Saat yang Tepat

1 Oktober 2012 § Tinggalkan komentar

“Aku ingin bersamamu….”

Suara merdu Thomas memasuki pendengaran Liz. Temaram lilin menerangi wajah mereka berdua di tengah halaman belakang rumah Thomas. Meja berpermukaan bulat di antara mereka terisi makanan yang siap di santap dan tentunya wine berkualitas terbaik. Ada pula hiasan kuntum-kuntum bunga mawar putih yang tersebar di atas kain penutup meja berwarna hitam.

Pandangan tajam Thomas terarah langsung kepada Liz. Ide makan malam di luar ruangan ini memang romantis, namun nyatanya angin dingin yang menderu membuat Liz agak kedinginan. Di bawah meja, tangannya saling bertaut. Jari-jarinya saling meremas, setengah karena kedinginan, sisanya karena merasa gugup oleh tawaran Thomas.

“Aku sungguh-sungguh ingin bersamamu, Liz,” ucap Thomas lagi.

Ada desir halus mengisi dada Liz. Semua perempuan ingin dilamar seperti ini, makan malam di bawah bintang-bintang, bersama wine kualitas terbaik dan mawar-mawar yang memancarkan wangi. Thomas mencoba menyunggingkan senyum untuk mencairkan keheningan yang muncul. Dia mengulurkan tangannya kepada Liz, berharap jika Liz menyambutnya.

Mata Liz mengekori gerak tangan Thomas. Ada bagian hati yang menyuruhnya untuk meraih telapak tangan itu. Bagian hati yang lain memintanya tetap dia, meningatkannya menunggu sampai saat yang tepat. Saat yang tepat.

“Tidakkah kau percaya padaku, Liz? Aku menginginkanmu…,” bilang Thomas dengan nada tulus.

Liz mengenang hubungan mereka yang sudah berjalan delapan tahun. Pertemuannya dengan Thomas terjadi ketika mereka berdua mengambil kelas mata kuliah yang sama di universitas. Meskipun berbeda jurusan, pada akhirnya mereka bisa akrab dan dekat. Pada akhirnya, di tahun ketiga mereka kuliah, Thomas meminta Liz untuk jadi kekasihnya.

Manisnya momen itu masih terkenang oleh Liz, salah satu momen terfavorit dalam hidupnya. Dan kini, ketika Thomas melamarnya, sudah seharusnya menjadi sebuah momen istimewa sepanjang hidup Liz. Sudah lama Liz menantikan ini, mereka-reka apa yang akan diucapkan dilakukan Thomas saat memintanya menjadi pendamping hidupnya. Sekarang Liz tahu, saat ini Liz sedang menjalani apa yang pernah diangan-angankannya dulu.

“Liz,” panggil Thomas lagi, “Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Aku ingin kau menjadi milikku. Dan aku jadi milikmu.”

Tubuh Liz gemetar saat mendengar kata-kata yang meluncur dari bibir Thomas. Memang berbeda dengan yang pernah Liz khayalkan dulu. Namun sorot mata tajam Thomas sama seperti yang Liz bayangkan. Sorot mata yang membuat orang-orang menatapnya penuh penghargaan, sorot mata yang menjatuhkan hati banyak perempuan kepadanya, termasuk Liz.

Thomas hanya memilih Liz. Gadis periang, ramah, dan cerdas yang ditemuinya di awal tahun kuliah. Thomas makin tergila-gila ketika Liz bisa meraih penghargaan atas inovasinya di bidang sains. Liz membuat Thomas bertekuk lutut dan dengan keberaniannya, Thomas pun berhasil mendapatkan Liz. Setelah bertahun-tahun berjuang untuk menyamai karier Liz yang melesat cepat, Thomas akhirnya baru punya nyali untuk melamar Liz. Sudah sejak lama Thomas ingin melakukan ini, akan tetapi hatinya sering ciut ketika melihat Liz yang begitu sukses.

Sekarang, Liz sudah menjadi seorang dokter spesialis bedah kosmetik yang terkenal dan Thomas berhasil mendapatkan jabatan senior arsitek di sebuah biro arsitek internasional. Mereka berdua adalah pasangan yang banyak dikagumi oleh banyak orang. Thomas memilih saat ini sebagai yang tepat untuk melamar Liz sekaligus memberi tahu Liz tentang kenaikan jabatan serta proyek besar yang akan ditanganinya sampai lima tahun mendatang.

“Bagaimana Liz? Maukah kau?” tanya Thomas. Liz menelan ludah, suaranya mendadak hilang ke dalam tenggorokannya. Di telinganya terngiang-ngiang frasa pendek, ‘pada saat yang tepat’, berkali-kali. Liz mencoba membalas pandangan Thomas, mencari keyakinan di sana. Setelah sekian lama menunggu dan nyaris pasrah, akhirnya Liz mendengar sendiri bagaimana Thomas melamarnya.

Jantung Liz berdegup kencang saat Thomas menarik tangannya menjauh dari Liz. Dia menuangkan wine itu ke salah satu gelas piala dan menyerahkannya kepada Liz.

“Minum ini Liz, mungkin bisa membuatmu tidak gugup lagi.”

“Trims, Thom.”

“Aku akan meninggalkanmu sebentar ke dalam. Aku harap kamu sudah punya jawaban saat aku kembali, Liz,” ujar Thomas yang tersenyum lalu bangkit dari kursinya.

“O-oke, Thom.”

Liz memandangi cahaya lilin yang bergoyang-goyang ketika Thomas berlalu. Tangan saling meremas lebih kencang lagi. Liz mengerti inilah saat yang paling tepat untuk memberi tahu Thomas jawabannya. Sesuatu yang sangat ingin Liz katakan selama ini. Liz hanya butuh keberanian untuk melontarkan jawaban itu kepada Thomas. Tangan Liz meraup gelas piala itu dan menatap cairan wine di dalamnya. Saat yang tepat itu memang harus diciptakannya sendiri, menunggu tidak akan membuatnya hadir.

Ketika Thomas kembali, Liz belum menyentuh minumannya. Dia melihat Thomas menduduki kembali kursinya dan di tangannya terdapat sesuatu. Mata Liz menyipit, mencoba mengenali benda apa yang dibawa oleh Thomas. Thomas mendekatkan benda itu, yang ternyata sebuah model rumah, kepada Liz. Tatapan tidak percaya Liz terpancang bolak-balik antara model rumah itu dan Thomas. Sementara itu Thomas hanya tersenyum lebar.

“Lihat ini?” kata Thomas seraya mengharapkan model rumah itu kepada Liz, “Kita akan tinggal di sini. Bersama.”

“Tapi rumah itu terlihat kecil.” Liz akhirnya bersuara untuk sekian lama. Liz merasa rumah Thomas sekarang sudah lebih dari cukup untuk ditinggali bersama. Belum juga apartemen yang Liz tempati sekarang. Rasanya mubazir untuk membangun satu rumah lagi bagi mereka berdua.

“Ini cukup untuk kita….”

Liz menarik napas panjang dan menyesap wine-nya sedikit. “Thom….”

“Ya Liz?” Thomas mengalihkan pandangannya kepada Liz. “Aku ingin mengatakan se….”

Mendadak Liz merasa begitu haus dan tenggorokannya benar-benar kering. Semua kata-kata yang sudah disiapkannya lenyap seperti oksigen yang seolah tiba-tiba hilang dari udara.

“Apa?” ujar Thomas ramah sambil membuka atap model rumah itu. Liz melotot kepada Thomas.

“Lihat ini,” suruh Thomas kepada Liz. Pandangan Liz mengarah pada dua kotak persegi panjang di dasar model rumah itu. “Kamu suka kan? Kita akan bersama di sana.”

Gelas yang ada di tangan Liz meluncur dari genggamannya. Satu tangannya mencengkeram lengan Thomas keras-keras. Liz masih bisa mengenal jika dua kotak tersebut adalah peti mati, ada dua peti mati di sana.

“Ini saat yang tepat untuk mengakui jika aku tahu perselingkuhanmu, Liz. Daniel tidak akan datang ke sini menjemputmu, Liz. Kamu hanya di sini bersamaku. Kita akan bersama.” Thomas tertawa kecil. Dia meletakkan model rumah itu di atas meja. Lalu menuang wine ke gelas sendiri.

“Aku mencintaimu, Liz. Sangat mencintaimu. Kita akan bersama selamanya, Liz.”

Thomas tersenyum kepada Liz yang terkulai di kursinya. Hanya butuh waktu singkat bagi Thomas untuk menandaskan isi gelasnya. Menuju saat yang tepat untuk bersama.

Bogor, 1 Oktober 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Saat yang Tepat at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: