Liburan

1 Februari 2012 § 3 Komentar

Revisi, ya pada hari libur seperti ini. Pada akhirnya, aku memutuskan untuk bekerja di luar rumah. Di kedai kopi langganan, setidaknya ketika kamu bosan, kamu bisa keluar dari tempat ini dan berkeliling di mall. Sekarang, kepalamu bersandar di bahuku kiriku, kedua matamu fokus kepada lembar-lembar novel yang sedang kamu tekuni.

Aku menarik napas panjang, menyambar gelas kopiku lagi dan menatap nanar desain itu. Kemudian gelas itu kamu renggut dari tanganku. Aku menoleh padamu yang tersenyum padaku sembari meneguk cangkir itu.

“Kapan kita liburan?”

“Apa?” tanyaku.

“Seperti mereka,” katamu sambil mengarahkan pandangan ke pasangan backpacker di ujung ruangan.

Aku melihat ransel-ransel berat mereka digeletakkan di lantai. Pasangan itu tertawa bebas—mungkin sedang merencanakan rute perjalanan terbaru mereka. Alangkah menyenangkan.

“Hmm….” Kembali aku melayangkan pandanganku kepada desainku, mencoba berkonsentrasi lagi.

“Ya… ya… yang kamu bisa cuma ‘hmm…’ setiap kali.”

Sekali lagi aku menghela napas berat, melirik kamu yang sekarang bertopang dagu.

“Nanti ya, kalau proyek yang ini selesai. Aku cuma bikin desain aja kok,” jelasku ragu-ragu.

Dalam kepalaku terlintas, betapa aku pernah bercita-cita menjadi petualang seperti pasangan itu. Berkeliling dunia, melihat berbagai tempat, dan menikmati tiap arsitektur yang berbeda-beda. Ah, ya, kembali lagi ke sana—arsitektur. Sekarang aku di sini menekuni karirku sebagai arsitek dan untuk kali ini menyelesaikan rancangan rumah.

“Aku gak bisa janji….” Akhirnya aku mengucapkan itu sambil berharap tidak melihat ekspresi kecewa di wajahmu.

“Aku tahu kok.” Kamu menggenggam tanganku seraya tersenyum simpul. “Bersamamu di sini itu cukup. Apa gunanya liburan kalau hanya sendiri?”

Pasangan backpacker itu melintas di depan meja kita. Dengan jelas aku bisa melihat tangan si pria menggenggam erat tangan pasangannya. Pada saat bersamaan, aku merasakan genggaman tanganmu di antara jari-jariku.

“Ah, lihat dua perempuan di sana. Lihat yang berjilbab itu menangis?” ujarmu kemudian.

Aku mengangguk ketika menemukan dua perempuan yang tampak bicara serius di sisi ruangan.

“Lain kali, berjanjilah yang bisa kamu tepati untukku. Agar aku tidak menangis seperti itu. Kalau tidak aku akan menguburmu di bawah reruntuhan gedung yang kamu desain sendiri—”

Kuhentikan kata-katamu dengan mencium bibirmu sekilas.

“—dalam ceritaku selanjutnya,” lanjutmu terbata.

“Kamu tidak akan tega melakukan itu…. Kamu terlalu manis untuk menulis seperti itu bahkan dalam ceritamu,” bisikku padamu. “Tulislah sesuatu tentang kita. Sesuatu yang manis dengan setting Maldives mungkin….”

Kudengar getar tawamu. “Ya, kamu benar juga. Akhirnya kita bisa berlibur. Meskipun hanya dalam cerita.”

“Ya, di mana pun itu, asalkan bersamamu,” bilangku, lalu kucium bibirmu lagi, sedikit lebih lama. Namun aku ingin selamanya.

Februari, 1 2012

§ 3 Responses to Liburan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Liburan at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: