Cheesecake

27 April 2012 § 8 Komentar

cheesecake

cheesecake

“Aku akan pulang….”

 *

Tawanya berderai. Kusapukan sapu tangan itu ke tepian bibirnya yang dikotori oleh noda karamel. Sementara itu dia terus menyendok cheesecake buatanku ke mulutnya. Aku tak bisa menahan senyumku yang melebar di wajahku. Apalagi yang membuatmu lebih bahagia dibandingkan melihat seseorang yang kamu cintai tertawa selepas itu?

Sekali lagi tawanya berurai makin keras. Tubuhnya terguncang-guncang di sampingku, kini dengan potongan cheesecake yang baru. Tidak, ia tidak menertawakanku, seluruh perhatiannya tersedot oleh acara komedi yang ada di layar televisi. Tubuh kami berdampingan rapat di sofa itu. Ia menyuapkan lagi satu potongan cheesecake ke mulutnya. Mengamatinya menyendok cheesecake itu dengan hati-hati, lalu memasukkan ke mulutnya dan mengunyahnya penuh ekspresi adalah satu bagian darinya yang paling kusuka. Apalagi yang membahagiakanmu selain melihat orang yang kamu sayangi lahap memakan cake buatanmu?

“Aku rasa aku jatuh cinta,” katanya seraya meletakkan piring itu di atas meja.

Jantungku berdegup keras. Kami saling memandang dalam-dalam. Kemudian ia mendekatkan wajahnya padaku, menyentuhkan bibirnya pada milikku. Kurasakan rasa cheesecake terkecap di bibir itu. Sebentar, lalu ia melepasnya dengan lembut.

“Jatuh cinta pada cheesecake buatanmu.”

Dia tertawa lagi sambil merengkuhku dalam pelukannya. Aku bahagia.

 *

“Tak ada cheesecake di surga yang mampu menandingi cheesecake buatanmu. Boleh aku memintannya lagi?”

Aku menatap pria itu—dia pada pertemuan kedua kami. Tidak selusuh hari kemarin, tapi bahkan ia tidak punya uang untuk membeli cheesecake-ku dan terang-terangan meminta dariku. Hari lalu aku menemukannya duduk kelaparan di tepi jalan, hingga akhirnya aku tidak sampai hati untuk membiarkannya. Kusisihkan sepotong cheesecake yang kubawa untuk diberikan padanya. Wajahnya berbinar ketika menerimanya, menatapku seolah-olah aku adalah malaikat penolong yang dikirim turun dari langit.

Aku tersenyum, mengingat hari lalu dan melihat dia kini di hadapanku. Aku kehangatan yang menyisip dalam hatiku ketika ketulusan terpancar dari wajahnya saat mengatakan hal itu. Kalimatnya memang terlalu hiperbola, tapi aku senang ia mengapresiasi cheesecake buatanku.

Hari itu aku memberinya sepotong cheesecake lagi. Cuma-cuma.

*

“Seharusnya mereka merekrutmu menjadi malaikat,” bilangnya pada suatu sore berhujan di pojok kafeku.

Aku tertawa kecil, “Kamulah malaikatku, sejak kamu meminta cheesecake-ku, pelan-pelan orang mulai mengenal cheesecake itu. Hingga akhirnya…,” aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling ruangan, “aku bisa mewujudkan impianku untuk punya toko kue dan kafe sendiri. Terima kasih.”

Dia sudah banyak berubah. Tak lagi lusuh seperti dulu, seolah-olah pertemuan kami dan cheesecake itu mendatangkan keberuntungan. Namun satu hal yang tak berubah adalah ia selalu datang ke kafe ini sendiri. Kami selalu bertemu di sini, kadang-kadang ia ikut menginap di apartemenku. Pernah aku mengajaknya membuat cheesecake, mengajarinya dan menyuruhnya membuat sendiri untuknya. Akan tetapi, nyatanya rasanya memang tidak seenak buatanku dan ia menegaskan tidak akan membuat cheesecake lagi.

“Sudah kubilang, cheesecake-mu punya rasa yang luar biasa. Rasanya aku tidak ingin kembali ke surga karena di sana aku tidak bisa menemukan ini.”

“Untukmu aku bisa mengirimkannya ke seluruh dunia. Pojok Afrika, pedalaman Papua, atau di tengah-tengah Amazon, aku akan kirimkan spesial untukmu…,” kataku sambil memandanginya memakan cheesecake.

“Kamu tidak punya kurir pesan antar untuk mengantarnya ke surga.”

“Aku akan mengantarnya sendiri kalau begitu,” kelakarku.

“Jangan… lalu siapa yang akan meneruskan usaha cheesecake-mu ini, jika kamu mengambil alih tugas layanan pesan antar ke surga?”

Aku tertawa lagi, tapi dia diam saja.

*

Pada suatu sore yang lain. Ketika dia membawa sejuta cerita dari perjalanannya yang lain dan aku duduk mendengarkannya berkisah. Di pojok kafe, di sofa yang selalu kami duduki setiap sore aku duduk bersandar di dadanya. Mengamatinya menusuk buah stroberi di atas cheesecake-nya.

“Aku jatuh cinta pada cheesecake-mu.”

Kalimat itu keluar dari mulutnya entah untuk kali keberapa. Lalu seolah muncul perasaan tercampur aduk dalam perut—perasaan aneh yang membuatku senang.

“Maka, aku bahagia denganmu,” balasku sembari tersenyum.

Dia terbahak keras-keras. “Aku tidak punya kemampuan menciptakan kebahagiaan.”

“Iya, tapi kehadiranmu membuatku bahagia.”

“Jika aku kembali ke surga, apa kamu masih akan bahagia?”

Aku terdiam, meraih tangannya dan menggenggam erat-erat. “Kamu bukan benar-benar malaikat yang turun ke bumi untuk melaksanakan tugas, lalu jatuh cinta pada cheesecake-ku dan enggan kembali ke surga karena itu?”

Selama sesaat hanya ada diam di antara kami. Sudah sering terbayang dalam benakku jika pada suatu hari rutinitas ini akan sama sekali berhenti. Tiap kali pikiran itu hadir seakan-akan ada yang runtuh di dalam hatiku. Aku mengelus buku-buku jarinya. Mendekatkan wajahku ke lehernya, menghirup wanginya yang kusuka dan sesekali mendaratkan kecupan di sana.

“Aku akan merindukan cheesecake-mu,” ucapnya pelan dengan intonasi yang selalu sama. Pandangannya beralih, ia menatap jam di dinding, seolah ada janji yang ia harus kejar. “Aku harus pulang.”

Biasanya tak pernah ia beralasan harus pulang.

“Jangan pergi,” kataku menahannya. “Bolehkah aku ikut? Kali ini saja….”

Aku menunggu, tapi ia tidak memberi jawaban apa-apa. Perlahan ia memasukkan potongan terakhir cheesecake ke mulutnya. Buru-buru aku meraih tisu, menyeka sisa cheesecake yang ada di tepi bibirnya. Ia meraih tanganku, lalu mencium pipiku. “Aku harus pulang.”

“Siapa yang kamu cintai? Cheesecake-ku atau aku?

Sama sekali tak bisa aku membentuk senyum seperti yang terhampar di wajahnya sekarang.

“Berjanjilah untuk kembali.”

*

Dia memenuhi janjinya untuk kembali. Datang lagi dengan penuh cerita, sampai-sampai aku tidak pernah punya kesempatan untuk bertanya. Cerita-cerita yang selalu berbeda, yang setiap kali pasti membuatku tertegun dan bahagia mendengarnya. Hanya saja satu hal yang sama yang tak pernah lepas dari apapun yang dibicarakannya, yaitu tentang surga seakan-akan ingin meyakinkan aku jika ia memang malaikat dari surga.

Untukku, dia selalu menjadi malaikatku.

Hari ini, pertama kalinya dia datang bersama orang lain, seorang perempuan ayu dan dua anak kecil. Sore itu dia terlalu sibuk dengan mereka, tanpa memberi kami waktu sempat bicara. Mereka pun memuji cheesecake-ku dengan pernyataan yang sama dengan miliknya: ‘Tak ada yang seenak ini di surga.’ Aku menemukan ketulusan dari wajah mereka semua, ketulusan dari tiap mata—mata-mata yang mengingatkanku pada cokelatnya matanya.

“Aku akan pulang…,” sejenak kamu terdiam, “bersama mereka.”

“Bawa cheesecake ini untuk kedua anak kecil yang manis itu,” ujarku.

Aku tersenyum.

“Aku akan merindukan cheesecake-mu.”

Aku tidak menjawab, menahan senyumku tetap di wajahku.

“Aku pulang….”

Aku menghela napas panjang ketika melihat pintu itu tertutup. Tak ada air mata. Namun aku tetap berdiri di posisi yang sama—memperhatikan bagaimana ia tertawa begitu lepas ketika menaikkan kedua anak kecil itu ke mobilnya. Mengamati bagaimana ia menatap perempuan ayu itu—ada ekspresi bahagia seperti yang selalu kutemukan ketika ia melahap cheesecake-ku. Masih aku terpaku di situ sampai mobil hitam itu berlalu.

Suara keras dari ujung jalan menyentakku. Kulihat orang-orang di depan tokoku menatap ke satu arah yang sama. Aku berlari ke luar, menatap ke direksi yang sama dengan semua orang. Ada asap mengepul dari sebuah mobil hitam yang kukenali sebagai mobilnya.

 

Bogor, 27 April 2012

§ 8 Responses to Cheesecake

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Cheesecake at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: