Setumpuk Buku Ramalan

18 Oktober 2012 § 1 Komentar

Mimpi itu datang berulang kali. Aku dan kamu, kamu dan kekasihmu. Kini aku duduk dengan setumpuk buku ramalan, mencoba menafsirkan arti dari mimpi tersebut. Mengapa kamu selalu menyusup dalam bunga tidurku? Apa maksudmu?

Gelas berisi orange juice-ku dipenuhi titik-titik embun. Esnya sudah mencair karena begitu lamanya aku diamkan. Aku terlalu sibuk berkutat dengan setumpuk buku ramalam ini. Berjam-jam waktu kuhabiskan untuk mencari makna, justru kian kaburlah apa yang coba kuartikan. Buku-buku ramalan itu tak bisa memberiku kesimpulan pasti tentang mengapa kamu masuk ke dalam mimpiku.

Alih-alih mengartikan mimpi, akhirnya aku mulai mencocokkan tanggal lahir kita. Ah, buku-buku ramalan ini mengatakan bahwa kita cocok. Sementara kamu dan kekasihmu sekarang seharusnya menjadi pasangan yang sama sekali jauh berbeda. Hal tersebut menyiratkan bahwa aku masih punya harapan besar dan kesempatan untuk memilikimu. Bukan hanya duduk dari jauh dan mengamatimu bersama kekasihmu, setiap hari.

Beberapa waktu berlalu, sama sekali tidak ada pertanda jika hubunganmu dengan kekasihmu akan berakhir. Tidak pula ada kesempatan untukku bisa menyapa dan berkenalan denganmu. Semua yang ada di kafe itu berjalan seperti biasa—aku yang duduk di pojok hanya untuk memperhatikanmu.

Pada suatu malam sebuah firasat menyelinap dalam mimpiku. Di sana aku diharuskan melakukan sesuatu agar aku bisa mendapatkanmu seutuhnya. Aku melihatku diriku melakukannya dengan sempurna dalam mimpi itu. Akhirnya, di kafe itu kamu tidak lagi duduk bersamamu, aku tidak lagi menempati pojokan kafe—kita bersama di sebuah sofa di sudut dengan orange juice untukku dan kopi hitam untukmu.

Satu hal yang bisa membuat semua itu menjadi kenyataan: membunuh kekasihmu.

Cinta yang begitu besar ini membuatku merasa mampu melakukan apapun. Bagimu, untuk dapat bersamamu, apa saja akan kulakukan. Termasuk mengikuti firasat yang muncul di dalam mimpiku tersebut. Saat aku mengeceknya di tumpukan buku ramalanku, ah, entah hanya kebetulan atau memang mereka mengerti, tapi buku-buku itu menyarankan hal yang sama: melakukan firasat yang kudapat itu. Aku makin percaya dan niatku pun kian tebal.

Hari itu, di tengah kafe yang sedang sepi. Aku memberanikan diri untuk mengajak kekasihmu bicara di toilet wanita. Di balik blus aku sudah menyiapkan sebuah pisau tajam. Aku tidak ingin membuat kekasihmu mati mudah, itu terlalu baik bagi kekasihmu. Mengirisnya sedikit-sedikit pasti akan bisa membuatnya merasakan perih dan pedih yang selama ini kurasakan saat mendambamu.

Aku mengunci pintu toilet, sementara kekasihmu memandangku kesal. Mungkin selama ini kekasihmu sudah tahu jika di pojok selalu ada aku yang mengintai prianya. Kemudian, tanpa tedeng aling-aling, aku mengambil pisau itu dan menusukkan ke ulu hati kekasihmu. Aku menekapkan telapak tanganku di mulutnya agar kekasihmu tidak berteriak. Aku tersenyum lebar saat melihat matanya yang melotot kepadaku, sementara aku menarik perlahan pisau itu keluar dari perut kekasihmu. Lalu sekali lagi aku menusukkannya pelan-pelan, dalam gerak lambat, sambil tertawa kecil. Ya ampun, kalau aku tahu dari dulu akan semenyenangkan ini membuat kekasihmu menderita, aku akan melakukannya sejak dulu, dan kamu bisa menjadi milikku lebih awal.

Tiba-tiba pintu yang tertutup itu terbuka, aku melihat kamu.

Kamu balas memandangku. Aku mengerjapkan mataku.

“Hei, bukumu jatuh,” katamu seraya mengulurkan sebuah buku ramalan yang tadi sedang kubaca.

“Terima kasih,” ujarku sambil menguap. Ternyata aku ketiduran ketika sedang menafsirkan mimpiku tentangmu.

Kukembalikan buku itu ke tumpukan buku ramalan yang kubawa. Aku melirik kamu dan kekasihmu yang masih segar bugar. Dalam tidurku tadi, aku mendapatkan firasat.  

Bogor, 18-10-12

§ One Response to Setumpuk Buku Ramalan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Setumpuk Buku Ramalan at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: