Matahari Tak Akan Pernah Terbit untuk Kita

9 Januari 2013 § 1 Komentar

Kita berakhir di pantai ini. Di bawah pagi yang bergerimis pada pagi yang tak dikunjungi matahari. Sepasang kursi malas di balkon belakang rumahmu masing-masing memuat satu tubuh—aku dan kamu. Sejak tangan kita masing-masing terisi secangkir cokelat untukku dan cappucinno untukmu, sama-sama kita hanya diam.

Kemudian aku menoleh kepadamu yang sedang menyesap cappucinno. Mengamati bentuk wajahmu yang orang-orang bilang mirip denganku. Mungkin kita ditakdirkan untuk bersama. Mungkin kita memang berjodoh—aku harap.

Kini sudah jam enam pagi, tapi langit masih berwarna kelabu, seakan-akan sudah tahu hari ini matahari akan belibur sementara.

Aku meminum cokelatku pelan-pelan. Diammu membuat suara ombak menjadi satu-satunya peramai kala ini. Tak henti-hentinya gelombang berkejaran hingga menghempas pantai yang hanya berjarak beberapa belas meter dari tempat kita duduk sekarang.

Di sana kita bertemu, pada sebuah pagi yang berbeda di bulan Januari—satu pagi yang hangat. Aku yang sengaja datang ke sini karena sebuah surat tua yang disimpan oleh ayah. Aku bertemu denganmu, menghabiskan waktu-waktu menyenangkan—masa-masa ketika matahari bersinar cerah seakan berkenan kita bersama. Setahun berlalu dan lalu lebih sering matahari bersembunyi, menyebar mendung dan murung, bahkan untuk kita berdua. Di sinilah kita terdampar sekarang, pada satu pagi yang dingin dan sendu.

Pandanganmu mengarah kepadaku. Cangkir warna hitam yang sisi pegangannya sudah sompal itu berada di genggamanmu. Aku ingat rasa ada di dalam dekapan jemarimu—hangat.

“Kamu benar-benar ingin pergi sekarang?”

Kuturunkan kakiku ke lantai kayu yang serabutnya terasa kasar di telapak kakiku. “Aku harus pergi.”

Kamu menundukkan tatapan, membuat helaian rambutmu jatuh menutupi kening. Aku mengulurkan tanganku, berusaha meraih helaian itu, tapi keburu kamu cegah. Seperti biasa, genggaman tanganmu terasa menyejukkan.

“Masih hujan, Jasmine.”

Bukan hanya suaramu yang kamu pelankan, tapi juga tatapanmu yang memohon agar aku tetap tinggal. Menatapmu seolah memandangi diriku sendiri—itu membuatku nyaman dan betah di dekatmu. Akan tetapi, bisa apa aku melawan perintah yang kudapatkan.

Bibir tipismu melengkung seolah-oleh menciptakan bulan sabit. Mata kelabumu seperti sepasang bintang yang selalu kuingat di kala malam hari.

Pelan-pelan kamu menurunkan tanganmu dariku.

“Apa yang harus kuperbuat untuk menahanmu tetap di sini?” tanyamu muram.

“Tak ada,” jawabku singkat. “Tak ada yang bisa mengubah ketentuan yang sudah ada, Richard.” Aku menelan ludah saat mengatakan hal itu. “Matahari tak akan pernah terbit untuk kita.”

Aku berdiri, menatapmu—kakak kandungku yang terpisah sejak kecil—orang yang kucintai. Ada duka di matamu. Selamanya akan kelabu di sana. Namun kurasa kamu setuju, matahari tak akan pernah terbit untuk kita.

Aku harus pergi. Lalu, mungkin matahari akan terbit lagi, meski bukan untuk kita.

Bogor di pagi yang hujan, 9-1-13

§ One Response to Matahari Tak Akan Pernah Terbit untuk Kita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Matahari Tak Akan Pernah Terbit untuk Kita at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: