Jarak

10 Agustus 2012 § 3 Komentar

Tatapan kami bertemu di tengah ramainya para tamu. Aku menemukan sorot pilu terpancar dari mata perempuan itu. Dekorasi putih di sekeliling tempat ini mempertegas kepiluannya. Aku tidak pernah bermaksud menyakiti siapapun. Meskipun aku sadar, selalu ada hati yang patah ketika hati yang lain jatuh cinta.

Sedetik kemudian dia berpaling. Namun aku selalu tahu, jika dia mau berusaha lebih keras mempertahankan Sigit di sisinya. Di tempatku berdiri sekaranglah dia berada, bukan malah aku yang di situ.

*

Galeri ini menjadi saksi perkenalan kami. Beberapa bulan lalu ketika digelar pameran karya dari seorang arsitek senior, aku yang buta akan arsitektur memutuskan datang. Aku yang menatapi deretan maket-maket dan dia yang sibuk bicara dengan ponselnya.

Dari pembicaraannya itu aku tahu dia seorang arsitek. Dengan berbasa-basi aku minta dia menceritakan tentang maket-maket itu padaku. Namanya Sigit dan dia menjelaskan satu persatu maket itu kepadaku.

Sebatas itu perkenalan kami, sampai kami dipertemukan kembali di bawah atap yang dirancang Norman Foster. Dari berjuta-juta orang yang singgah di terminal 3, Beijing Capital International Airport, dialah yang tak sengaja berpapasan denganku.

Aku yang menunggu penerbanganku ke Jakarta dan dia yang menanti jemputannya ke hotel. Kali ini Sigit kuberi kesempatan untuk menceritakan salah satu karya arsitektur yang hebat. Pilar-pilar, atap, dinding-dinding, hingga jendela-jendela ini dikisahkan oleh Sigit untukku.

“Mereka menyimpan cerita…,” kata Sigit dengan pandangan ke arah langit-langit bergaris.

*

Pada suatu sore, di bagian belakang galeri, kami berdua duduk dengan segelas cokelat panas. Hujan menumbuki halaman berumput di bagian luar bangunan. Kami sama diam—aku yang terpekur setelah mendengar ceritanya dan dia yang membisu entah karena alasan apa.

Sigit menuturkan tentang mantan kekasihnya. Mengenai jarak yang terbentang antara mereka berdua. Tentang perasaan-perasaan yang harus kalah oleh jarak. Dia mengakui kekalahannya atas jarak. Wajahnya sendu saat jujur bahwa dia menyerah dan tidak sekuat itu memperjuangkannya.

“Aku merasa bagai pecundang, Aurora.”

Aku memberikan pandangan simpati. “Itu pilihan, Git. Berani mengambil keputusan bukanlah sikap pecundang.”

“Aku tidak pernah berniat menyakitinya. Akan tetapi, hubungan ini sudah menyakiti kami lebih dari cukup.”

“Aku mengerti, Git,” sahutku.

“Aku tidak ingin melakukan hal yang sama kepada orang lain, Aurora. Menyakiti orang yang dicintai sama dengan memberi luka dua kali lipat pada hati sendiri.”

“Aku tahu,” kataku sambil meraih tangannya dan menggenggamnya, “Namun kamu tidak bisa melarang sebuah hati untuk jatuh cinta.”

*

Beberapa minggu kemudian kami bertemu kembali. Kami berjanji di galeri yang sama, duduk di pojok yang sama. Dia sibuk dengan MacBook-nya dan aku fokus dengan buku di tanganku. Kami tak saling bicara, namun aku tahu kami saling nyaman satu sama lain.

Di antara bunyi klik mouse-nya tiba-tiba pikiranku melayang kepada cerita Sigit yang lain. Kisah bagaimana dia merancang galeri ini bersama kekasihnya itu. Maket asli bangunan ini yang tertinggal di apartemen kekasihnya. Aku iri pada momen-momen itu, yang tak pernah kumiliki.

“Aurora.”

Panggilan Sigit menarikku dari lamunanku.

“Coba aku lihat tanganmu.”

Kuulurkan tanganku kepada Sigit. Kemudian secara cepat, Sigit memasukkan cincin ke jari manisku.

“Pas?”

Aku melongo memandangi cincin dan wajah Sigit. Lelucon apalagi ini?

“Apa cincin itu pas di jari manismu, Aurora?”

Kekagetanku masih membuatku tidak bisa menjawab apa-apa. Hanya jantungku yang berdegup kencang. Tubuhku gemetaran. Bahkan untuk menarik jariku menjauh dari Sigit, aku merasa tak mampu.

*

Cincin itu melingkari jari manisku hingga sekarang. Di halaman belakang galeri ini, dia yang tampak gagah dengan beskap putih dan aku yang dia bilang anggun dalam balutan kebaya sewarna. Tamu-tamu memuji kami yang serasi. Bahkan memuji dekorasi pesta yang juga serba putih.

“Aku tidak bisa menahan hatiku untuk jatuh padamu.”

Kata-kata Sigit tak bisa kuenyahkan dari pikiranku. Setiap kali terngiang, aku merasakan hangat dalam dadaku. Aku pun memilih untuk mempertahankan cincin itu dan melepas beasiswa sekolahku ke Beijing. Harus ada yang dikorbankan agar kami bersama.

Aku melihat perempuan itu, menuruni tangga lantai dua galeri. Seharusnya dia menepis jarak antara dia dan Sigit ketimbang mempertahankannya. Aku tidak pernah berniat menyakitinya. Sosoknya menjauhi kami, bahkan sebelum dia sempat menyalamiku dan Sigit. Padahal aku ingin berterima kasih padanya atas pilihannya untuk berhenti memperjuangkan Sigit.

Jika tidak, pria yang merangkul pinggangku sekarang ini mungkin tak akan pernah jadi milikku.

*

Bogor, 10 Agustus 2012

Balasan untuk cerita Iif: Mock Up 

§ 3 Responses to Jarak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Jarak at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: