Takdir

21 Februari 2012 § Tinggalkan komentar


black feather

Cairan merah itu menetes dari ujung pedangnya. Sebagian lainnya mengaliri dengan pelan turun ke ujung gagang pedang es yang ia pegang. Es murni itu kini ternoda darah—darah Sang Raja.

Api biru meliuk-liuk di atas rumput Ouida di Padang Oihara. Terang yang dihasilkan api itu memperlihatkan bunga Ouida yang sedang mekar dengan warna biru. Lalu membentuk bayangannya—dia yang mengangkat pedang tinggi-tinggi.

*

“Kalau aku gagal membunuhnya sekarang?”

Hening sejenak. Sepasang mata kecokelatan itu memandang lawan bicaranya dengan tatapan ramah.

“Kamu hanya kurang beruntung. Coba lagi lain kali.”

*

Dia pikir hidup ini undian?

Michael duduk di tempat favoritnya sambil melempar-lemparkan apel di tangannya ke udara. Tidak sekalipun apel itu terlepas dari tangkapannya, meskipun mata Michael menatap lurus ke arah gemerlapan pasar malam di bawah sana.

Seminggu sudah setelah kejadian itu.

Pembukaan yang luar biasa dan kini akan Michael tutup dengan istimewa. Ia mengigit apelnya, pandangannya buas melahap kegembiraan di lapangan Kota Lorra. Sayapnya terentang pelan dan tubuhnya perlahan terangkat. Gelapnya langit menyamarkan dirinya yang melayang di atas mercusuar Teluk Rosie.

Hari itu pun lewat dengan sia-sia—ketika rasi Virgo tepat puncak langit dan pintu gerbang kebangkitan terbuka. Kesempatan untuk menarik jiwa Rosaline kembali ke dunia pun musnah. Seharusnya memang Michael menghabisi Leonard dari awal. Inilah saatnya, waktu yang tepat untuk menyudahi pesta. Michael melempar apel itu lebih tinggi—pedang es terbentuk di tangan kirinya sedangkan tangan kanannya membuat gerakan rumit.

*

Leonard memandangi sel yang kosong selama beberapa saat. Ia melangkah, merundukkan kepalanya memasuki ruangan itu. Di permukaan tangan kanannya, api biru muncul perlahan. Pandangannya menyapu sebagian besar simbol di dinding ruangan telah dihapus. Di lantai sel ia menemukan beberapa lembar bulu berwarna hitam. Ada yang melepaskan tawanan dalam sel itu. Tawanan istimewa yang nyaris membunuh Leonard seminggu lalu. Selanjutnya, api itu padam dan gelap menguasai sebagian besar dari ruangan itu. Tanpa berkata apa-apa ia meninggalkan tempat itu sesegera mungkin.

*

Anak perempuan dengan gaun bermotif polkadot itu memeluk ibunya sementara mereka berlari menuju tempat yang teduh. Hujan ini turun terlalu tiba-tiba. Kerumunan di lapangan istana langsung kocar-kacir entah ke mana. Kemudian anak perempuan itu menarik-narik pakaian ibunya. Perempuan separuh baya itu menengok ke arah yang dilihat anaknya.

“Ibu, itu Yang Mulia Leonard, kan?”

Perempuan separuh baya itu berusaha melihat sosok yang berada di tengah guyuran hujan itu. Berjalan santai padahal semua orang sibuk menyelamatkan dirinya masing-masing. Ia sama sekali tidak merasa salah lihat, sosok itu adalah raja mereka. Akan tetapi, mengapa Sang Raja berada di sana? Di tengah guyuran hujan dan tanpa busana kebesaran kerajaan.

Detik ketika pria itu membalas pandangan perempuan itu, tenda besar yang menaungi ia dan anaknya ambruk karena angin kencang.

*

Leonard tiba di pelataran Istana Lorrantia saat hujan deras itu turun begitu saja. Seorang pelayan tergopoh-gopoh mengantarkan jubah dari kulit cerpelai kepadanya untuk menahan dingin. Jubah sutranya berkibar karena angin yang berembus kencang. Ketika sepasang mata kecokelatan Leonard memandang ke langit, tampak gelap hadir lebih cepat.

Penguasa langit mengamini semua kejadian ini.

“Yang Mulia, akan lebih baik jika Yang Mulia kembali ke dalam istana.”

Leonard melepas mahkota serta jubah kebesarannya. Sederet rajah muncul di sekitar pergelangan tangannya.

“Kalian lindungi istana dan perintahkan para prajurit untuk memulangkan penduduk ke tempat tinggalnya masing-masing,” ujar Leonard seraya menggerakkan jari-jemari tangan kanannya—merapal mantra.

“Baiklah, Yang Mulia.”

“Aku akan menemui sahabatku. Sebentar.”

Penasehat kerajaan dan rombongan pelayan itu ternganga kaget saat mendapati tubuh Leonard lenyap dari pandangan mereka. Si penasehat pernah mendengar rumor itu sebelumnya—mereka yang membuka portal, masuk ke dalamnya untuk menuju tempat lain. Namun ini kali pertama baginya melihat prosesnya secara langsung.

*

Lelehan gembok itu jatuh ke lantai. Senyumnya mengembang cerah menatap sosok yang tersembunyi di balik bayangan tembok itu. Ia merasa sosok itu bahkan belum menyadari kehadirannya. Miris rasanya melihat pemuda tampan yang juga calon tunggal penguasa langit itu terikat rantai dan dilemahkan oleh mantra yang tertulis di seluruh dinding.

Ia melangkah masuk sambil terus mencerna goresan kasat mata di dinding itu. Semua itu membuat senyumnya tertahan dan menjadi lebih lebar. Lalu tatapannya beralih pada sosok di hadapannya yang tertunduk lemah. Jari-jemarinya terkulai dan bulu-bulu di sayapnya terlihat kusut. Ia mengamati lantai tempatnya berpijak, mengambil salah satu bulu hitam yang tergeletak di sana.

“Aku datang, Michael. Kau tidak ingin menyambutku?”

*

Di lapangan Kota Lorra banyak tenda yang ambruk. Apel-apel berwarna keemasan tercecer di mana-mana. Kios-kios diabaikan begitu saja, begitu pula panggung untuk pesta penutupan pasar malam di festival Panen Raya Apel Emas Lurrarean. Ya, setidaknya hujan ini sedang bersuka ria, berpesta, memporak-porandakan arena untuk menutup pesta.

Ini bukan hujan biasa. Lebih serupa dengan badai. Atau mungkin kutukan.

Kata-kata perempuan setengah baya kepada anak kecil bergaun polkadot dan membawa gula-gula itu terngiang di telinganya. Menurut sosok itu apa yang terjadi sekarang adalah bagian dari takdir. Sama seperti ia yang memungut sebuah apel emas itu sekarang. Semua sudah digariskan—tak ada yang kebetulan. Ia membiarkan air menumbuki tubuhnya. Wajahnya sama sekali tidak cemas, malah ia tersenyum. Ia tahu hujan ini hadiah dari putra penguasa langit. Selanjutnya sosoknya lenyap bersama kilat yang menukik di lapangan itu.

*

Padang Oihara. Leonard sama sekali tidak mengigil menghadapi hujan sebesar ini. Tubuhnya kering tanpa sedikitpun air menyentuh dirinya. Pedangnya teracung lurus pada satu sosok di hadapannya, Michael.

Pertarungan dan tempat yang sama. Hanya waktu yang membedakan.

Di antara air yang berjatuhan dari langit, Leonard bisa mengenali tatapan mata itu. Dendam berkobar di sana, dendam untuknya.

“Aku akan membunuhmu,” ucap Michael.

Tanpa aba-aba, Michael melayang dan menebaskan pedangnya ke arah Leonard. Leonard tidak sempat berkelit, ia menahan ayunan pedang es Michael. Mereka saling bertatapan sementara hujan menerpa mereka. Michael naik sedikit lebih tinggi dan menendang tubuh Leonard dengan kakinya.

Ia sadar ia menyalahi aturan. Namun Michael tidak memiliki pilihan lain.

Tubuh Leonard tersungkur ke atas hamparan rumput. Saat dia akan bangkit, Michael sudah ada di atasnya, menodongkan ujung pedang es tepat di lehernya. Leonard memegang ujung pedang es Michael dengan tangan kanannya. Semburat cahaya muncul dari sela-sela jari Leonard. Darahnya menetes bersama lelehan es dan air hujan.

Pedang es itu patah dan kembali ke bentuk semula dengan cepat. Sebelum sempat Michael menghajar untuk kedua kali, Leonard dengan cepat berdiri lagi, menyerang titik lemah Michael—sayapnya. Michael berhasil mengelak dan kembali terbang mengitari Leonard. Api biru berjatuhan dari genggaman tangan Leonard, membakar pelan-pelan padang itu.

Michael kembali menyerbu membabi buta. Posisinya jelas lebih menguntungkan dibandingkan rivalnya. Sembari menggempur Leonard, Michael menumbuhkan pasak-pasak es berujung tajam di atas tanah. Pedang mereka saling beradu, berdenting keras. Sesekali Leonard melemparkan bola-bola api biru kepada Michael.

Leonard susah payah berdiri saat salah satu pahanya tertembus pasak es. Ia terus berusaha melawan terjangan dari Michael. Ayunan pedang Michael terarah dengan baik dan berkali-kali nyaris mengenai bagian vital Leonard. Di kesempatan yang lain, Michael selalu berusaha mengarahkan tendangannya ke tubuh Leonard. Kali ini, dengan telak tendangan itu mengenai kepala Leonard. Membuat tubuh Sang Raja terhuyung jatuh dan menimpa beberapa pasak es.

Michael tersenyum kecut.

Leonard merasa seluruh tubuhnya berkedut keras. Nyeri menjalar dari berbagai arah. Dendam selalu menjadi bahan bakar yang baik. Ia melihat api biru miliknya yang masih berkobar membakar rerumputan Ouida.

Dirinya tidak boleh mati. Tidak jika sendirian.

Leonard membiarkan tanah di bawahnya terbakar.

Michael tidak rela jika rivalnya—yang juga sahabatnya—itu membunuh dirinya sendiri. Namun dirinya tidak bisa mendekati api biru itu tanpa terbakar. Michael meluncur dari ketinggian, menyambar tubuh itu dan melemparkannya jauh dari api. Kini giliran api yang mendekat padanya—di ujung sayapnya. Api biru yang menerangi sayap gelapnya dengan indah.

*

Sosok itu muncul dalam kegelapan. Akan tetapi nyala api itu membuat pertarungan di hadapannya itu terlihat begitu jelas. Ia tersenyum. Begitulah seharusnya…. Sayap itu terbakar dan pedang itu berkilauan karena api. Terangkat tinggi-tinggi, siap dihujamkan untuk memutus benang takdir seseorang.

Begitulah seharusnya takdir.

Ia menggerakkan kedua tangannya dalam gerakan cepat. Lalu kedua tangannya terkepal dan cahaya putih menyilaukan terlempar ke arah kedua sosok di sana. Cahaya itu membesar dan meledak tanpa suara.

Selanjutnya hening. Hujan pun berhenti. Angin tak berdesir.

Kedua petarung itu terkapar. Sosok yang amat mirip dengan Leonard itu berdiri di antaranya. Berjongkok di samping tubuh Leonard, mengusap wajah lelaki itu. Lalu ia berdiri lagi, memanggul tubuh Michael yang tak sadarkan diri.

Begitulah seharusnya takdir kedua keturunannya itu. Ia yang melepaskan Michael, memintanya membunuh Leonard, kemudian Otis sendiri tidak sampai hati membiarkan itu terjadi. Otis tahu masih banyak waktu dan kesempatan—dirinya abadi, begitu pula mereka berdua. Sejarah akan berulang, ia berjanji. Ditatapnya tubuh Leonard untuk terakhir kali sebelum lenyap dari padang itu.

Mungkin mereka harus mencoba lagi lain kali. Di lain kesempatan.

Bogor, 21212

Diikutsertakan dalam Lomba Fiksi Fantasi 2012.

Cerita ini merupakan bagian dari serial Michael & Leonard (The Apple)

Kisah sebelumnya: Apel Emas

Seri Michael
1. Sayap Api
2. Serpih Awan

Seri Leonard
1. The Apple
2. The Kill
3. Padang Oihara

Kisah Otis : ‘Otis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Takdir at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: