Rahasia

4 Oktober 2012 § 1 Komentar

Kotak yang berada dalam pelukanku itu berguncang-guncang. Sementara itu aku berusaha berlari sekencang mungkin. Aku bahkan tidak peduli sudah berapa orang yang kutabrak sepanjang trotoar itu. Di antara hiruk pikuk Park Avenue yang selalu ramai. Isi kotak itu bergerak-gerak makin keras seolah ingin sekali meloncat keluar dari sana. Namun aku tidak bisa membiarkannya, setidaknya hingga aku melepaskannya jauh-jauh dariku.

Aku berbelok ke 425 Park Avenue, sebuah gedung yang sudah lama kosong. Sisa-sisa kejayaan sebuah bank besar Amerika Serikat yang ambruk karena krisis kredit perumahan beberapa tahun lalu. Pintu yang biasanya terkunci itu hari ini terbuka. Dengan terengah-engah aku terus menyusuri lobi luas dari gedung tersebut menuju tangga. Masuk ke dalam gedung itu yang menghadirkan suasana senyap. Seakan aku sedang berada di dunia lain, jauh dari Manhattan yang tak pernah sepi.

Napasku yang menderu sesekali diselingi suara-suara lain. Aku berhenti di tengah tangga dengan tubuh gemetar. Entah sejak kapan kotak di tanganku itu mendadak diam. Sambil terus waspada aku mulai mempertajam pendengaranku, aku menangkap langkah-langkah kaki dan obrolan, dan seseorang yang bicara kepadaku. Obrolan itu terdengar lirih dan jauh, sementara suara yang memanggilku itu begitu dekat. Mataku menjelajah sekeliling ruangan di mana aku berada. Hanya aku seorang diri di sana dan makhluk di dalam kotak itu.

Aku mengernyit jijik dan hampir memekik ketika menyadari makhluk itulah yang berbicara. Rasa mual langsung muncul di perutku, mendesak hingga kerongkongan. Segera saja aku muntah-muntah di tangga itu. Semakin makhluk itu bicara aku terus mengeluarkan isi di perutku. Sampai tak ada apa-apa lagi yang bisa kumuntahkan, namun makhluk itu terus bicara.
Kembali kupaksakan kakiku mendaki anak-anak tangga. Tidak kupedulikan keringatku yang bercucuran di seluruh tubuh. Menjauh dari makhluk ini adalah satu-satunya motivasiku untuk sampai ke atas sana. Aku tidak tahu apa yang ada di atas sana, aku hanya ingin menyingkirkan makhluk ini. Aku nyaris terhuyung jatuh saat memutuskan untuk berhenti di sebuah lantai.

Nyatanya di lantai itu aku tidak sendiri, ada seorang pemuda seumuran denganku. Pemuda berambut ikal kecokelatan itu menatapku dengan pandangan menyelidik. Beberapa detikku terbuang sia-sia saat aku memilih berhenti berjalan dan membalas tatapan pemuda itu. Dia menurunkan kamera yang menutupi sebagian wajahnya tadi. Namun aku kembali melanjutkan perjalananku, tidak seorang pun boleh tahu apa isi kotak yang kubawa ini.

“Hei, siapa kamu?” tanyanya.

Kudengar langkah-langkah kaki di belakangku yang membuatku menoleh kepada pemuda itu. Serentak pemuda itu ikut berhenti, tapi sama sekali tidak melepaskan tatapannya dariku.

“Menjauh dariku!” seruku padanya.

“Ada apa denganmu?” Suaranya terdengar khawatir.

“Pergi!”

“Aku tidak bisa pergi. Aku sedang bekerja.” Aku mengumpat keras-keras. “Aku buang-buang waktu denganmu.”

Ketika aku akan berjalan sebuah suara lain muncul di antara aku dan pemuda itu. Bukan-bukan suara makhluk dalam kotak. Suara itu memanggil sebuah nama, Petra. Aku dan pemuda itu bersitatap. Aku tidak sempat menghindar ketika pemuda itu mendorongku cepat-cepat.

“Itu kakekku,” ujarnya seraya menarikku kembali ke arah tangga.

Dalam diam kami berdua menaiki satu persatu anak tangga. Aku beberapa kali berhenti berjalan karena merasa benar-benar capek.

“Apa yang kamu dan kakekmu lakukan di sini?”

“Kami akan membangun gedung ini kembali.”

“Gedung ini adalah bukti kejayaan Lehman Brothers!” pekikku.

“Mereka sudah tidak eksis lagi sekarang. Sejarah. Aku dan kakekku akan membangun masa depan. Kami akan menjadikannya hidup kembali.”

“Omong kosong.”

“Lima tahun lagi dan kamu tidak akan mengenali tempat ini lagi.”

Aku membiarkannya menaiki tangga sendiri. Pada jarak sepuluh anak tangga antara kami, barulah dia berhenti. Detik itu juga, saat dia menatapku, aku merasa dalam tubuhku terbakar. Benar-benar panas, namun tubuhku mengigil. Aku menjatuhkan kotak di tanganku sebab tiba-tiba seluruh rasa terbakar menyakitkan itu mengumpul di tangan kananku. Tubuhku ambruk, berlutuh di antara anak tangga. Aku melolong kesakitan menahan rasa nyeri yang menjalar ke seluruh tubuh. Detik setelahnya, semuanya lenyap. Kesakitan itu seakan hanya mimpiku belaka.

Kutarik napas panjang-panjang sambil bersandar di dinding. Pemuda itu sudah berada di depanku mengulang-ulang pertanyaan apa yang telah terjadi denganku. Tangan kananku tergenggam keras-keras, aku bahkan tidak ingin membuka genggaman tangan itu.

“Ada apa denganmu?” tanyanya entah keberapa kali.

“Pergi,” usirku.

Pemuda itu bergeming di tempatnya.

“Pergi!” Aku membentak dan mendorongnya dengan tangan kiriku. “Sebenarnya siapa kamu? Ada apa denganmu?”

Pertanyaan itu tidak terjawab karena terinterupsi oleh kotak yang berguncang di atas lantai itu.

“Apa itu?” tanyanya sambil mengarahkan pandangan kepada kotak itu.

Setelah itu tangan kananku bergerak-gerak sendiri. Rasa ketakutan itu makin memenuhi diriku. Dengan tangan yang seperti ini, jelas aku tidak bisa membawa kotak itu sendiri ke atas. Satu-satunya yang bisa kuharapkan menolongku adalah pemuda itu.

“Maukah kamu menolongku?” Pemuda itu memandangku simpati sekaligus penuh rasa heran.

“Bantu aku membawa kotak itu ke atas,” bilangku lirih seraya memperhatikan genggaman tangan kananku yang mulai mengucurkan darah.

Kecepatan kami naik jauh lebih kencang dibanding tadi. Aku tidak peduli dengan rasa lelah dan sakit yang kurasakan. Aku hanya ingin semua ini cepat berakhir. Kali ini pemuda itu berjalan di belakangku, tampaknya dia khawatir tiba-tiba aku akan kehilangan kesadaran.

“Mengapa kamu mau menolongku?” tanyaku.

“Kamu mirip seseorang.”

Jawaban itu membuatku terdiam di sisa perjalanan. Aku bahkan tidak pernah mengenal keluargaku.  Akhirnya kami berdua tiba di ujung tangga. Aku mendorong keras pintunya hingga kami berdua melihat sebuah ruangan luas. Seluruh ruangan itu nyaris kosong, kecuali seseorang yang berjalan ke arah kami. Aku bisa melihat rambutnya yang beruban, begitu juga cambangnya.

“Kakek?” ujar pemuda itu tergagap.

Alih-alih menjawab sapaan pemuda itu, pria berumur yang disebut kakek itu malah menatap kepadaku.

“Aku sudah menunggumu datang.” Aku melongo mendengar perkataan kakek itu.

“Petra taruh kotak itu. Pegangi Aria.”

“Aria?” sahut pemuda yang dipanggil dengan nama Petra itu.

“Lakukan sekarang juga,” perintah kakeknya.

“Apa maksudmu, Kek?”

Bersamaan dengan pertanyaan itu aku menjerit begitu keras. Genggamanku terbuka dengan sendirinya. Aku bahkan tidak bisa menutup mataku. Aku melihat makhluk kecil itu di permukaan tanganku. Lengket di kulitku dengan tentakel-tentakelnya yang transparan. Kukibas-kibaskan tanganku, mencoba melepaskannya.

Tanpa bisa kucegah isi kotak yang berada di lantai juga ikut keluar begitu saja. Mahkluk itu melesat di ruangan kosong itu, memantul-mantul seperti bola. Mereka adalah kumpulan makhluk-makhluk bertentakel yang muncul dari tanganku ini. Mereka bagian dari diriku.

Kudengar Petra yang mundur menjauh dariku. Namun kakek tua itu masih mempertahankan jarak yang sama denganku. Makhluk itu kembali bicara dengan suaranya yang sejelas suara manusia. Dia yang berada di tanganku itu kemudian melompat masuk ke bola transparan itu.

“To-tolong aku.”

“Karena itulah aku di sini, Aria.”

“Ka-kau tahu namaku.”

“Tentu saja, Aria. Aku tahu semuanya. Aku arsitek semua ini.”

Tak ada sepatah kata yang bisa keluar dari mulutku.

“Petra akan menyelesaikan semuanya.”

Tubuhku gemetaran. Sementara bola-bola itu bergulir di dekat kaki si kakek. Kakek itu sama sekali tidak risih dengan bola-bola itu.

“Kutukan itu akan berhenti.”

Kakek itu berbalik dan mendadak bola itu terbakar dengan jeritan-jeritan melengking yang menyakiti telingaku. Badanku semakin menggigil. Aku mengamati bagaimana api kekuningan itu menjilat-jilat bola itu sampai habis. Rasa jijikku kemudian berangsung berubah. Aku seolah mendengar permintaan tolong berulang kali dari makhluk-makhluk kecil itu.

“Api, Petra. Aku sudah memberikannya. Tak apa jika gedung ini terbakar. Kita akan membangunnya kembali.”

Kini aku menyadari jika makhluk-makhluk kecil itu adalah bagian dariku. Aku yang terkutuk, namun tidak semestinya aku mati dengan hina seperti ini. Sosok kakek itu kini sudah lenyap. Tinggal aku dan Petra di ruangan itu. Permintaan tolong itu sekarang berubah menjadi tangis pilu.

“Seharusnya aku membiarkan api menghabiskanmu lebih dulu,” ucap Petra yang bersamaan dengan itu seluruh ruangan langsung dipenuhi api.

“Aku tidak akan mati,” kataku penuh amarah.

Api menjalar cepat ke seluruh bagian ruangan. Asap tebal bergulung-gulung di antara aku dan Petra. Sekilas aku melihat sosok kakek tersebut dalam Petra. Namun dengan cepat bayangan itu memburam dan hilang, yang tersisa hanya dendam. Aku tak pernah mengenal siapa kakek itu, siapa Petra, dan mengapa mereka berdua menginginkanku mati.

Aku pernah membenci diriku sendiri, namun aku tidak ingin mati tanpa alasan seperti ini. Kutukan ini merupakan bara dendam yang baru saja berkobar menjadi api. Tak ada lagi rasa sakit di tubuhku ketika satu makhluk kecil muncul di telapak tanganku. Kedua mata kecilnya menatapku seolah ia menganggapku sebagai ibunya.

Bagaimana aku bisa membiarkan diriku sendiri mati di sini?

Atap-atap ruangan mulai runtuh. Hawa panas mengisi seluruh ruangan itu, menghabiskan oksigen dengan cepat. Sesaat kemudian makhluk itu melesat dari tanganku, lalu tertangkap lidah api dan terbakar dengan jeritan memilukan.

“Aku tidak akan mati.”

“Tidak. Aku tidak akan membiarkan seseorang yang mirip sekali dengan ibuku mati.”

Aku terenyak.

“Kamu boleh pergi, Aria.”

“Terima kasih,” jawabku sambil melangkah melewatinya.

Sesaat kemudian aku menyempatkan berhenti dan mendorong tubuh Petra ke dalam amukan api. Dia tidak sempat menghindar dan tubuh itupun jatuh ditelan api. Aku tertawa keras-keras sambil mengenggam tanganku keras-keras. Ada yang harus kulindungi di balik genggaman tanganku.  

Bogor, 4 Oktober 2012

§ One Response to Rahasia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Rahasia at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: