Tidak

2 Februari 2012 § 2 Komentar

Aku memasuki kedai itu sambil bersungut-sungut. Hampir saja kubanting pintu kedai kopi itu kalau saja aku tidak menyadari di belakangku ada pengunjung lain yang akan masuk. Seraya membenahi posisi tas selempang di bahuku, sekali lagi dengan ceroboh aku nyaris menjatuhkan buku-buku tebal dalam genggamanku sekarang. Terburu-buru aku menuju konter dan memesan americano.

Celingak-celinguk aku mencari sofa kosong—aku sedang tidak ingin duduk di kursi kayu. Aku ingin duduk dan merebahkan tubuhku serta mengistirahatkan pikiranku. Satu-satunya sofa kosong terletak di sebelah pasangan yang errr… sedang dimabuk cinta. Mengapa mereka harus pamer kemesraan di tempat umum seperti ini? Dikiranya kamar pribadi ya? Aku mendengus kesal, tapi tetap berjalan ke sofa yang terletak persis di sebelah meja yang ditempati pria berkaos biru dan perempuan dengan rok kuning itu.

Aku duduk seraya melihat pasangan itu berciuman mesra. Iya, iya, berciuman sepagi ini, di depanku, di depan seluruh pengunjung kedai. Awas saja kalau mereka saling memagut sekali lagi, akan kulemparkan isi gelasku kepada mereka. Aku menyalakan laptopku sambil membuka buku-buku tebal itu. Kupijat-pijat keningku yang terasa pening—makalah sialan, kenapa aku bisa lupa?!

Setelah pasangan backpacker ribut itu melangkah keluar dari kedai ini, suasana ruangan itu lebih hening dari sebelumnya. Pasangan di sebelahku kini sama-sama diam, si kaos biru sibuk dengan laptopnya, si perempuan asik membaca. Ah, lihat tangan mereka yang saling bertautan di bawah meja.

Aku mengempaskan tubuhku ke punggung sofa, mengigiti kuku jari tangan kiriku dan menatap pilu telapak tangan kananku. Aku bahkan sudah lupa kapan terakhir kali digenggam semanis itu oleh seorang kekasih.

Bahkan barista itu punya kekasih—mereka sekarang sedang berhadapan di konter. Lalu, teman kasirnya yang tersenyum-senyum menghadap layar ponsel. Lainnya, pasangan seumuranku di sebelah sana saling menatap, tersenyum, dan bicara pelan-pelan. Pasangan lain lagi—mereka yang berkacamata dan tampak mirip—berbicara sesuatu yang seru. Ya, ada juga yang datang sendiri, tapi kelihatannya mereka tidak kesepian dan kebingungan seperti aku. Tidak peduli dengan cinta-cinta yang bergulir dalam ruangan ini. Tidak iri dengan betapa mesranya pasangan yang duduk di sampingku.

Sekarang si pria berkaos biru mencium punggung tangan pasangannya. Aku kian resah, menggosok-gosokkan kedua tanganku. Sama sekali aku tidak bisa berkonsentrasi dengan apa yang seharusnya aku kerjakan. Aku merasa salah datang ke tempat ini.

“Ini untuk, Mbak.”

Aku hanya melongo ketika seorang perempuan menyapaku dan mengangsurkan piring kecil berisi chocolate cake.

“Apa-ini?” tanyaku tergagap.

“Ini hari ulang tahun kekasihku.”

“Lho kok sendiri, kekasihnya mana?” Pertanyaan itu meluncur begitu saja dariku kepada perempuan berwajah sendu itu.

Perempuan itu tersenyum, agaknya ragu untuk menjawab. “Pergi, Mbak.”

“Per… gi?” Kata itu terucap lirih dari bibirku. Belum sempat aku bertanya lebih banyak, perempuan itu sudah meminta izin untuk berlalu. Mataku masih mengikuti gerak perempuan itu ketika memberikan piring berisi chocolate cake lainnya ke meja sebelahku.

Aku menghela napas panjang sambil menyendok chocolate cake itu. Seharusnya semalam kamu tidak perlu memberi kejutan seperti itu. Kita sudah lama menjadi sahabat, mengapa kemudian harus berubah? Seharusnya, aku tidak melupakan makalah ini. Semua berantakan, terasa begitu amburadul, namun aku… tidak ingin kamu pergi dariku.

Buru-buru aku membereskan laptop dan buku-bukuku. Kali ini karena terlalu tergesa aku menjatuhkan salah satu bukuku di dekat kaki si pria kaus biru. Ia membantuku mengambilkannya dan tersenyum tulus. Aku bahkan tidak sempat membalas senyumnya karena ingin segera bertemu denganmu. Aku harap kesempatan itu masih ada, kesempatan yang kamu tawarkan semalam untuk menjadi istrimu.

Bogor, 2 Februari 2012

§ 2 Responses to Tidak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Tidak at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: