Surat Senja

28 Januari 2012 § 3 Komentar

Suratmu menjemputku pulang. Beserta selembar kertas yang tertera fotomu dan sebuah pesan pendek di akhir surat.

Aku kembali.

Ibu kota menyambut kedatanganku dengan keriuhan hujan. Namun tujuanku bukan kota penuh sesak yang pernah kita tinggali bersama ini. Aku masih berdiri di peron, menanti kereta lain datang dan membawaku kepadamu.

Lewat pilar-pilar hijau yang menyangga atap stasiun ini, langit tampak begitu murung. Bisa jadi sama muramnya dengan air mukaku sekarang akibat resah yang melanda untuk pertemuan kita nanti. Bunyi-bunyian khas stasiun berdentang disusul suara gemerisik dari pengeras yang memberitahukan sebentar lagi kereta yang kutunggu akan datang.

Aku berdiri bimbang. Diterpa angin senja yang menerbangkan dingin dan bulir air. Antara tetap di sini atau datang padamu. Mataku menatap ujung kereta yang memasuki stasiun. Senyumku mengembang pelan, ingat saat kamu pernah bertanya padaku, ‘Kepala kereta yang mana sih?’.

“Dia yang memandu perjalanan,” jawabaku.

“Berarti kereta punya dua kepala?”

“Ya, tergantung arahnya. Beda kepala, beda arah,” jelasku asal-asalan.

“Berarti seperti satu tubuh dengan dua kepala….”

“Ah, pokoknya di gerbong depan yang ada masinisnya!” ujarku agar kamu berhenti melontarkan pertanyaan yang aku tahu akan terus bersambung itu.

Kamu tertawa, gelakmu itu terngiang-ngiang di telingaku di antara gemuruh hujan dan deru kereta yang baru saja berhenti. Tawamu bahkan terus terdengar sampai aku melangkahkan kaki ke dalam gerbong yang dibeli pemerintah kita dari Jepang itu.

Kenangan lain menyerbu di sini—mungkin ini kereta yang berbeda dengan yang pernah kita naiki dulu—tapi deru AC, wangi pengharum ruangan, jejeran kursi, dan deretan jendela tak berubah. Aku mengisi sebuah ruang kosong di samping seorang perempuan muda yang sedang membaca buku. Kereta itu mulai bergerak lagi, membawaku ke kota lain yang pernah kita nikmati bersama.

Mataku berarak ke jendela seberangku, memandangi langit yang kelabu di antara gedung-gedung bertingkat. Menuntun bayanganmu kembali turun—aku seolah melihatmu duduk di bangku di depanku. Kamu yang selalu bahagia saat hujan turun di sore hari—sebab kamu adalah si pecinta pelangi.

Puluhan pelangi sudah kita lihat berdua. Di bawah payung yang didera gerimis, di balik kaca kendaraan yang kita naiki, di teras kamar kostku, di kaki Gunung Salak, dan tentunya di kereta ini. Waktu itu kamu menggenggam tanganku dengan raut penuh pendar bahagia. Kamu mengoceh tentang para Leprechaun yang menyembunyikan harta di ujung busur pelangi. Lainnya, kamu bercerita tentang peristiwa agung—pelangi yang muncul atas kehadiran tetes hujan, sinar matahari, dan langit yang masih kelabu di sisi lainnya.

“Tiap pelangi istimewa untuk setiap mata. Berbeda.”

Kalimatmu itu menggaung lagi dalam kepalaku. Seperti kita yang berbeda memaknai senja—aku yang tidak menyukai pelangi karena menggeser pulas-pulas oranye di langit sore.

“Kamu sadar? Setiap pelangi datang langit di belakangnya kelabu. Aku tidak suka itu. Aku mencintai senja yang bersemu oranye, bersemburat lembayung. Keduanya tidak bisa tampil dalam satu langit yang sama.”

“Bisa bergantian….”

“Ya… tapi tidak bersama dan mereka bukan pelengkap.”

“Senja meriah itu mengerikan, seperti api yang melalap langit hingga sehitam arang. Aku lebih suka pelangi yang ditemani langit kelabu, seolah langit yang menutup panggung hari dengan akhir penuh warna. Bahagia. Harapan,” katamu berapi-api.

“Kamu selalu mengingatkanku pada langit senja… merah membara,” bilangku seraya memandangmu lekat-lekat.

Kamu tersipu dan memalingkan wajahmu dariku.

Bayangan rona merah jambu itu terganti dengan pemandangan jendela yang berserabut titik air. Kelihatannya hujan sudah menipis di luar sana. Bangunan-bangunan tinggi sudah tergantikan oleh jalan raya, lalu rumah-rumah, serta bentangan sawah. Di beberapa titik, awan gelap menyingkir dan memberikan celah agar sinar matahari bisa tumpah ke tanah.

Aku berpikir, bagaimana cuaca di Kota Hujan nanti? Sebab perjalanan dari kereta ini masih harus disambung dengan angkutan lain untuk sampai padamu. Aku tidak ingin basah, aku tidak mau kamu mengira aku menangis.

Kukeluarkan lagi suratmu dari dalam tasku. Kertas putih itu berhias tulisan tegak bersambungmu yang mirip sekali tulisan-tulisan jaman dahulu. Meskipun sekarang sudah sampai di masa ketika merangkai kata lewat sentuhan layar, aku yakin kamu masih memilih pena-penamu. Tulisanmu masih indah seperti dulu. Indah layaknya tulisan di akhir surat.

Aku menunggu kedatanganmu. Aku yang masih selalu mencintaimu. Selalu.

Hari itu kita berpisah di stasiun kereta yang penuh pilar hijau. Aku berdiri di ambang pintu dan kamu di lantai peron. Kita saling menatap dengan sorot mata penuh rindu. Belum berpisah pun kita sudah saling rindu. Aku meraih tanganmu, memeluk jari-jemarimu.

“Jangan pergi…,” ujarmu dengan tercekat.

Kulihat matamu yang berkaca-kaca.

“Aku harus pergi….”

Satu tubuh tak akan sanggup menampung dua kepala yang ingin melaju ke arah berbeda. Satu langit tak mampu menampilkan pelangi dan oranye cerah di senja yang sama.

“Aku sudah memilih. Maafkan aku,” bilangku pelan.

Suara peluit mengiringi kata-kataku barusan.

“Aku akan menunggu. Aku menunggu.”

Peluit lain melengking nyaring. Terakhir kalinya kita saling bersitatap. Sangat sebentar sekali—aku tidak sanggup melihatmu bercucuran air mata. Aku tidak ingin kamu melihatku menangis untukmu.
Namun aku tetap tak bisa membendung air yang mengalir pelan lewat sisi mataku. Bahkan langit tidak mencoba menghibur kita dengan pelangi atau langit senjanya. Diturunkannya gerimis senja itu, ia menangis untuk perpisahan kita.

Aku kembali.

Kereta itu mencapai pemberhentian terakhirnya, Stasiun Bogor. Masih tersisa gerimis di sini, setelah tampaknya tadi hujan deras melanda. Aku mempercepat langkahku keluar dari stasiun itu. Sesegera mungkin menuju padamu.

Saat aku tiba di tempat yang kamu tulis dalam suratmu untuk bertemu. Aku sejenak diam di tepian trotoar ini. Memandangi rententan kendaraan yang tak habis. Mengamati genangan air yang memantulkan langit kelabu. Aku mendongak kepada atap dunia itu—abu-abu. Tapi langit tak sepi, berkas cahaya dengan garis warna yang tersusun teratur ada di sana. Membusur, menjemput para bidadari turun, memberi tahu para pemburu harta Leprechaun. Buatku, ini memang pertanda jika hari ini adalah harimu.

Pelangi itu milikmu, bersanding dengan sisa-sisa mendung, bukan langit oranye.

Aku berbalik dan melangkah menuju gedung tersebut. Jantungku terpacu setiap langkahku membawaku mendekat. Kamu yang berkata masih selalu mencintaiku berada di sana, menunggu kedatanganku di hari pernikahanmu dengannya.

Bogor, 28 Januari 2012
Terinspirasi dari tweet pak @bukik sore tadi. Ditulis untuk #proyek27.

§ 3 Responses to Surat Senja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Surat Senja at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: