(Bukan) Lelakiku

18 Oktober 2012 § 2 Komentar

Lilin itu berkerlip, sesekali cahayanya berayun karena hembusan angin. Di atas meja terdapat sebotol anggur dan dua buah gelas piala—milikku, milikmu. Tangan kita saling menggenggam di tepian meja. Kedua mata kita sedari tadi tak lepas saling memandang. Di bawah langit gelap penuh gemintang itu hanya ada kita. Seperti yang selalu aku inginkan, kita yang jatuh cinta dan dunia seolah hanya kita punya berdua.

Kamu menarik tanganku dengan lembut, lalu menciumi punggungnya. Aku tersenyum, tersipu karena aliran darah yang menyemburkan hangat ke seluruh tubuh. Tak peduli lagi aku kepada angin malam yang sedari tadi kurisaukan. Sebab, kehadiranmu laksana matahari yang memancarkan panas yang lembut kepadaku. Kamu mengecup pergelangan tanganku, membawanya lebih jauh hingga aku bisa merasakan permukaan kulit wajahmu yang selama ini hanya bisa kureka-reka. Momen itu membuat napasku tertahan, seluruh fokusku terkumpul di ujung-ujung jemariku yang kau tarik hingga menyinggung hasil bercukur pagi tadi. Sampai aku bisa menjamah kedua bibirmu yang biasanya sepanjang malam kubayangkan. Kalau saja aku bisa menukar ujung jariku dengan bibirku sekarang juga—aku ingin di sana, merasakannya.

Dadaku berdesir saat kamu menghentikan semua itu. Pandanganmu teracung kepadaku, seolah ingin mencungkil seluruh rahasia yang ada di situ. Jantungku berdegup begitu kencang hingga kupikir kamu bisa menangkap detaknya lewat ujung-ujung jariku yang kaupegang. Dan aku… ini momen ini berhenti di sini. Agar aku bisa selalu memilikimu, seperti kamu selalu menyimpan hatiku.

Di sini kita saling cinta, kita hanya berdua, semestinya kamu mengerti apa yang aku inginkan, seperti juga aku tahu apa yang kamu mau.

“Maukah kau ke sini?”

“Ke mana?”

“Duduk di pangkuanku. Biar tiada lagi jarak antara kita….”

Kamu tahu aku tidak akan menolak. Bukan hanya di pangkuanmu, jika aku bisa masuk dan menjadi satu dalam jiwamu, aku akan melakukannya. Sekarang, aku ada di pangkuanmu, satu tanganmu merangkul pinggangku, tanganmu yang lain bermain-main di wajahku. Kita tak saling bertukar kata, tapi aku benar-benar tahu jika kita mengerti satu sama lain.

Kemudian lilin yang sudah redup itupun padam. Aku meraba tepian rahangmu dalam temaram cahaya rembulan. Aku melihat cahaya bintang yang terpantul di bola matamu yang hitam pekat. Aku ingin melebur di sana, menjadi bagian dari dirimu. Lewat sebuah kecupan, kita pun bersatu. Tak ada lagi jarak yang membentangi, bahkan angin tak lagi berdaya karena panas lembut yang kaukeluarkan tadi sekarang berubah panas. Dalam usapan tanganmu dan deru napasmu yang menyembur di atas kulitku, aku terbakar olehmu.

Semua gerakan itu terhenti ketika suara gelas yang pecah itu mengusik.

Aku menatap pecahan gelas di atas lantai tersebut. Isinya, yang berupa orange juice, berceceran dan mengalir hingga ujung sepatuku. Pintu kedai terbuka, lalu aku melihat dua orang pengunjung, kamu dan kekasihmu masuk. Aku mendesahkan napas, lalu berpaling lagi kepada tulisanku yang belum terselesaikan—di situ, kamu selalu bisa jadi milikku.  

Bogor, 18-10-12

§ 2 Responses to (Bukan) Lelakiku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading (Bukan) Lelakiku at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: