Juni 2004

17 Februari 2012 § 1 Komentar

#ForYoungerMe

Dear Adit di Juni 2004

Pasti lagi gelisah ya? Bukan geli-geli basah. Tapi gelisah, risau, sedih, dan serentet kata sifat yang menggambarkan hati yang penuh kecewa. Sesuatu yang besar membuatmu patah hati saat itu. Hal yang kamu nantikan dan inginkan seumur hidupmu. Hari itu hari ketika band favoritmu, Linkin Park, mengadakan konser di Jakarta.

*kasih puk-puk*

Sudah tujuh tahun berlalu, hampir delapan malah ya sejak hari itu. Terlalu banyak yang berubah ketika harus meruntut ke sekitar tujuh setengah tahun lalu. Cita-citamu, harapan-harapan, mimpi-mimpi. Beberapa masih berada di jalan yang semestinya. Beberapa bubar jalan. Menjauh tanpa aba-aba dan menjadi bintang di langit.

Ada dua hal yang gak berubah dari kamu: kegemaranmu membaca dan kecintaanmu kepada Mike Shinoda.

Meskipun sudah lima tahun terakhir kamu gak tidur sambil dilihatin dia. Kamu pun gak memejamkan mata tanpa sebelumnya harus melihat rambutnya yang jigrak kemerahan. Hingga kini kamu masih tetap cinta. Masih cinta hidungnya. Masih gemes lihat jari-jemarinya. Masih gak bosan-bosan dengar dia bernyanyi.

Ah, ya ngomong-ngomong mereka sudah punya empat album. Hampir lima. Dan aku juga sudah punya tiga anak, eh, tiga novel karanganku sendiri.

Percaya gak? Hahaha… gak percaya? Gak apa-apa deh.

Dan aku juga punya lho kopi pertama novelku yang ditandatangi Mike Shinoda. HAHAHAHA.

Percaya? Gak? Terserah deh.

Gak apa-apa kamu sedih hari itu. Toh, kejadian itu menginspirasi kamu untuk menulis sebuah cerita pendek, kan? Aku ingat, kisah itu berjudul ‘Es Krim’. Sayangnya cerita pendek itu lenyap bersamaan dengan rusaknya si komputer tua—teman awalmu belajar menulis. Momen itu mungkin salah satu simpul penting yang mengantarkanmu hingga hari ini. Hari ketika kamu dengan bangga bisa menyebut dirimu sendiri sebagai seorang pengarang dan dengan suka cita menyebutkan pernah berjabat tangan dengan pria idamanmu sejak tahun 2002 itu.

Aku hanya ingin menyampaikan itu. Andai kamu tahu. Mungkin kamu tidak akan sesedih itu. Akan tetapi, jika aku punya pilihan kembali ke masa lalu—aku memilih untuk tidak memberitahumu. Buat apa? Biar semua jadi kejutan.

Hidup ini serangkaian kejutan yang mesti dinikmati, kan?

Adit di tahun 2012

NB: semoga bisa berjabat tangan dengan dia lagi nanti. Aku cinta ketika dia menjabat tangan dan tersenyum padaku. Jabat tangan erat, penuh penghargaan dan terima kasih. Tentunya masih jelas pula dalam ingatanku akan senyumnya yang hangat dan melelehkan—seperti matahari pagi hari.

senyum secerah matahari pagi

§ One Response to Juni 2004

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Juni 2004 at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: