Aku dan Sang Pengelana

24 Maret 2012 § Tinggalkan komentar

Aku yang tertinggi di sini, menantang samudra, menuding cakrawala.

Perjalanan adalah hidupku, sandingkan aku dengan para pengelana. Mereka yang menjunjung ransel tinggi-tinggi, lalu pergi bersamaku. Kita mengarung lautan biru, membelah pasukan ombak, menyapa camar-camar laut yang mendekat.

Namun kebanyakan mereka hanya singgah sementara. Datang dan pergi lagi, tanpa pernah bertemu kembali. Kamu bukan di antaranya.

Pertama kali, aku melihatmu menaiki undakan di samping. Ranselmu penuh, membuatmu tampak seperti tubuh kecil yang berpunuk. Di sisi buritan kamu berdiri, matamu lepas memandang pelabuhan yang ramai. Kemudian kamu tersenyum, rekah manis yang menghias bibirmu. Aku mencari-cari kepada siapa kamu berikan senyuman itu.

Di kota penuh gedung tinggi dengan pelabuhan kumuh itu, kamu melangkah turun. Melambai kepada semua kru kapal dan mengucapkan terima kasih. Aku menatapmu, pilu.

Mil demi mil kembali kujelajahi, perjalanan dimulai lagi. Aku berharap bisa bertemu lagi denganmu.

Tentu, di pelabuhan yang sama kita bertemu. Kamu masih dengan ransel penuhmu kembali memanjat sisi perahu. Duduk di bangku favoritmu di sisi buritan. Wajahmu diisi lagi dengan senyuman. Tanganmu terangkat, melambai pelan. Padahal tak ada seorang pun di sana.

Saat kapal ini mulai berlayar dan aku menjalankan tugasmu, tak bisa kutahan untuk melirik padamu. Duduk tekun dengan sebuah buku di pangkuanmu. Gerak lincah tanganmu membuat pensil itu mengguratkan garis demi garis yang menjelma rupa di lembaran itu. Sebuah sketsa manis dari pelabuhan yang baru saja kita tinggalkan.

Sisa perjalanan kamu habiskan dalam diam. Membiarkan tatapanmu tersia-sia ke lautan yang sepi. Hingga akhirnya tibalah pada pelabuhan kumuh di kota bergedung tinggi. Betapa beruntung pelabuhan ini, didatangi banyak pelancong dan pengelana sepertimu. Akan tetapi, gedung-gedung berkilap itu jauh mendapatkan perhatian daripada pintu gerbang kota di sisi lautan ini yang kumuh ini. Aku tidak tahu mengapa kamu menyukai kota dengan pintu yang kumuh.

Kamu melangkah turun, melambaikan tangan pada semua kru dan berterima kasih. Lalu aku melihatmu lenyap di antara kerumunan orang yang berjejal di dermaga.

Tidak hanya sekali, bukan pula cuma dua kali. Berkali-kali kita melakukan perjalanan bersama. Sebanyak itu aku selalu berharap kamu kembali karena aku rindu.

Pada suatu hari, ketika kapal ini merapat dan kamu turun. Cepat-cepat aku merekam gerakmu, meredam rasa kehilangan yang akan menimpa. Kukira kamu akan dengan segera tertelan oleh manusia-manusia yang terburu-buru. Akan tetapi, kamu berdiri di satu pojok dermaga. Berdiri dengan ransel berpunuk yang menempel di punggungmu, buku gambar beserta pensilmu ada di tangan. Tidak lama kamu di sana, sesekali menunduk, sesekali menatap ke arahku.

Terakhir, sebelum kamu menjauhkan ujung pensilmu dari lembar kertas, perlahan senyummu terukir. Kamu mengangkat wajahmu, tersenyum lebih lebar seraya mengamatiku. Buku itu kamu tutup, selanjutnya kamu simpan di tas selempangmu. Senyummu masih di sana, tak berkurang cerahnya. Kemudian kamu melambai, entah pada siapa. Tak ada seorang pun di buritan ini. Hanya aku.

Lalu, kedua kru itu sekonyong-konyongnya muncul dengan ember dan lap di tangan. Mereka berdua membalas lambaianmu. Sementara aku membalas senyumanmu.

“Iya, dia tidak akan kembali lagi ke kota itu,” ujar kru satu.

Aku menguping.

“Dia akan menetap di kota dengan pelabuhan kumuh ini?” tanya kru dua seraya memasukkan lap ke ember penuh air itu.

“Ya. Dia sudah menemukan jodohnya di sini. Dia akan segera menikah,” jawab kru satu sembari mulai mengelap cerobong asap–tubuhku.

Bogor, 24 Maret 2012

Waktu itu pernah mau bikinin narasi dari ilustrasinya Kang Motulz. Dan ini dia jadinya. :p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Aku dan Sang Pengelana at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: