Desember

31 Desember 2012 § Tinggalkan komentar

Sore itu di akhir bulan Desember, hujan belumlah habis. Aku melangkahkan kakiku pelan di atas setapak yang dilapisi paving block. Itu tercepat yang kubisa, karena setiap gerakan yang kakiku buat seakan digelayutin pemberat yang tak terlihat. Mataku menatap lurus ke depan, mengamati jarum-jarum air yang turun satu-satu. Di atas langit masih dihiasi mendung, membuat segalanya pun kini tampak terasa abu-abu.

Aku menarik napas panjang. Perasaan sesak itu membanjiri benakku. Aku mengigit bibir. Rasanya tubuhku gemetar, entah karena gugup dan takut, atau karena terlalu ingin bertemu denganmu. Aku tidak bisa lagi membedakan kedua perasaan itu.

Sekarang, aku bisa melihatmu—dengan jelas memandangmu.

Dingin sekali di sini. Namun kamu tetap bertahan dengan sikapmu. Tanpa sepatah kata sambutan. Tanpa seulas senyuman.

Memang aku tidak pantas dapatkan itu.

Yang paling pantas untuk cinta yang diam-diam adalah mati sendirian.

Aku menarik napas panjang. Akan tetapi, kali ini aku tidak akan menyia-nyiakannya. Aku akan bercerita sesuatu untukmu.

“Aku tidak tahu harus memulai ini dari mana,” kuhela napas panjang, “tapi, hari ini aku sampai kepadamu. Aku datang ke hadapanmu. Seperti yang selama ini selalu aku inginkan.”

Kuhentikan kata-kataku sejenak. Memberi ruang untukku bernapas. Semalam aku sudah menyiapkan semua yang harus kukatakan kepadamu. Malam tadi, aku sudah mencoba menahan diriku agar aku bisa memberitahu semuanya untukmu tanpa harus terjeda seperti ini.

“Akan kuceritakan sebuah dongeng. Ada sepasang saudara yang berpetualang untuk mendapatkan rumah mereka kembali… dan mereka tiba ke sana. Di rumah mereka, rumah yang seharusnya mereka tinggali. Akan tetapi, ternyata mereka harus sampai di ‘rumah’ yang sesungguhnya.”

Di akhir kata-kataku, aku tak bisa menahan gemetar yang menyerang tubuhku. Rasa sesak dalam dadaku itu meledak lewat air mata yang membanjir. Aku tidak lagi sanggup berdiri, di depanmu aku berjongkok. Buket bunga yang tadi kupegang jatuh terguling ke atas rumput. Namun aku tidak berusaha mengambilnya. Kedua tanganku menutupi wajah yang basah, karena hujan dan air mata.

“Bagaimana kamu bisa memaksaku membaca dongeng itu? Bagaimana kamu memberitahuku akan pulang ke rumah dengan cara seperti itu?”

Seluruh tubuhku mengigil. Akan tetapi, kamu tetap bisa, tanpa reaksi apapun. Semalam aku ingin berteriak kepadamu, melampiaskan semua yang kurasakan. Sekarang, di sini aku seolah tanpa daya. Tersuruk tanpa tahu harus berbuat apa, sebab memang tak ada yang bisa kulakukan.

“Aku menbencimu. Aku mencintaimu.”

Tiba-tiba hujan turun kian deras.

Kemudian aku menundukkan kepala. Menunggu di bawah hujan, yang siapa tahu mengantarkan jawaban. Beberapa saat aku membeku dalam posisi yang sama. Tenggelam oleh kenangan yang mengalir sederas air yang turun dari langit.

Tahun lalu di perayaan tahun baru, pertanyaan itu tak sampai terlontar kepadamu. Aku menahannya di ujung bibirku sebab aku takut kehilanganmu. Aku tidak ingin melihatmu berhenti tertawa untukku. Aku ingin kita menjadi tiada akhir.

Maka, aku mencoba untuk tidak memilikimu, agar aku tidak perlu melepaskanmu.

Hal yang sama yang kau mungkin lakukan kepadaku. Natal kemarin, kamu memberiku buku dongeng itu, karena kamu tahu aku tidak akan menyukai akhirnya dan akan meneleponmu. Ketika aku menghubungimu untuk itu, aku tidak bisa mencapaimu.

“Aku mengatakannya sekarang. Aku mencintaimu.”

Aku mendongak dan menatapmu lurus-lurus.

“Apa kamu merasakannya juga?”tanyaku lirih. “Apa kamu mencintaiku juga?”

Sore itu, di akhir bulan Desember, hujan belum juga berhenti. Namun hujan tidak bisa memaksaku tinggal bersamamu. Aku harus pergi. Kuambil buket bunga yang tadi terjatuh, kuberikan itu untukmu.

“Jawab aku….”

Tetapi, tak pernah ada jawaban, di akhir Desember ini, atau Desember-Desember selanjutnya.

Sore itu, di akhir bulan Desember, hujan masih terus turun. Semuanya menyiratkan nuansa kelabu. Sekelabu hatiku, sekelabu nisanmu.

 

Desember, 31 2012

Menutup akhir tahun 2012 dengan kisah patah hati. Selamat tahun baru! ^^

Setelah ditulis, baru sadar kalau mirip MV Demi Waktu-nya ungu. Padahal sama sekali nggak kepikiran itu waktu nulis. ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Desember at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: