Danyang

14 Juli 2013 § 4 Komentar

Cerpen finalis event #ProyekMenulis Kejutan Sebelum Ramadhan @nulisbuku. Dimuat dalam buku antologi “Kejutan Terbaik Sebelum Ramadhan”.

**

Apakah dia danyang?

**

Benjamin menempati salah satu meja restoran itu. Letak restoran di atas bukit membuatnya bisa melihat jauh ke depan. Pada Borobudur yang kakinya masih berselimut kabut. Ia terbiasa sendiri sejak beberapa tahun lalu. Hitungannya teramat jelas dalam benaknya, delapan tahun. Di momen itulah Benjamin menemukannya—sosok yang membuatnya tak pernah alpa akan hitungan tahun yang ia miliki.

Seseorang yang seharusnya sudah mati.

Sebelum sosok itu beranjak pergi, Benjamin sudah menghampirinya. Nama itu pernah begitu akrab, namun seiring waktu lenyap seperti keberadaan pemiliknya. Nyatanya, nama itu masih begitu mudah terucap dari bibir Benjamin.

“Jayton?” « Read the rest of this entry »

(Obat) Penawar Jatuh Cinta

17 April 2014 § Tinggalkan komentar

Adis:

Iseng nyumbang judul buat @kopilovie, eh dibikinin flash fiction beneran. Ah!

Originally posted on Kopilovie Official:

Sore itu, gerimis turun membasahi jendela coffeeshop –muram serupa air mata yang kerap mengalir dari sepasang matamu. Aku duduk terpaku di meja paling sudut, tempat favorit kita, memandangi manik mata yang sama sekali tak menatap padaku. Sepasang indera penglihatan itu dulunya penuh binar-binar bercahaya, namun kini hanya mampu memberikan pandangan kosong pada secangkir kopi hitam pesananmu, yang bahkan nyaris mendingin di cangkirnya.

“Aku ingin berhenti jatuh cinta,” ucapmu suatu hari, dan kini kamu ulangi untuk kesekian kalinya.

Aku tak punya jawaban bagus untuk menentang kalimatmu, walau pun aku ingin. Sangat ingin. Bagaimana mungkin perempuan secantik kamu ingin berhenti menjatuhkan hati? Bagaimana mungkin, perempuan penuh cinta sepertimu malah ingin berhenti jatuh cinta?

“Aku ingin berhenti jatuh cinta,” ucapmu, ketika air mata itu jatuh lagi, bersamaan dengan nyanyian Adera yang menggema dari speaker sialan itu. Aku tahu kamu benci sekali lagu ini. Setidaknya, semenjak…

View original 703 more words

Levi dan Raja Bajak Laut

16 April 2014 § Tinggalkan komentar

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Proyek Menulis Letters of Happiness: Share your happiness with The Bay Bali & Get discovered!

01

 

« Read the rest of this entry »

Rindu

11 April 2014 § Tinggalkan komentar

Di sana ada pantai. Di sana ada ladang. Aku di antaranya, berdiri. Menatap bolak-balik. Berpijak pada pasir yang menggelitik. Aku seharusnya pergi. Sesuatu memakuku di sini, menjadikanku arca batu.

Kau lihat langit yang biru? Warnanya berganti-ganti. Tanya kepada mereka yang terobsesi pada rona. Biru yang ini. Biru yang itu. Bagi kita, ada kesepakatan hanya ada satu biru. Yang seperti matamu.

Kau lihat lautan yang biru? Warnanya kerapkali berubah. Karena dasarnya yang makin jauh. Sebab cahaya yang gagal terus menempuh. Bagi kita, semua adalah samudera. Sambung-menyambung, saling bicara dan
berkabar lewat angin dan ombak. « Read the rest of this entry »

Surat Tiga Puluh: Selamat Tidur (Tamat)

5 April 2014 § Tinggalkan komentar

Adis:

Setelah tiga puluh hari, tiga puluh surat, akhirnya sampai juga ke surat terakhir. Cukup enjoy juga nulis surat-suratnya Asha ini dan aku cinta Lazarus. Haha. Ah, kalau kamu ngerasa surat ini berakhir ngegantung, ending ceritanya bisa baca di surat-surat punya Biru. :)

Originally posted on Belantara Rasa:

Hai Biru,

Aku kira bahagia bisa membuatku terlelap.

Ini malam-malam yang lain ketika aku cuma bisa gelisah di atas tempat tidur. Memandang sepetak langit dari sela-sela kerai yang tak tertutup rapat. Aku bilang aku akan tidur kepada Lazarus. Aku tidak mau membiarkannya terjaga setiap saat, dia lebih butuh istirahat dibanding aku.

Dia melamarku tadi, Biru. Kami makan malam seperti biasa. Segalanya berjalan biasa-biasa saja hari itu. Lazarus pulang agak telat karena harus pergi ke kota untuk mengurus beberapa hal. Dia menanyakan, jauh dari romantis, apakah aku pernah memikirkan untuk menikah dengannya. Dia bilang kami sudah lama bersahabat, berbagi banyak hal, menertawai hal yang sama, dan sekarang mengurus perkebunan yang sama. Menurutnya, akan lebih baik kalau kami menikah saja.

Dia bahkan tidak menggunakan kata-kata cinta atau sayang.

Dia menambahkan sudah bertanya ke kakek, orang tuanya, bahkan Bhawa. Aku orang terakhir yang diberitahunya tentang itu.

Permintaan itu dia tutup dengan pernyataan kalau…

View original 142 more words

Waktu

28 Maret 2014 § 5 Komentar

Jadi, dua hari ini ada tiga temanku yang ulang tahun. Mereka ngadain giveaway berhadiah buku-buku keren. Caranya bikin dialog dari gambar yang mereka kasih. Karena aku nggak suka gambarnya, jadi aku pilih gambar sendiri dan nulis dialog-dialog ini sebagai hadiah ulang tahun untuk mereka. Karena itu… tulisan ini nggak diikutin kompetisi kok. Ada tiga gambar, tiga dialog yang masing-masing kurang dari 250 kata. Selamat ulang tahun Danissyamra, Momo DM, dan Rido Arbain! Waktu nggak akan ke mana-mana! Semoga kalian bertiga suka! :D « Read the rest of this entry »

Surat Enam Belas: Fiksi

21 Maret 2014 § Tinggalkan komentar

Originally posted on Belantara Rasa:

Hai Biru,

Itulah mengapa hidup disebut realitas, karena terlalu banyak kebetulan, terlalu menumpuk hal-hal yang datang tanpa diduga.

Lelaki itu—kamu tahu siapa dia—percaya kalau dirinya hidup dalam kepala orang lain. Dalam kisah yang sengaja ditulis dengan dirinya sebagai karakter. Bahwa dirinya adalah bagian dari grand design dari para kreator. Bahwa kita adalah fiksi dalam realitas semesta yang lain.

Dia bilang padaku, setengah mabuk karena kokain yang dihirupnya. Justru aku merasa pada saat itulah dia paling sadar.

Dan aku menemukanmu. Di kedai kopi yang kamu sebut rumah keduamu. Semudah itu. Aku berdiri di depanmu hingga kamu menyilakanku duduk. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan atau kukatakan.

Karena hanya satu: jangan pedulikan Bhawa.

Kamu mengangguk, setelah mematung beberapa saat. Akhirnya aku bisa tersenyum kembali seraya memandangi hujan yang jatuh di luar sana. Kubisikkan ucapan terima kasih kepadamu atas bunga dan pai yang kamu tinggalkan. Belum pernah aku menerima perlakuan semanis itu.

Dulu…

View original 253 more words

Surat Lima Belas: Tamu

21 Maret 2014 § Tinggalkan komentar

Originally posted on Belantara Rasa:

Hai Biru,

Pagi itu aku mendapatkan seorang tamu. Seseorang yang tak kukenal, namun mengenalmu. Malika. Dia mengucap namanya sembari memekarkan senyum.

Dia bilang dia adalah seseorang yang dekat denganmu. Aku membuktikannya sendiri ketika melihatmu mengantarnya ke depan pintu. Dia memberimu ciuman di pipi dan memelukmu begitu erat. Aku mengintip semua itu dari balik pintu kamarku dengan perut bergejolak. Dan tepat sebelum perempuan manis itu berbalik pergi, ada air mata jatuh di pipinya.

Sisa hari itu, aku bersikap pura-pura tidak tahu. Aku tidak ingin mencampuri urusanmu. Aku tidak mau tahu. Namun, aku tidak mengingkari risau yang merambati hatiku.

Sebelum aku berangkat bekerja, kamu menarikku ke teras belakang. Minta maaf karena tidak jujur tentang Malika. Kamu mengaku tidak pernah menginginkan perempuan mungil itu. Bhawa yang membuat kalian harus mau tidak mau bersama.

Aku tidak tahu harus membalas apa. Aku meninggalkanmu tanpa komentar. Aku tidak marah. Aku bahkan tidak peduli dengan Malika. Aku…

View original 253 more words