Cokelat

31 Januari 2012 § Tinggalkan komentar

Sepagi ini, cokelat, gerimis, dan pelukanmu.

Remah-remah cokelat mengotori jari-jariku dan permukaan ranjang ini. Kamu masih setengah terpejam, melingkarkan tanganmu di tubuhku dan menyandarkan kepalamu di atas dadaku. Sesekali aku menyuapimu dengan potongan cokelat. Kali lainnya aku meletakkan cokelat itu di ujung bibirku dan memintamu mengigitnya.

Kamu menoleh dan memandangiku, lalu mendekatkan bibirmu padaku. Aku merasakan bibirmu menyentuh milikku dan perlahan menarik cokelat itu lepas. Selanjutnya rasa cokelat itu sudah menyebar ke seluruh mulutku.

“Lebih enak kalau aku memakannya sendiri,” candaku setelah itu.

Kamu terkekeh, “Kupikir juga begitu. Rasa odol lebih enak ternyata.”

“Iya, dibanding rasa soto koya atau rasa kopi,” sambungku kemudian.

Kita berdua tergelak sehabis itu. Kutorehkan sisa cokelat di tanganku ke wajahmu. Membuatmu akhirnya benar-benar bangun sambil menggosok-gosok kesal wajahmu. Sedangkan aku hanya tertawa-tawa melihatmu.

“Jangan terlalu banyak mencintaiku. Seperti cokelat ini, terlalu banyak membuatnya kehilangan manis,” bilangku sambil menyuapkan cokelat ke mulutnya.

“Hmm…,” katamu sembari mengunyah cokelatmu, “kalau begitu, aku akan mencintaimu secukupnya saja. Sekadarnya saja. Meskipun aku yakin kamu tak pernah merasa cukup….”

Bogor, 31 Januari 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Cokelat at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: