya bergerak, dia memutar tubuh, memunggungi lelaki itu. Dia tak mau memandang matanya terlalu lama, atau dia akan tertinggal elevator yang siap membawanya pergi.

Milly melangkah ke dalam lift yang kosong dengan wajah tertunduk. Dia melangkah sampai ke sudut. Kedua matanya terpejam, namun bayangan pertemuan tadi tak mau lesap. Perih itu mengerubungi matanya, mendesak untuk mencurahkan air yang tertahan di sana. Kepalanya tengadah. Dia menelan ludah. Jejak mint dari bibir pria itu masih tersisa di ujung lidah. « Read the rest of this entry »