Hujan Abu di Hari Rabu

21 Oktober 2012 § 1 Komentar

Yang paling menyedihkan adalah jatuh cinta sendirian. Yang paling menyakitkan adalah patah hati sendirian. Yang paling mengenaskan adalah kita mengalami semua itu sendiri, tanpa seorang pun tahu.

Aku duduk termangu di kursi goyang di teras belakang rumahku. Di pangkuanku terletak sebuah guci marmer warna putih. Di atas meja yang terletak di sampingku ada sebelas orange juice dan novel Super Sad True Love Story yang belum sempat kuselesaikan. Pandanganku menerawang ke halaman belakang yang basah disiram hujan. Sekarang hujan sudah berhenti, tak ada lagi suara yang memaksa mengisi pendengaranku. Rumah ini sepenuhnya sunyi, yang paling sunyi selama dua puluh empat tahun aku tinggal di sini.

Seminggu yang lalu begitu ramai di rumah ini. Kini sunyi senyap, semua orang sudah pergi. Bahkan satu-satunya yang kukenal sebagai keluargaku sudah meninggalkanku. Di pangkuanku, dalam guci marmer itu terdapat abu ayahku. Sudah seminggu, seharusnya di hari Rabu ini aku menaburkan abu ayah di sekitar rumah, sesuai dengan permintaannya.

Aku tidak pernah tahu ternyata seberat ini melepaskan satu-satunya hal yang tersisa dari sosok yang paling kusayangi. Aku punya foto, video, berbagai kenangan yang tersimpan di otak, namun semua itu tidak bisa mengembalikan kehadiran nyata seseorang.

Maka aku memberanikan diri menghubungi nomor ponsel yang waktu itu kamu berikan kepadaku. Aku mendengar suaramu yang berat di ujung sana, tapi lidahku kelu. Setelah beberapa kali kamu menanyakan siapa aku barulah aku bisa menjawabnya.

“Aku Dhanissa.”

“Oh hei, bisa kau telepon aku lagi nanti?”

Aku menggeleng. “Please, Lex. Aku cuma butuh kamu sebentar saja.”

“Ada apa?” tanyamu terburu-buru.

“Teruslah berbicara, Lex. Cerita apa saja kepadaku…,” kataku sambil berjalan turun dari kursi goyang. Aku melangkah menuju tangga ke lantai atas.

“Apa maksudmu?” sahutmu.

“Hmm… coba ceritakan harimu kepadaku…,” kutapaki tangga ke atas pelan-pelan.

“Apa kau baik-baik saja, Dhanisa?”

Sekarang aku berdiri di beranda lantai dua yang menghadap ke halaman belakang. Udara segar sehabis hujan memasuki paru-paruku. Ayah sering menggambar di sini dan aku duduk di sebelahnya membaca buku. Kami berbagi hari-hari setelah ibu meninggalkan kami. Duka dan kepedihan yang diganjar dengan usaha saling mengenal satu sama lain. Sampai akhirnya, kami tak perlu bicara untuk saling mengerti.

“Ayo, cerita sajalah….”

Hujan rintik-rintik turun lagi. Peganganku di guci itu mengerat, rasanya tak ingin aku melepaskannya.

“Aku tak punya cerita.”

“Apa kamu sedang bersama kekasihmu sekarang?” Aku membuka tutup guci tersebut.

“Ya,” jawabmu singkat.

“Apa kalian berencana menikah?”

Sesaat kamu terdiam. “Hmm… ya, ah aku belum memikirkan itu.”

“Kamu tidak yakin kepadanya.”

“Aku menyayanginya,” kamu menjawab dengan suara ketus.

Aku menyebarkan abu dari dalam guci marmer itu ke udara. Butiran abu tersebut langsung jatuh bersama butir-butir hujan. Jari-jariku rasanya gemetar saat melakukan itu. Aku menahan perasaan Aku terus melakukannya sampai abu di dalam sana habis.

“Maaf, jika aku menganggo soremu. Aku hanya tidak ingin patah hati sendirian.”

Begitu saja sambungan telepon itu berakhir. Begitu saja ayah kembali pulang ke rumah ini, tempatnya selalu tinggal.

Bogor, 21-10-12

§ One Response to Hujan Abu di Hari Rabu

  • syafriadi s.yatim mengatakan:

    Saya suka sekali kalimat pertama dari kisah ini, spt lead sebuah berita, menyampaikan pesan moral seluruh tulisan. Saya sdh lama tidak baca teori sastra, apakah ini termasuk Cerita Alit, alias cerlit, krn jauh lebih pendek dari cerpen umumnya. Setelah intro seperti lead berita tadi, emosi dibangun dengan kalimat kalimat yang runtut dan kental emosinya. Saya suka sekali.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Hujan Abu di Hari Rabu at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: