Babak Jingga

23 April 2012 § 1 Komentar

Jingga itu memakan segalanya, mengubahnya jadi hitam dan kemudian debu. Dunia seolah runtuh. Telingaku menangkap dentum demi dentum. Pikirku itu mungkin adalah gunung yang meletus, meteorit yang membentur bumi, atau bom atom yang meledak. Aku tidak tertarik, meskipun belum pernah mengalami ini sebelumnya.

Aku terbaring tak bergerak di atas ranjangku. Mengintip langit yang biru kemudian terang dan selanjutnya gelap. Namun duniaku penuh warna karena jingga yang merambah ke mana-mana. Sekarang ia tiba di langit-langitku, rakus memakan putihnya menjadi arang. Gelombang panas ikut hadir. Panas yang menghantarkan jingga. Aku meyakini semua akan berakhir di sini dan aku tahu itu. Panas itu mengangkat kesadaranku lebih dulu sebelum jingga itu tiba di ujung kakiku. Itu lebih baik, setidaknya aku tidak mati dalam kesakitan.

Akan tetapi ini buruk. Jauh lebih buruk dari pada yang pernah kualami.

*


Langit berselimut warna biru. Awan-awan putih menggantung di sana, berjalan pelan-pelan. Angin menghembus sejuk, menandakan bahwa ini masih pagi. Aku menarik napas panjang.

Hanya satu dari sedikit mimpi buruk yang pernah kulewati—ya, seperti itulah aku menganggapnya. Walaupun masih jelas bagaimana jingga itu membakar kamarku.

Kupandangi sekelilingku, ada beberapa orang yang sudah kukenali sebelumnya. Salah satunya, Eric, pemuda yang pernah kucintai. Kami dipertemukan kembali, di sini.

Pandanganku beralih kepada layar hologram di hadapanku. Mataku menyorot sederetan foto pada timeline. Warna-warni… jauh berbeda dengan tempat ini. Di sana kulihat semak rimbun hijau yang tertata apik di sebuah halaman gedung. Sedangkan di sini, aku melihat batang pohon yang menggantung kering. Polos tanpa kulit kayu, padahal aku melihat banyak air di sekitar tanahku berdiri.

Jariku menyentuh layar itu, membuat foto demi foto bergerak dan layar pun menampilkan foto baru. Aku yang tertawa, aku dan sahabat-sahabatku yang berjalan bersama. Aku mengigit bibirku. Bukan sekedar rasa sakit yang menyeruak dari dasar hati, namun sebuah rasa kehilangan. Ketika semua berakhir dan awal baru dimulai, akan selalu ada kekosongan yang tersisa untuk diisi sesuatu yang lain.

Saat kupikir kehilangan berkali-kali bisa menebalkan hatiku, nyatanya tidak. Aku meringis dengan ngilu yang menjalari tubuhku. Apabila aku punya satu saja kesempatan untuk kembali dan menyusun ulang semuanya—aku ingin berhenti di satu titik, di antara orang-orang yang kusayangi dan mati di tengah mereka.

Sayangnya, aku sendiri tidak pernah tahu kapan suatu babak berakhir dan dimulai.

*

“Kamu sudah selesai membacanya?”

Suara itu membuatku menoleh ke asal suara. Kukenali vokal itu sebagai milik Eric, walaupun sudah bertahun-tahun kami tak saling bicara, aku masih mengingatnya jelas. Ia bahkan tidak memandangiku, pandangannya kosong ke arah danau tak jauh dari tempatnya duduk.

“Sudah,” kataku pelan.

Kini ia memandangku dengan prihatin. Namun aku tidak sampai bertanya apa yang terjadi padanya. Aku menatap kembali ke timeline-ku. Aku tersenyum kecut.

“Aku tidak ingin ada di sini,” bilangku pada Eric lebih lirih. Entah dia mendengarnya atau tidak. Kulirik Eric yang masih dengan tatapan menerawangnya, tak peduli meski di sekitar kami sudah ramai oleh celotehan orang-orang lain.

“Kalau aku punya kesempatan untuk kembali lagi, aku akan kembali dan berhenti di sana,” tambahku.

Tak ada sahutan dari Eric. Aku bahkan tidak peduli. Aku hanya lelah untuk memulai lagi semua dari awal. Kuangkat jariku dari atas layar hologram itu. Sesaat kemudian layarnya menggelap dan lenyap, menyisakan udara kosong.

“Tapi kita bertemu lagi sini,” ujarnya, “kita harus memulainya lagi. Kenangan adalah sesuatu yang nyata di masa lalu, Grace. Kita tidak bisa menghentikan waktu berjalan.”

“Aku hanya ingin berhenti pada waktunya, Ric. Setidaknya, aku tidak perlu mati lalu bangun lagi dengan setumpuk kenangan dalam kepalaku.”

“Itu bayaran untuk keabadian kita, Grace. Mengalami. Kamu tak bisa berhenti.”

*

Aku berjalan di bawah payung bersama sahabat-sahabatku. Sebuah konser yang menghibur kami semua. Penuh tawa kami berjalan keluar dari gedung tersebut. Di bawah gerimis kami berpisah. Aku mengenang bagaimana kami saling memandang malam itu, ada harapan kecil: semoga kita masih dipertemukan esok hari.

Dalam taksi aku meraba tengkukku, meraba tonjolan kecil di sana. Aku abadi. Keabadian yang harus dibayar dengan memainkan babak demi babak. Kali ini aku bisa bahagia dengan sahabat-sahabatku, lain kali aku akan bertemu orang yang lain. Selamanya seperti itu, aku tidak pernah tahu babak apa yang harus kumainkan.

Aku kembali ke kamarku yang sepi. Langit-langit dan dinding putihnya menyambutku dingin. Aku diam dan berbaring. Sebuah dentuman besar terdengar dari kejauhan. Langit biru ternodai terang yang menyilaukan lalu berubah gelap. Angin menyebarkan panas dan mengantarkan jingga.

Ini akhir. Tak perlu aku melarikan diri, bara api itu akan memakan tubuhku. Namun aku tidak akan mati, aku abadi.


Bogor, 23 April 2012

note: maaf kalau ceritanya kurang jelas, cuma interpretasi mimpi yang hadir berturut-turut hari lalu. :p

§ One Response to Babak Jingga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Babak Jingga at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: