Menunggu Lampu Hijau

12 Juni 2012 § 7 Komentar

Hari 1

jam gadang

jam gadang

Mataku mengerjap-kerjap setelah kegelapan singkat yang kualami. Kunaungi mataku dengan telapak tangan dari sinar matahari pagi. Aku menarik napas dalam-dalam untuk meredakan kencangnya degupan jantungku. Tak ada goncangan sesaat yang lalu, tapi aku bisa merasakan tubuhku gemetar dan bulir-bulir keringat dingin tumbuh di punggungku.

Ketika pandanganku mendaki bangunan di sekelilingku, aku nyaris jatuh karena terkejut. Kini aku berada di bawah Jam Gadang yang terkenal dari Bukittinggi itu. Kakiku menyeret tubuhku menjauh dari bangunan itu. Aku menatap jamnya yang sekarang menunjuk ke angka IX, sembilan. Aku menelan ludah bersamaan dengan perasaan takut yang menelusup ke aliran darahku.

Padahal langit begitu biru pagi ini. Bahkan aku bisa melihat puncak Marapi. Aku langsung menghentikan pikiranku yang tiba-tiba dibanjiri oleh informasi tentang Gunung Marapi. Bagaimana aku bisa mengetahui semua itu? Meskipun aku tahu tempat ini, belum pernah sebelumnya aku menginjakkan kaki di sini.

Langkahku terhenti saat punggungku menabrak sosok lain. Wajahku mengerenyit sewaktu aku menoleh kepada sosok itu. Dia yang balas menatapku dengan sepasang mata kosongnya.

I think I know him.

“Dewa?”

Aku tidak tahu dari mana asal muasal tebakan itu. Aku yang tahu dan aku mencoba meyakinkan diriku.

“Patrick.”

Dewa akan duduk di keretanya yang ditarik oleh lembu atau seorang dewa seharusnya duduk di singgasana berlapis emas bertahtakan permata. Tak ada dewa berbentuk bintang laut merah muda dan bercelana hijau. Namun aku meyakini dia adalah Dewa.

“Mau berfoto?” tawarnya ramah.

“Dewa, ini aku….”

“Aku Patrick!” ujarnya lagi dengan nada ceria.

Aku mundur menjauh seraya menggelengkan kepalaku. Ini sungguh mimpi yang aneh. Kakiku bergerak terlalu cepat hingga akhirnya aku terjatuh. Lututku menghantam lantai, menciptakan rasa nyeri yang menjalar cepat di tubuhku. Saat itulah aku tersadar, bahwa semua ini nyata. Mimpi tak pernah sesakit ini.

Tahu-tahu dia sudah berdiri di sebelahku, menatapku yang terduduk lalu memalingkan pandangannya ke arah jam di atas menara. Baru kusadari angka romawi untuk empat di jam itu berbeda, seharusnya IV, yang kulihat di sana adalah IIII.

“Ada yang bilang itu hanya kesalahan. Lainnya bercerita ada empat pekerja yang menjadi tumbal ketika pembangunan menara ini. Juga kisah penolakan simbol V karena dianggap sebagai tanda ‘victory’ atau kejayaan. Entahlah, yang tersisa hanya misteri.”

Kini dia telah melepas penutup kepalanya. Aku melihat tubuh Patrick, sahabat Spongebob, dengan kepala Dewa. Pelipisnya dihiasi keringat. Mataku menjelajahi potongan rambut pendeknya dan cambangnya yang rapi. Wajah itu menyimpan senyum yang kini dihadapkannya pada jam hadiah dari Ratu Belanda tersebut.

“Kamu menyukainya kan? Misteri? Suka berada di sini?” tanyanya tanpa mengalihkan tatapan kepadaku.

“Dewa, apa maksud kamu? Mengapa aku dan kamu ada di sini? Kamu seharusnya enggak di sini!”

“Aku ingin menunjukkan padamu….”

“Apa?!” potongku tak sabar.

Dewa memalingkan tatapannya padaku. “Tunggu sampai lampu hijau menyala.”

“Di sekitar sini tak ada lampu lalu lintas!” ujarku panik.

“Bersabarlah, Diva. Kesabaran selalu berbuah manis.”

“Dewa, please…,” rengekku sembari berniat memeluknya. Alih-alih merangkul tubuhnya, aku sama sekali tak bisa bergerak. Jantungku langsung bekerja memompa darah dengan cepat. Kurasakan simbahan keringat di kulitku. Ketakutan bukanlah sesuatu yang seharusnya kurasakan ketika bersama orang yang kucintai. Sekarang seakan-akan ada tangan tak terlihat yang mencerabut semua keberanian dan kenyamanan yang kumiliki. Aku sendirian, padahal Dewa ada di sisiku.

“Diva tunggu sebentar saja. Aku ingin menunjukkan padamu….”

Sosok Dewa perlahan memudar. Napasku menderu kencang. Orang yang lalu lalang di taman itu seolah-olah tidak melihat aku yang sedang terjebak dalam masalah. Mereka tetap santai berkunjung ke Jam Gadang ini. Semestinya mereka melihat langit yang tadinya biru mendadak berubah menjadi kelabu pekat. Aku menatap ke jam di atas menara yang kini sampai pada detik-detik menjelang jam sepuluh.

“Dewa, tolong aku….”

Senyum terukir di wajahnya. Saat warna abu-abu dari langit mulai berguguran, sosok Dewa benar-benar lenyap. Langit runtuh, pelan-pelan warna-warna yang tadi ada di sekitarku bertransformasi menjadi sewarna dengan langit. Seperti sebuah layar hologram, semuanya memudar. Tepat ketika jarum pendek jam itu sinar hijau terang muncul entah dari mana. Sisanya gelap.

Bersambung.

Bogor, 12-6-12

§ 7 Responses to Menunggu Lampu Hijau

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Menunggu Lampu Hijau at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: