Menunggu

25 Desember 2011 § 3 Komentar

Kemudian, 45 menit itu berubah menjadi tiga jam.

Buket bunga mawar besar di tanganmu masih segar dan wangi. Jasmu tetap utuh kerapiannya. Berdirimu masih sama di posisi tadi. Pun aku tak beranjak dari dudukku sesenti pun.

Kita sama-sama menunggu. Siapa pun dia, pastilah kamu sangat mencintainya. Siapa pun yang kutunggu sekarang, sudah pasti menjadi bukti betapa aku setia.

Waktu begitu enteng melangkah, tiga jam itu bergeser menjadi lima jam. Mungkin kedatangan pesawat yang mengangkut kekasihmu itu tertunda. Bisa jadi yang berjanji menjemputku sekarang terjebak macet di jalanan.

Selama itu aku tidak jemu memperhatikanmu. Dari balik pilar yang cukup menaungi keberadaanku, aku menatapmu penuh prihatin. Terbersit pertanyaan dalam benakku, ‘Sampai kapan kamu mau menunggu?’. Selanjutnya aku sadar jika aku menjawabnya sendiri. Seolah-olah pertanyaan itu memang dilontarkan padaku. “… Hingga dia datang padaku,” jawabku lirih.

‘Meski selamanya harus menunggu?’ hatiku bertanya lagi.

‘Mungkin tidak selamanya, aku yakin dia akan segera datang,’ balas hatiku. ‘Dia harus segera datang dan kamu sebaiknya segera menyadari bahwa mungkin orang yang ditunggunya tidak akan datang,’ bilangku panjang lebar dalam hati.

‘Bagimana kamu bisa seyakin itu?’

Binar mataku yang redup kemudian menyala terang saat melihat sosok yang berjalan ke arahku. Aku melirik padamu yang masih menunggu. Penantianku telah bermuara sekarang pada pria dengan setelan jeans dan t-shirt itu. Kusambut pria itu dengan sumringah. Memberinya pelukan, kecupan di pipi dan sekilas kubiarkan dia mencium bibirku.

“Sesungguhnya aku ingin mencecap bibirmu lebih lama,” bisikku padanya ketika kami melangkah menuju lobi bandara.

“Mengapa tidak kita lakukan saja?” tanyanya sambil curi-curi mencium pipiku.

“Dia di sana.” Aku menyempatkan menengok kamu saat melewati ambang pintu kaca.

“Siapa?”

Kamu masih di situ. “Suamiku.”

“Kita bisa melanjutkan itu nanti, Sayang,” katanya dengan genggaman yang mengerat di tanganku. “Aku sudah terlalu lama menunggumu kembali.”

Bogor, 25 Desember 2011

§ 3 Responses to Menunggu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Menunggu at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: