Lentera Jagat Saputra

20 Oktober 2012 § Tinggalkan komentar

Sejak aku dengan lancang mencuri momen kembang api Juli darimu, aku menghindari sering-sering datang ke kafe tersebut. Malam itu, tepat tengah malam ketika kembang api sudah habis luruh bersama gelapnya langit, aku segera beranjak dari tempatku duduk. Bahkan kamu belum sempat menanyakan namanya. Aku tidak bersikap sok Cinderella, tapi nyata-nyatanya pergi terburu-buru membuat novel Super Sad True Love Story yang kubawa tertinggal di meja tempat kita berbagi.

Maka, aku mengalihkan waktu-waktuku biasa duduk di pojok kafe itu dengan mengunjungi toko buku langgananku. Di sini, aku memilih satu sudut di mana terletak kursi-kursi yang memang disediakan untuk membaca. Kali ini ketika aku datang, mataku langsung tertuju kepada standing banner yang memberitahu jika akan diadakan talkshow dengan seorang penulis. Sejenak aku berhenti dan membacanya, bukunya berjudul ‘Kupu-Kupu Semesta’ dan penulisnya bernama Lentera Jagat Saputra. Sambil melangkah masuk ke dalam toko buku, aku mengingat-ingat apakah aku pernah membaca karya dari penulis tersebut sebelumnya.

Aku melangkah di antara deretan rak buku sambil menggumamkan lagu Ghost of You milik My Chemical Romance. Tiba-tiba di tengah-tengah tatapanku tertuju kepada seseorang yang kukenal, kamu. Dari puluhan atau mungkin ratusan kali kunjunganku ke sini, sama sekali aku tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk bertemu denganmu. Memang aku baru tahu jika kamu ternyata suka membaca ketika malam kembang api lalu, tapi tidak pernah terpikirkan kalau kamu juga datang ke tempat ini.

Dengan manuver halus aku segera berpindah ke gang yang lain, agar kamu tidak melihatku. Bukannya aku tidak mau bertemu lagi denganmu, tapi aku merasa belum siap setelah kejadian itu. Aku terus menerus mengira-ngira apa yang kamu pikirkan kepadaku. Apakah kamu menganggapku murahan karena mau saja mencium bibirmu malam itu? Akan tetapi kamu membalas ciumanku, ya, ya, laki-laki mana yang mau melewatkan kesempatan seperti itu? Seharusnya kalau kamu memang setia kepada kekasihmu, kamu tidak akan melakukannya, membalas ciuman itu. Di antara deru napas yang kita pertukarkan dan tubuh yang terhubung, kamu mengantarkan harapan lewat sana. Sesuatu yang tadinya asing untukku, sekarang mulai tumbuh—aku berharap.

Aksi mengendap-endapku terhenti  saat seseorang memanggilku—bukan namaku, hanya ‘hei’ pendek—dan aku menoleh. Aku menoleh karena itu refleks otomatisku ketika mendengar seseorang yang kurasa kukenal menyapaku. Dia yang memanggil, aku tidak mengenalnya, aku hanya tahu dia—dia itu kamu. Aku langsung memalingkan wajah lagi dan menunduk di balik rak buku. Dari kerlingan mataku aku melihat kamu yang bergerak ke arahku.

Aku pun dengan cepat bergerak, berlari ke gang lain sambil terus menundukkan tubuh agar kamu tidak melihatku. Sempat aku menabrak beberapa orang, namun aku tidak peduli. Aku berhenti ketika aku menjatuhkan setumpuk buku, karena membuatku berhenti dan memunguti buku-buku itu terlebih dahulu. Beberapa buku sudah ada di pelukanku ketika ada seseorang membantuku. Ya ampun, aku lupa kalau aku sedang menghindarimu. Sekarang, kamu ikut berjongkok di depanku dan mengambili sebagian buku-buku yang terserak.

“Terima kasih,” kataku cepat tanpa menatap matamu.

“Dhanissa.”

Baru saja kamu menyebut namaku. Di sini, aku terhenyak, dengan jantung berdegup cepat dan wajah yang tiba-tiba menghangat.

“Aku harus pergi,” ujarku buru-buru. Aku mengatakan itu karena itu satu-satunya kalimat yang terlintas di kepalaku.

“Tunggu dulu.”

Kamu meraih tanganku—satu pencegahan baik agar aku tidak lari. Aku sendiri tidak berusaha melepaskan diri ketika mendengarmu bicara—bukan denganku. Seolah genggaman tanganmu ini menyedot habis semua energiku. Sensasi yang sama ketika kita berciuman waktu itu terulang kembali ke tubuhku. Aku seolah bisa mendengar kelepak kupu-kupu di perutku, tapi yang kurasa seolah ada naga yang baru menggeliat bangun di dalam sana. Semua karenamu.

“Dhanissa, aku ingin mengembalikan bukumu.”

Genggamanmu terlepas, sebagai gantinya tanganmu menjulurkan Super Sad True Love Story milikku.

“Aku membawa ini di dalam tasku sejak malam itu, agar aku bisa mengembalikannya kepadamu saat kita bertemu. Sayangnya, sepertinya kamu nggak pernah datang ke kafe itu lagi. Beberapa hari lalu aku datang ke sini dan melihatmu, kupikir sekarang kamu sering datang ke sini. Aku sudah menyangka kita bisa bertemu lagi di sini.”

Dadaku berdesir. Beberapa hari lalu, bagaimana aku bisa tidak tahu kalau dia datang ke tempat yang sama? Aku meraih novel itu cepat-cepat dari tanganmu. Lalu segera berbalik meninggalkanmu tanpa sepatah kata. Ketika aku melangkah di deretan rak, aku memeriksa novelku tersebut. Khawatir jika kamu merusak, melipat, atau melakukan apa pun kepada novel yang belum sempat kuselesaikan. Aku melihat namaku tertulis di pojok atas halaman pertama novel tersebut. Ketika aku membuka halaman lainnya, selembar kertas jatuh dari sana.

Aku terdiam dan berhenti berjalan. Ada suara ramai dari sudut toko buku. Ternyata talk show-nya sudah akan dimulai, seorang MC wanita memanggil si penulis, Lentera Jagat Saputra. Aku tidak terlalu peduli, aku lebih penasaran dengan kertas yang melayang jatuh tadi. Kupandangi tulisan yang tertera di kertas itu hingga aku tegak berdiri lagi. Lalu aku terpaku kepada sosokmu, Lex yang kutahu, atau Lentera Jagat Saputra—ya, aku menyunggingkan senyum kepadamu. Aku tidak tahu apakah kamu melihatku, tapi aku benar-benar berterima kasih untuk sederet nomor telepon yang kamu sisipkan di novelku itu.

Bogor, 20-10-12

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Lentera Jagat Saputra at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: