Pukul 2 Dini Hari

13 Januari 2013 § 1 Komentar

Baca cerita sebelumnya di: Kenalan Yuk!

—-

Pukul 01.00 WIB

Namanya Nara, Nararya Madewa.

Sekarang dia duduk di hadapanku. Sepasang gelas menghiasi meja, sejam yang lalu kedua gelas itu masih berisi kopi, sekarang sudah tinggal ampasnya saja. Ya, kami berdua ternyata sama-sama menyukai kopi hitam dengan ampas.

“Lebih kerasa aja,” katanya enteng.

“Lebih macho,” sahutku sambil tertawa.

Nara ikut terbahak. Setiap kali ia membuka mulutnya untuk tergelak, seolah ada magnet yang menarikku untuk mengamati ekspresinya dan sesaat kemudian terpancing untuk mengikutinya. Selalu seperti itu. Sepanjang malam aku tidak lelah melihatnya berkali-kali tertawa.

Sebanyak ia tertawa, sejumlah itulah ia tersenyum. Dua hal itu membuatku betah duduk berjam-jam bersamanya sejak kami keluar bioskop untuk menonton The Hobbit yang ke-10 buatku dan ke-5 untuknya.

“Peter Jackson membuat adegan-adegan yang sebenarnya tidak terlalu diperlukan di dalam cerita,” komentarnya.

“Aku suka visualisasi yang detail. Senang aja, apa yang diceritakan di buku bisa dibuat sedetail itu,” ujarku.

“Kukira selain karena Tolkien, kamu tertarik karena para kurcaci, Medina,” godanya sambil terkekeh.

“Tentu saja, Nara! Semua pemain yang dipilih PJ begitu brilian!”

Kami tertawa bersahut-sahutan. Matanya kadang hanya berupa garis saat tawanya meledak keras. Namun, aku selalu suka melihatnya. Aku ingin melihatnya berkali-kali.

Apa kami akan bertemu lagi setelah ini?

Pukul 01.35 WIB

“Aku harus pulang.”

“Cinderella harus pulang?” ledeknya.

Aku tersenyum. “Cinderella harus pulang,” sahutku. “Kamu beruntung si Peri memberi Cinderella waktu sampai jam 2 pagi, alih-alih jam 12 malam.”

Dering ponsel menginterupsi akhir kalimatku. Nara berdiri dari kursinya, menjauh dariku sejenak. Aku mengamatinya diam-diam, mencoba menebak-nebak siapa yang meneleponnya semalam ini.

Aku tak pernah mau diganggu semalam ini, kecuali orang itu begitu istimewa.

Hatiku tiba-tiba mencelos. Seharusnya aku tidak perlu sampai ikut kemari, kedai kopi 24 jam ini hanya menyisakan beberapa pengunjung sekarang, termasuk aku dan Nara. Kulirik jam tanganku, pukul dua sudah makin dekat. Aku harus pulang kalau tidak ingin terlambat sampai di rumah.

Aku menarik napas panjang. Mataku menatap Nara yang masih berbicara di telepon.

Aku tidak akan pernah mau ditelepon semalam ini untuk berbicara selama itu, kecuali orang itu begitu istimewa.

Mereka yang istimewa akan selalu mendapatkan waktu.

Aku berdiri pelan dari kursiku, meraih kunci mobilku dari atas meja. Berat rasanya pergi tanpa melihat senyumnya. Perkenalan tadi, kini aku menyesalinya. Aku menyeret langkahku dengan cepat, tidak ingin Nara melihat kepergianku.

Aku bukan Cinderella, aku tidak meninggalkan apa-apa. Namun, jauh di lubuk hati, aku berharap bisa menemuinya lagi.

*bersambung…

Bogor, 13-1-13

§ One Response to Pukul 2 Dini Hari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Pukul 2 Dini Hari at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: