Satu Senin Siang Biasa

3 Desember 2012 § 5 Komentar

Hanya satu Senin siang biasa, aku terdampar di jejeran bangku kantor Imigrasi Bogor Kelas II. Bangku berderet itu dipenuhi orang-orang yang hendak membuat paspor dan mengambil paspor. Setelah menyerahkan tanda bukti pengambilan, aku duduk termenung. Aku kehabisan bacaan, novel City of Ashes yang kubawa sudah kutamatkan. Ini masih menjelang pukul dua siang, mungkin aku harus menunggu tiga puluh menit sampai satu jam ke depan. Mau apa lagi aku sekarang? Berkicau di twitter sampai bosan?

Saat sedang menatapi layar tablet, sesekali aku memandang ke depan. Ke arah meja panjang tempat petugas menerima pendaftaran paspor dan menyerahkan paspor yang diambil. Kutajamkan telingaku tiap kali si petugas berseru, jangan sampai namaku terlewat. Udara yang gerah karena pendingin ruangan yang tidak bekerja, membuat acara menunggu itu terasa makin membosankan. Aku harap aku tidak terjebak di tempat itu terlalu lama.

Kemudian… laksana pada pariwara-pariwara, dalam gerak lambat, suram yang melingkupi ruangan itu terangkat. Ada cercah cahaya, langit yang biru, wajah-wajah ceria, warna-warna pakaian yang benderang, dan tentu saja sosok matahari.

Matahari yang kumaksud adalah dia.

Sejenak mataku tak mau lepas dari sosok pria itu. Tinggi, kurus, wajah tirus, rambut ikal berantakan, hidung mancung, dan jambang yang menghiasi rahangnya. Pada Senin siang itu bahkan gaya berpakaiannya tidak bisa dikatakan sebagai orang kantoran–jaket hitam-merah, jeans belel, dan sendal gunung model jepit. Selain wajahnya yang cemerlang, sepasang mata hitamnya terlihat bening dan elok dengan sorot yang tajam. Ah, bukan tipe-tipe mata Elang yang dipuja, sepasang mata itu sederhana–namun sekali melihatnya seperti lubang hitam, ia menarik seluruh perhatian.

Aku bisa menceritakan dia dengan detail karena aku selalu coba curi memandangnya. Kuabaikan tabletku, ponselku, malah aku keluarkan novelku. Mataku mengarah padanya yang berdiri di sebelah temannya dalam balutan kemeja biru tua yang lebih rapi di depan meja panjang pendaftaran. Lalu ia mundur, karena kursi-kursi sudah dijejali orang-orang, ia berdiri, bersandar di dinding hanya sejauh satu meter dariku. Napasku menderu oleh jantung yang tiba-tiba berdetak. Bibirku menyunggingkan senyuman. Ayolah, semua wanita menyukai pria-pria elok, setidaknya memandang mereka bisa jadi obyek penghibur di kala suntuk menunggu. Itu yang kukira terjadi kepadaku, seperti yang sudah-sudah dan pernah kulalui aku mengambil tiap kesempatan bisa melihatnya.

Setiap kesempatan untuk mengamatinya seperti yang sudah-sudah. Namun ada yang berbeda kali ini, ada dorongan kuat sekali untuk bisa mengenalnya. Tahu siapa namanya. Siapa dia. Aku berpikir keras untuk mendapatkan cara terefektif. Sayangnya, semua yang terlintas terasa seolah begitu buatan, tidak natural. Kalau begitu maka cap agresif akan terlayang padaku darinya. Hmm… aku tidak ingin merusak kesan pertama.

Sempat pula aku berpikir, apakah semua ini hanya dramatisasiku saja. Akan tetapi, rasa ingin tahu dalam benakku itu membuatku meyakini sesuatu: aku harus melakukannya, mengenalnya.

Cinta pada padangan pertama mungkin hanya bualan, tapi terpesona ketika pertama kali berjumpa itu nyata dan realita.

Tidak lama kemudian, ia mendekati temannya kembali, lalu duduk satu baris di belakangku. Aku kehilangan dia, tidak bisa memandangnya lagi. Otakku kembali bekerja, mencari cara agar bisa melihatnya, mengaduk ide agar setidaknya ia tahu tentang aku. Ide pun berarak di kepalaku, salah satu yang kupilih adalah aku mengeluarkan novel yang kebetulan belum kunamai. Aku akan menamainya, dari kursinya duduk, mungkin ia bisa melihatku menulis namaku—email, twitter, atau nomor ponsel juga bila perlu. Baru aku mengambil penaku, ia beranjak dari tempat duduknya, bergegas menemui temannya, lalu berlalu.

Berlalu….

Laksana matahari yang tergelincir perlahan, seperti itu saat aku mengikuti sosoknya menjauh dari meja panjang ke arah luar. Di kursiku aku terpana, terpaku tanpa bisa meninggalkan antrean pengambilan paspor, dan kehilangan ia begitu saja.

Bahkan aku belum sempat mengambil satu saja kesempatan untuk bisa tahu akan dia.

Riuh rendah itu pun kembali tanpa arti. Ramai, tapi sunyi dalam hatiku. Senyum yang tadinya seperti layar terkembang, kini tergulung rapi di antara bibirku. Rasa hilang itu, penyesalan yang menyertainya, memberati bahuku.

Sampai di situ aku masih bertanya, apakah perasaan ini sama seperti Senin siang yang biasa-biasa saja ataukah ada makna di baliknya?

Ketika aku harus berada di tempat itu lebih lama karena ada salah dari petugas, aku harap itu pertanda. Aku menunggu penuh harap ia kembali lagi ke dalam ruangan. Nyaris satu jam aku menunggu, tapi tak ada sama sekali tanda-tanda ia akan kembali. Aku celingak-celinguk ke sekeliling, berharap dia ada di salah satu deret kursi logam yang mulai kosong. Harapan itu kosong, tak ada dia di sana.

Pada akhirnya, aku menerima pasporku. Tak kutemukan lagi sosoknya. Aku kehilangan kesempatan. Aku kehilangan dia. Aku patah hati. Akhir bahagia, mungkin memang hanya ada dalam fiksi saja.

Untung aku sudah menangis malam tadi, untuk kisah sebuah novel yang mengisahkan cinta bertepuk sebelah tangan dari karakternya.

Kalau aku dan dia memang terkait takdir, mungkin kami akan kembali bertemu.

Aku meneruskan hari dengan menonton Life of Pi. Tiba di adegan Pi terpesona oleh si penari itu… aku sadar, aku mengerti apa yang Pi rasakan. Aku tahu perasaan itu… seperti yang aku rasakan kepada pria berjaket hitam itu. Kalau Pi bisa mengejar wanitanya, aku hanya bisa tergugu, menunggu waktu membawakan lagi kesempatan untukku.

Senin siang tadi tidak lagi menjadi biasa.

– Yang mengamatimu diam-diam

P.S. untuk dia: ‘Kalau kamu membaca postingan ini, please balas ya. Aku ingin mengenalmu.’

§ 5 Responses to Satu Senin Siang Biasa

  • applausr mengatakan:

    semoga ketemu ya… sudah lama tidak mengunjungi blog ini.. tapi sering baca kok.. ceritanya luar biasa.

  • Adis mengatakan:

    terima kasih ya doanya.😀

  • yantynurhida mengatakan:

    pengagum rahasia ceritanya neh,mba.. klo q mah udh berpuluh kali jdi pengagum diam2 se”org..tpi hsilnya sllu brtpuk sblh tngn,hehe *curcol*

    ngomong2, mbak aditya yudis,aku penggemar kamu sama novelmu yg bagus : biru pada januari.. coba aja novelnya bisa difilmkan, pasti bagus deh..seru ceritanya..

  • Adis mengatakan:

    @yanty belum saatnya ketemu sama yang pas mungkin. terima kasih lho sudah baca Biru pada Januari. Amin ya, moga-moga ada mas produser, mas sutradara atau mas scriptwriter yang baca komenmu ini.😀

  • YantiNurhida mengatakan:

    Iya mungkin *ataunggaakanpernah*. Sama2, *nungguinnovelmbaadityglain*. Amin…mbak,moga diketemuin ya sama sutradara yg ngebaca novelnya,😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Satu Senin Siang Biasa at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: