Seorang Laki-Laki Bersepatu Futsal

23 Oktober 2012 § Tinggalkan komentar

Aku terpekur seorang diri di bawah pohon kamboja berbunga merah jambu. Di depanku berdiri sebuah rumah dengan arsitektur minimalis. Dindingnya berwarna putih gading dipadu dengan aksen kayu dan batu alam. Angin berembus pelan menggoyangkan rambutku yang terikat dan kini berantakan. Di tanganku ada sebuah kunci, beberapa meter di depanku kunci itu akan berfungsi semestinya.

Orange juice dalam botolku sudah habis kuteguk. Rasa haus dan penasaran masih memenuhi kerongkonganku. Namun bukan sekedar air untuk mengusir itu. Aku butuh kehadiranmu. Kalimat darimu terngiang dalam telingaku.

“Datang ya,” aku bicara kepadamu tanpa basa-basi.

Suara napasmu yang menderu-deru tertangkap oleh pendengaranku. Aku bahkan tidak menanyakan apa yang kamu sedang lakukan sekarang. Sudah beberala jam berlalu sejak pertemuan kita pagi tadi. Aku rasa aku tidak lagi mendegar hiruk pikuk Kota Tua di belakang,u, justru sorak-sorai yang menggema.

“Datang kan?” tanyaku sekali lagi, “Lentera….”

“Baiklah,” sahutnya cepat dan telepon itu terputus. “Kita ketemu di Taman Koleksi.”

Sambungan itu terputus. Aku berjalan mundur dan menjauhi rumah itu. Rumah yang kutahu dari denah kesebelas yang kamu temukan di moleskine ayahku. Denah yang dijuduli, ‘Untuk Dhanissa’. Oleh karena itu, aku ingin memberimu penghormatan untuk membuka pintu rumah itu yang pertama kalinya bersamamu.

Langit berwarna abu-abu pekat ketika aku tiba di Taman Koleksi. Terletak di halaman depan kampus IPB Baranangsiang dan di samping Mall Botani Square, menjadikan taman ini tidak hanya menjadi monopoli mahasiswa. Pohon-pohon besar yang menaungi menjadikan tempat ini berudara sejuk.

Hujan turun tak lama kemudian. Awalnya hanya berupa rintik lama-lama rintik itu bersatu dan menjadi butiran. Taman koleksi kini kosong, hanya aku sendiri dengan payung jinggaku. Rasa dingin ini membuatku kelu, apakah kamu akan benar-benar datang?

Untukmu aku bukanlah siapa-siapa. Aku hanyalah seorang perempuan yang berani mencuri ciumanmu di momen kembang api Juli lalu. Betapa berani aku memintamu datang jauh dari Jakarta menuju Bogor hanya untuk menemuiku?

Aku berani karena aku mengharapkanmu, mencintaimu.

Tampias air hujan dari ujung payung sudah membasahi kemejaku. Lenganku basah, begitu pula sepatu dan ujung jeansku. Akan teti aku tetap menunggumu.

Di antara derai hujan aku melihat seseorang berjalan ke arah Taman Koleksi. Sosok itu kabur karena derasnya hujan yang turun. Beberapa kali aku melihatnua terpleset saat berjalan ke arahku. Makin dekat aku tahu, laki-laki bersepatu futsal yang menembus hujan itu kamu. Kugenggam erat kunci yang ada di kantong jeansku. Di wajahku yang basah kuciptakan senyum untuk menyambutmu. Lain kali mungkin aku boleh berharap lebih banyak kepadamu.

Kuningan-Bintaro, 23-10-12

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Seorang Laki-Laki Bersepatu Futsal at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: