Kembang Api Juli

19 Oktober 2012 § Tinggalkan komentar

Setiap bulan Juli, ada suatu hari saat kafe ini bukan hingga tengah malam. Hari itu ketika diadakan perayaan kemerdekaan yang disertai pesta kembang api meriah menjelang tengah malam. Kafe ini terletak di tepi teluk, lantai keduanya memberikan akses langsung ke arah jembatan—di mana kembang-kembang api diluncurkan. Aku, sebagai pelanggan tetap kafe ini, tahu benar pojok di mana aku bisa mendapatkan pemandangan terbaik melihat kembang api.

Orange juice mendinginkan tanganku sementara aku mendaki tangga ke atas. Alunan piano Ravel memainkan Pavane terdengar di seluruh ruangan, memberikan kesan romantis. Di bagian bawa kafe suasananya lebih ramai, sementara di atas sini dengan penerangan yang remang membuat kursi-kurisnya diisi oleh pasangan-pasangan. Aku harap pojok favoritku belum diisi siapapun, karena saat aku tiba di atas, hampir semua kursi penuh. Padahal ini hari kemerdekaan, bukan hari Valentine, tapi tetap saja pasangan-pasangan yang dimabuk cinta tidak akan repot-repot memikirkan hari apa ini, yang penting mereka bisa bertemu.

Sejenak aku terdiam di depan pojokan yang biasa kuisi setiap malam perayaan kemerdekaan. Kursi itu terisi olehmu yang biasanya datang bersama kekasihmu. Namun malam ini kamu sendirian, hanya ada secangkir kopi di atas meja dan buku Fahrenheit 451 dari Ray Bradbury. Bagian sofamu yang masih bisa didudukinya pastilah untuk kekasihmu, maka mungkin aku bisa meminta kursi di seberangmu untuk kududuki. Setidaknya ketika kamu dan kekasihmu mulai bermesraan, aku bisa memutar kursi dan menghadapkannya langsung ke teluk.

Dan aku mendekat perlahan kepadamu.

“Hei,” sapaku.

Senyum ragu-ragu tertera di wajahmu. “Hei,” balasmu pendek. Matamu mengamatiku dengan pandangan tidak enak.

“Apakah kursi ini sudah ada yang menempati?” tanyaku sambil menunjukku kursi di seberangmu, “kalau belum boleh aku mendudukinya?”

“Kamu yang tempo hari ketiduran sampai bukunya jatuh ya? Kamu boleh duduk di situ. Kursi itu kosong.”

Aku segera mendudukinya sambil menggumamkan terima kasih. Masih berdebar jantungku karena kamu mengingatku. Semoga kamu tidak pernah tahu selama ini aku selalu memperhatikanmu. Setelah berbasa-basi sedikit, kamu kembali menekuni bukumu. Aku pun mengambil buku bacaan yang kubaca dari dalam tasku, Super Sad True Love Story.

Alunan Pavane berganti dengan salah satu komposisi musik klasik paling terkenal Canon in D minor milik Pachebel. Dengan jantung berdetak kencang, aku mencoba fokus kepada novel di tanganku. Musik klasik yang seharusnya menenangkan malah membuatku makin kalut. Selama ini aku selalu mendambakan momen seperti ini. Sekarang, setelah biasanya aku hanya melihat sosokmu dari jauh, aku bisa duduk sedekat ini denganmu. Seharusnya aku bisa membuat kamu terkesan dengan mengajakmu ngobrol. Namun, sebagai pembaca buku aku tahu, pemilik wajah serius ketika membaca buku seperti kamu, tidak akan suka diganggu ketika sedang sibuk dengan buku.

Tahu-tahu saja, waktu beranjak menuju tengah malam. Dari kursiku sekarang, aku harus duduk berputar jika ingin melihat jembatan dan kembang api. Rasanya ingin sekali aku menawar bagian sofa yang kosong itu untuk kududuki. Jadi, aku bisa melihat kembang api sambil bersandar malas di punggung sofa merah maroon itu. Kalau aku meminta sekarang, di saat jeda membacanya, mungkin mood-mu akan baik menghadapiku. Aku melirikmu yang sudah menutup buku dan menyesap kopi dari cangkirmu. Di dalam kepalaku aku mulai menyusun permintaan-permintaan bagaimana bisa mendapatkan posisi duduk di sisimu itu.

“Aku yakin kamu tahu kalau posisi terbaik melihat kembang api ada di sofa yang kududuki. Makanya kamu datang menghampiriku, kan?”

Aku mengangkat wajah dari lembaran novelku. Tebakanmu hampir semua benar. “Apa kekasihmu tidak datang?”

Kamu tersenyum. “Malam ini dia bilang terlalu lelah bekerja.”

“Apa… aku boleh duduk di situ?”

“Tentu saja.”

Setengah tak percaya aku berpindah duduk ke sisi sofa di sebelahmu. Sofa yang dirancang untuk diduduki dua orang ini terasa nyaman untukku—terlebih ada kamu di sebelahku. Sekarang jantungku bukan hanya sekedar berdegup untuk menjagaku tetap hidup, tapi juga karena tekanan darimu. Aku merasakan perasaan aneh yang mengaliri tubuhku, yang membuatku serasa tidak ingin melihatmu karena aku malu.

“Ah, sebentar lagi waktunya. Ayo tutup bukumu,” katamu.

Kuletakkan buku tersebut di atas meja. Lampu di ruangan itu sebagian dimatikan. Cahaya dari luar kafe menerangi ruangan. Termasuk wajahmu, yang terlihat seperti siluet, seolah aku bisa meraba bayangannya. Aku menggeser tubuhku lebih dekat kepadamu, mengisi ruang kosong yang tadinya ada di antara kita. Dari posisi sedekat ini aku bisa menciumi wangi tubuhmu yang ditimbulkan oleh parfum dengan aroma menyenangkan. Rasanya aku ingin sekali menciumnya, bukan hanya dari sini, tapi aku ingin mengendusnya di lehermu, di belakang telingamu, di pergelangan tanganmu, di dadamu. Aku menghela napas, mengerling kepada tanganmu yang terletak di atas pahamu. Tidakkah itu begitu menggoda untuk kugenggam?

“Lex,” panggilku.

Kamu menoleh, menatapku lekat-lekat. Kali itu aku berusaha bertahan meski ingin sekali berpaling. Tepat ketika terdengar deru kembang api yang diluncurkan di udara, aku menahan kepalamu melihat ke sana. Dengan tanganku di pipimu, aku menarik wajahmu mendekat kepadamu. Bibir kita saling bertemu. Aku merasakan gigitanmu yang lembut. Aku merasakan gerakan lidahmu. Aku merasakan kembang api meledak di dalam perutku.

Kali ini, kau izinkan aku mencuri momen kembang api Juli ini darimu.

Bogor, 19-10-12

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Kembang Api Juli at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: