Potongan Kedua

5 Juli 2012 § 3 Komentar

“Coba kamu baca halaman 145. Tell me, bagian itu aneh atau tidak? Aku butuh masukanmu,” suruhmu sambil melamun ke arah layar. Dagumu tertopang tangan, ekspresimu antara bingung dan yakin mengenai bagian yang sedang kamu baca sekarang.

Sepotong cheesecake tergeletak di antara kertas-kertas catatanmu. Botol-botol kosong Pocari Sweat berdiri di sekitarnya, seakan jadi benteng. Lainnya novel-novel yang kamu susun sembarangan di ujung meja—entah apa fungsinya, hiasan pun bukan menurutku. Selanjutnya laptopmu yang bercahaya redup, menampilkan lembar putih penuh catatan berwarna merah. Di sampingnya, usai memintaku membaca halaman tersebut kepalamu terkulai yang kamu bantali dengan telapak tanganmu—kedua matamu terpejam.

Akulah yang selalu kamu minta datang untuk menemanimu. Mendengarkanmu mengoceh berjam-jam tentang editing yang harus kamu lakukan. Melihatmu menggerakkan pensil dengan gelisah di atas kertas catatanmu. Keningmu berkerut tanpa henti sementara itu aku duduk di depanmu, melakukan apa yang kamu suruh.

“Seharusnya aku butuh minuman yang lebih keras daripada ini,” katamu setiap kali menghabiskan sekaleng Pocari Sweat. Namun ketika kutawarkan untuk membelikan kopi di kedai kopi terdekat atau bir, kamu langsung menolak. Alasanmu adalah kamu terlalu sehat untuk itu semua. Kamu pun berhenti mengeluh dan mulai mengetik lagi.

Cheesecake-mu, kenapa enggak kamu makan?” Itu pertanyaan yang sama yang juga selalu kamu lontarkan. Pertanyaan itu selalu diiringi ekspresi yang sama. Matamu terfokus pada layar di depanmu. Jari-jarimu seolah punya mata tersendiri sehingga kamu bisa mengetik dengan leluasa tanpa menatap papan ketik.

Setiap kali aku menemanimu untuk mengedit naskah, hanya sepotong cheesecake yang setengahnya sudah kamu habiskan yang kamu sajikan untukku. Tak ada potongan kedua—hanya satu untuk bersama.

Kamu pernah bilang padaku, aku adalah orang paling rasional dan cerewet menanggapi naskahmu. Ketika itu, lewat potongan cheesecake terakhir dan sekaleng Pocari Sweat yang isinya tersisa sepertiga, kamu mengangkat aku menjadi editor pribadimu.

“Kepada Samudra, kupersembahkan potongan cheesecake terakhir dan minuman pengganti ion tubuh sebagai penghormatan bahwa kamu sudah kuangkat menjadi editor pribadiku,” katamu sambil mengangkat potongan cheesecake itu tinggi-tinggi.

“Suapin dong, Mayra,” ujarku.

“Ih, manja!” balasmu sengit.

“Ayo dong. Permintaan khusus dari editor tuh,” bilangku sembari tergelak.

“Nih!” katamu sambil mengangkat potongan cheesecake itu dengan tanganmu. Aku tertawa-tawa seraya melahapnya sekaligus. Sempat bibirku menyentuh ujung jemarimu—jemari yang menghasilkan kata-kata luar biasa indah itu. Aku merasakan getaran dari dalam perutku—getaran hangat yang naik ke dadaku dan membuatnya terasa penuh.

Hingga hari ini, hal tersebut tak pernah terulang lagi. Sudah tiga tahun berlalu, delapan naskah yang berhasil dia lewati, berkaleng-kaleng Pocari Sweat, dan potongan-potongan cheesecake yang tak lengkap. Aku membiarkanmu lelap sejenak, meskipun setelah itu aku yakin kamu pasti akan mengomeliku karena tidak segera membangunkanmu. Kamu akan berteriak, “Deadline sudah di depan mata tau!”

Itu tidak seberapa dengan kemarahanmu ketika pernah suatu saat aku tidak memakan cheesecake yang kamu sajikan. Kamu bahkan tidak mau bicara padaku berhari-hari. Aku pun berjanji tidak akan mengulanginya lagi.

Aku sedang menyuap potongan cheesecake ke mulutku ketika aku membaca akhir dari halaman 145.

Dia tahu akan pernah ada potongan cheesecake kedua. Hanya satu untuk bersama. Seperti aku selalu berharap kami menjadi satu—bersama.

*

Bogor, Juli 2012

§ 3 Responses to Potongan Kedua

  • ifnurhikmah mengatakan:

    Wuidiii iklan colongan Pocari Sweat. Mantap. Biar Pocari makin laku trus kakak gue makin banyak dpt bonusnya dan gue dong, kecpratan bonus, hhahaha

  • Adis mengatakan:

    Enggak bermaksud jadk buzzer gue… Curhat aja habis keabisan stok pocari wkwkwkwkw

  • Elfina Kim mengatakan:

    Dari PoV 1-2, berubah jadi PoV 1-3, terus berubah lagi jadi PoV 1-2, kemudian ditutup dengan PoV 1-3. Rasanya jadi agak hilang, Kak.
    Tapi seperti biasa, manis dan bikin ketagihan.😄

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Potongan Kedua at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: