Langit Biru (Sang Arsitek dan Gadis Api)

1 September 2012 § 2 Komentar

Ketika kamu harus membayar mahal untuk melihat langit biru….

**

Aku berlari di bawah bayang-bayang gedung pencakar lari. Di belakangku, menggema rangkaian derap-derap langkah dari para guardian. Guardian, huh, setiap kali mengatakannya cuma celaan yang rasa ingin kumuntahkan. Guardian, seharusnya menjadi pelindung. Oh, mereka memang melindungi, hanya kepada mereka yang terpilih.

Kuloncati tumpukan sampah, cicit tikus terdengar di mana berlarian karena terusik oleh keramaian yang aku buat. Sinar-sinar dari lampu yang sekarat menerangi lorong itu. Air berkecipak karena pijakan sepatu bootku. Selanjutnya semua suara itu digantikan hal lain, sebuah letusan. Mereka benar-benar serius. Letusan senapan itu terdengar lagi. Berdesing si sisi telingaku.

Aku terjatuh. Dipaksa untuk jatuh dan berlutut. Ini pertama kali aku berada di puncak Gaia Tower, gedung tertinggi di New United States. Sinar matahari menerobos masuk lewat jendela-jendela kaca besar di luar dinding bangunan. Bentuknya mengikuti terali jendela yang dibuat dengan motif-motif prisma yang kelihatannya abstrak. Di belakang sosoknya, kacanya langsung menghadap langit. Langit yang biru.

Lagi, aku dipaksa kembali, kini dengan dahi yang diangkat dengan ujung senapan, pandanganku pun tak bisa luput dari seseorang di hadapanku itu. Mata birunya mengarah tepat kepadaku. Tatapan mata yang dalam, membuat tubuhku gemetar dalam sekejap. Tubuh tinggi dan bidangnya dihiasi jubah hitam. Paling berbeda dengan orang-orang lain yang ada di dalam sini yang berjubah putih. Aku meneguk ludah. Ketakutan dan terpesona pada saat yang sama.

Itu pertama kalinya aku melihat langit biru dan dia, Sang Arsitek.

**

Mataku masih belum bisa mengenyahkan gambaran api yang menari-nari. Dari ujung bangunan itu dengan sebuah sumbu kecil aku menyulutnya. Butuh waktu lumayan lama membuat api tersebut dengan sepasang batu api yang kugunakan. Namun semua tidak sia-sia, api itu bekerja cepat, laksana raksasa yang kelaparan. Melahap sisi demi sisi bangunan itu, bahkan tanpa perlu usaha keras karena bangunan itu tak bisa lari kemanapun.

Sebab itulah aku berlari di kelokan-kelokan gang sempit seperti sekarang. Ini bukalah aksi pertama yang kulakukan. Gedung-gedung super tinggi itu telah merebut hak kami. Kami adalah penduduk miskin dan kekurangan yang tinggal di lantai dasar dan basement gedung. Hanya harga sewa tempat itu yang bisa kami bayar, termasuk membayar kawanan tikus yang hidup berkeliaran, penerangan yang tidak memadai, dan air limbah yang terus-menerus bocor dari mereka yang hidup di Level.

Bahkan bisa tinggal di Level terendah pun sama sekali tidak menjamin kamu bisa melihat langit biru.

**


Langit biru hanya miliknya, Sang Arsitek, dan mereka yang bisa membayar mahal untuk tinggal di House. House—rumah. Aku yang kotor ini mungkin sedikit dari warga basement yang bisa menginjakkan kaki di The Peak, tempat tinggal Sang Arsitek. Para guardian itu berhasil menangkapku dan membawaku ke hadapannya.

“Mengapa kau membakar gedung-gedung buatanku?” tanyanya dengan suara datar dan tenang. Tatapan mata birunya masih teracung lurus, berhadapan dengan mata hitamku.

“Aku, kami, ingin melihat langit. Ingin udara bersih. Bukan buangan dari kalian, orang-orang yang serakah, tamak, dan tak punya hati,” kataku dengan lugas.

Aku bahkan tidak yakin bisa hidup setelah mengatakan itu. Napasku menderu kencang. Jantungku berdegup meronta di balik tulang-tulang rusukku. Keringat mengaliri pelipis, punggung, dan pergelangan tanganku, padahal udara di tempat ini sungguhlah sejuk.

“Kamu bisa melihatnya sekarang,” ujarnya tanpa ekspresi.

“Kami punya hak untuk melihatnya dari permukaan tanah, dari tempat kami tinggal,” sahutku keras.

“Kamu boleh melihat langit biru itu tanpa membayar sekarang. Sepuasmu. Katakan jika kamu sudah bosan. Aku akan memulangkanmu ke basement. Lalu kamu bisa menceritakan langit biru itu kepada kawan-kawanmu, saudara-saudaramu, tetangga-tetanggamu. Mereka punya hak untuk mendengar pengalamanmu yang sudah melihat langit biru.”

Perkataannya membuat tubuhku bergetar keras. Gigiku gemelutuk menahan amarah. Ingin sekali rasanya aku meludahi wajahnya, memasukkannya ke dalam kegelapan, lalu melemparnya pada api yang mengamuk.

“Bekerjalah lebih keras. Dengan uang yang cukup kamu bisa membeli kesempatan untuk melihat langit biru, menikmati cahaya matahari setiap hari, dan melihat pepohonan serta bunga-bunga tumbuh.”

**

Sang Arsitek akan membunuhku jika sekali lagi aku tertangkap masih membakari gedung-gedungnya. Para guardian itu masih mengejarku tanpa lelah. Di gang yang agak panjang mereka mulai lagi menembakiku. Sekarang seluruh tubuhku sudah bermandikan peluh.

Aku mulai-mulai terengah-engah di tengah pelarianku. Rimba pencakar langit ini tidakklah kecil. Bertahun-tahun aku di sini, aku pun belum hapal seluk beluk basement dan lantai dasar. Kini aku menyadari jika aku berlari tanpa tujuan. Aku tersesat.

**

“Kamu, perempuan pemberani, aku memintamu berhenti.” Suara itu menggema dalam ruangan di mana aku menjalankan hukumanku. Lutut dan kakiku sudah mati rasa karena harus berlutut sejak dua hari lalu. Bahkan pada detik itu aku tidak yakin bisa berjalan lagi.

Tahu-tahu Sang Arsitek ada di depanku. “Berhentilah. Aku akan membayarmu dengan langit biru.”

Namun aku menolak tawarannya.

“Aku akan melepaskanmu. Dengan syarat kau harus membawaku ke bawah sana. Melihat kehidupan di sana.”

Aku ternganga mendengar permintaannya.

**

Kegelapan itu ternyata punya ujung. Jalanku buntu. Aku bersandar ke tembok yang menjadi penghalang jalanku. Para guardian itu sudah mengepungku, senapan di tangan mereka terarah kepadaku.

**

“Pernah lihat api?”

Percikan dari kedua batu di tanganku menyambar kain belumur minyak yang ada di bawahnya. Segera saja kulemparkan kain itu ke sudut gedung itu. Dia, Sang Arsitek, yang menyamar terpaku ketika api mulai melahap bagian bawah gedung. Aku melihat api yang terpantul di mata birunya menyorot takjub sekaligus pilu.

Kami bertemu lagi beberapa kali. Aku memandunya menjelajahi lorong-lorong gelap di lantai bawah dan basement. Aku menunjukkan kehidupan yang tidak pernah dimilikinya. Aku memperlihatkan keluargaku yang harus kuhidupi, dan segenap orang-orang basement yang selalu mendukung aksi pembakaranku.

“Aku mencintaimu gadis api,” bilangnya pada suatu hari.

Aku terdiam di tengah kegelapan gang kumuh itu.

“Aku tidak bisa,” balasku.

“Bersamaku kamu akan bisa melihat langit biru. Sesukamu. Sepuasmu.”

“Aku tidak bisa meninggalkan keluargaku, ibuku dan adik-adik kecilku. Aku tidak bisa meninggalkan lantai dasar dan basement. Aku harapan mereka.”

Sang Arsitek pun membisu.

“Beri kami langit biru. Dan aku akan bersamamu… apapun yang kamu inginkan terhadapku.”

**

 

Saat aku membuka mata aku melihat langit biru yang terhampar di atasku, di sisi-sisiku. Matahari baru saja naik sepenggalan dan bersinar lembut. Pakaianku kini telah berganti dengan sutra biru muda yang lembut dan menujukkan lekuk-lekuk tubuhku. Aku bernapas dalam-dalam. Sungguh segar udara di tempat ini, jauh berbeda dengan di bawah sana.

Di meja samping tempat tidurku, aku melihat satu-satunya barang berharga milikku, dua batu api. Juga sebuah nampan berisi sarapan untukku, segelas susu, roti panggang dengan selai, dan sebutir apel yang belum dikupas.

“Kau tawanaku kini….”

Suara itu membuatku urung mengupas apel yang sekarang sudah berpindah di tanganku. Apel itu meluncur jatuh dari tanganku, tapi pisaunya masih ternggenggam erat di tanganku yang lain.

“Bunuh saja aku, Michael.” Aku menyebutkan nama Sang Arsitek tanpa ragu.

Michael duduk di sisi tempat tidurku, membela rambutku yang kemerahan. “Rosaline, aku mencintaimu. Tinggallah di sini. Di sisiku. Jadilah bagian dari langit biru yang setiap pagi selalu kulihat ketika membuka mata.”

Aku bangkit dan duduk. Michael segera memelukku.

“Aku merindukanmu, Rosaline.”

Kuhujamkan pisau di tanganku yang seharusnya kugunakan untuk mengupas apel ke punggung kiri Michael. Kudorong tubuhnya menjauh, kutahan kedua bahunya. Mataku menatap ke arah sepasang bola matanya yang selalu mengingatkanku kepada langit biru. Lalu aku mengecup bibirnya. Bibir lembut yang juga sangat kurindukan.

Aku memejamkan mata dan merasakan hangat bibir itu. Telingaku mendengar derap langkah. Kemudian berondongan senapan. Dalam kegelapan di balik kelopak mataku, aku melihat bayangan langit biru itu tergambar begitu jelas.

**

Bogor, 1 September 2012 

§ 2 Responses to Langit Biru (Sang Arsitek dan Gadis Api)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Langit Biru (Sang Arsitek dan Gadis Api) at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: