Di mana?

3 Maret 2012 § 1 Komentar

“Lo di mana sekarang, Bang?”

“Jakarta.”

“Udah menetap di Jakarta?”

“Gue masih balik lagi ke Banjarmasin.”

Tak pernah kukira jalan bercabang itu yang memisahkan kita. Kamu lenyap dalam kegelapan belokan tak berlampu itu dengan motormu. Aku ingat pilunya menatap punggungmu yang menjauh dan hilang ditelan kelam.

Kupikir aku masih merindukanmu. Kurasa aku masih selalu ingin berjumpa denganmu.

*

“Lagi di mana, Bang? Lagi di Grand Indonesia ya?”

“Iya.”

“East mall atau west mall?”

“Hmm… east.”

“Wah, aku di west mall.”

“Lagi ada acara apa?”

“Ini acara nulisbuku.”

“Ya. Gue nganterin bokap gue.”

“Oh gitu….”

Dua tahun adalah waktu yang tersia-sia untuk jarak sesingkat Bogor-Jakarta. Di peta pun tak sampai satu sentimeter. Menggunakan kereta, habis ditempuh dalam satu jam setengah. Lewat kendaraan umum atau pribadi pun tidak akan butuh waktu sampai berhari-hari.

Itu kalau memang mau.

Lalu dua tahun itu berlalu begitu saja. Aku tetap di sini, setia bertanya di mana kamu berada.

*

“Di mana?”

“Di Bali.”

“Wah asik nih liburan.”

“Bukan ada kerjaan.”

“Gak balik ke Jakarta lagi?”

Pertanyaan itu selalu berulang setiap ada kesempatan saling bertukar sapa untuk kita. Kelihatannya basa-basi, tapi aku sungguh tahu di mana kamu berada sekarang. Siapa tahu kita bisa bertemu, siapa tahu.

Sebab aku tidak berani meminta.

*

“Di mana?”

“Auckland.”

“Hmm….”

“New Zealand.”

“Wah keren. Di sana kan keren, Bang. Liburan ya?”

“Bukan. Ini lagi ada kerjaan di sini.”

“Oh.”

“Iya, tapi habis ini mau balik ke Jakarta dulu.”

“Wah!”

Berkali-kali kamu bilang kembali ke Jakarta. Sementara aku bersembunyi dalam liangku di Bogor. Menatap nanar lintasan tweetmu di linimasaku. Menghitung-hitung kesempatan kapan kita bisa bersisian jalan di antara saling-silang jalan raya Jakarta.

Siapa tahu kita ada di bus Transjakarta yang sama. Siapa kira kita sama-sama sedang berada di PIM. Siapa sangka kita bertemu di IPB International Convention Center.

Ya, siapa tahu….

*

“Di mana?”

“Jakarta.”

“Aku juga mau ke Jakarta.”

“Ok. Take care.”

Tidak tahukah kamu jika aku ingin bertemu denganmu?

Aku pernah menulis jika jarak hanyalah imajinasi manusia. Mereka menciptakannya agar bisa mengonversi rindu yang tumpah ruah dengan satuan meter, kilometer, bahkan cahaya atau bisa juga dikonversi menjadi harga tiket pesawat dan selisih waktu antara dua tempat. Semua itu bisa ditempuh, kalau memang mau.

Hanya jarak hati yang sulit dijembatani. Layaknya hatiku dan hatimu yang mungkin sejauh setengah lingkar bumi.

Jauh. Akan tetapi, aku selalu setia bertanya untukmu.

*

“Di mana? Masih di Jakarta, Bang?”

“Masih.”

“Gak ke Kompas Gramedia Fair?”

“Hmm….”

“Gue on the way nih ke sana. Sendirian. Gak ada temen.”

“Hmm….”

Aku tak pernah tahu jawabanmu karena pertanyaan itu belum sempat aku luncurkan untukmu. Mungkin lain kali ketika aku sudah bernyali.

Atau, mungkin kamu mau mengajakku bertemu lagi?

Jakarta-Bogor, 3-3-12

§ One Response to Di mana?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Di mana? at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: