Sepotong Cerita untuk Senja

3 Januari 2013 § Tinggalkan komentar

“Itu hakku, untuk pergi atau tetap tinggal di sini.”

Senja itu, di atas sebuah bukit yang dihampari rumput, aku duduk bersamanya. Dia menyelonjorkan kakinya, aku menekuk kakiku dan memeluknya. Hembusan angin membuat rumput-rumput di sekitar kami bernyanyi. Aku menundukkan pandangan, lebih memilih mengamati kuku-kuku kakiku yang tersapu warna merah muda, dibanding memperhatikan langit yang dicat jingga.

Sesungguhnya, dalam termangu itu aku menunggunya bicara lagi.

“Aku ingin tetap di sini,” katanya.

Aku menolehkan kepalaku, melihat dirinya dari sisi kiri. Rambut ikal panjangnya bergoyang karena angin yang terus bertiup. Sesekali helaian itu menutupi wajahnya, tapi dia membiarkannya saja.

“Kamu tidak bisa di sini.”

Sekarang, dia mengarahkan pandangannya kepadaku. Mataku tertuju kepada sepasang mata terelok yang pernah aku lihat–alis yang melengkung anggun dan bola mata gelap yang mengingatkanku pada pahit-manis cokelat. Hidung mancungnya menambah kesempurnaan itu, membuatku selalu ingin mengeluskan tanganku ke pipinya, lalu menciumnya.

“Kamu tahu, Senja?” ujarnya, “aku pernah punya seorang kakak. Ketika kecil kami bersepeda bersama. Kami saling berlomba, saling mendahului siapa yang lebih cepat sampai ke tujuan.”

Dia menghentikan ceritanya. Memalingkan wajahnya sebentar dariku, lalu mengusap rambutnya yang langsung diuraikan angin kembali.

“Kami sedang bercanda di jalan kecil antara dua buah bangunan. Dia berteriak kepadaku sambil mengayuk sepedanya cepat-cepat, lebih baik aku di belakangnya karena dia akan selalu melindungiku. Aku tidak mau dan berusaha mempercepat laju sepedaku. Dia beberapa meter jauhnya dariku di depan dan aku yakin bisa menyusulnya. Beberapa detik kemudian, sebuah truk menabrak tubuhnya dan sepedanya. Ia terlempar dan meninggal di tempat kejadian.”

“Maaf.”

“Itu cerita lama,” balasnya. “Apakah kamu tahu rasanya tidak bisa menyelamatkan sesuatu yang ada di depan matamu?” bilangnya, “itu perpisahan terburuk.”

Tangannya memainkan beberapa potong rumput sekarang. Membelitk-belitkannya di jari-jarinya. Ekspresinya tetap sama seperti ketika kami naik ke bukit ini, tapi mungkin di dalam hatinya tidak begitu.

Aku bisa membayangkan dengan jelas apa yang dituturkannya barusan. Bukan hanya secara visual, tapi dengan perasaan. Aku mengigit bibirku sendiri. Rasa sesak menghantam dadaku. Bagaimana jika aku yang ada di situ waktu itu? Aku rasa aku tak akan sanggup, bahkan jika hanya menjadi seseorang yang melihatnya kehilangan. Aku tidak ingin mengalaminya.

“Sekarang, hal itu terulang lagi. Kamu membuatku merasakan kedukaan yang sama. Kamu ada di sini, tapi aku tidak bisa berjanji kapan bisa kembali. Kita berada di bawah langit yang sama, tapi tak bisa saling berjumpa.”

Sekarang dia benar-benar tak mau melihatku lagi.

“Nanti, kamu akan menemukan senja yang baru, Aidan. Yang lebih indah dari pada yang kita selalu lihat di sini. Yang lebih… bisa mengertimu dan lukisan-lukisanmu.”

Kepalanya menoleh kepadaku. Tahu-tahu di tangannya rumput yang tadi sudah diubahnya menjadi sebuah lingkaran kecil–muat untuk dimasukkan ke jariku. Kami saling bersitatap. Aku meraih tangannya, mengambil rumput itu darinya dan memasukkan ke jarinya.

“Aku tidak pantas menerimanya,” jawabku dengan suara tercekat.

Saat jari-jari kami bersentuhan, aku pun melihat sebuah cincin di jemariku. Bukan dari untaian rumput, tapi titanium dengan permata sewarna senja di puncaknya.

“Terima kasih sudah mendengarkan ceritaku, Senja.” Tahu-tahu dia melepaskan tanganku dan berdiri. “Aku harus pergi. Selamat tinggal.”

Geraknya begitu cepat, sehingga ketika aku sadar masih terpaku di tepat yang sama dia sudah sampai di kaki bukit. Ia segera masuk ke mobilnya yang berwarna hitam. Sementara aku, memperhatikannya selama aku masih bisa melihatnya. Di bawah, cahaya lembayung yang mewarnai lembah itu, mobilnya meliak-liuk mengikuti satu-satunya jalan yang ada.

Selepas kepergiannya, hanya suara angin yang tersisa di punggung bukit. Aku mengelus cincin di jemariku–perintang kecil yang membuat aku dan dia tak bisa bersama.

 

Bogor, 3 Januari

Sumber gambar: weheartit

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Sepotong Cerita untuk Senja at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: