Suara Hujan

13 Januari 2013 § 1 Komentar

Apa yang lebih merdu dari pada suara hujan?

Dulu sekali dia pernah mengajukan pertanyaan itu kepadaku. Hari-hari kelabu bulan Januari yang kami habiskan bersama untuk mengerjakan sebuah proyek. Bengkel itu memang seringkali hanya diisi kami berdua saja. Sejak akhir tahun kami menciptakan properti yang digunakan untuk sebuah film yang akan mulai syuting dalam jangka waktu dua bulan dari waktu itu.

Di antara dentang suara metal yang beradu, ketukan palu, dan suara las. Aku berdiri dengan tumpukan kertas desain di tangan, komputer ada di hadapan kami. Sejak tadi, dia masih berusaha memperbaiki rancangannya sebelum nanti dicetak dalam bentuk tiga dimensi.

“Tere, tolong bikinin gue kopi lagi dong.”

Tanpa perlu dia menyuruhku dua kali, aku meletakkan kertas di tanganku dan beranjak ke pantry. Sudah dua malam terakhir, kami berdua terus berusaha membehani rancangan tersebut sesuai desain yang diberikan oleh tim kreatif.

Dari jendela pantry, aku tidak bisa melihat matahari. Yang ada hanyalah mendung, lalu gerimis yang membuat jendela tampak berembun. Aku menyeduh dua gelas kopi, satu untukku, dan satu lagi untuk Simon. Ketika aku akan membawa kopi itu keluar dari pantry, sosok Simon malah masuk ke dalam. Dia mengambil satu gelas dariku lalu berdiri di tepi jendela.

“Kamu tahu hari ini hari apa?”

“Apa?” balasku gugup, masih berdiri di tempat yang sama.

“Minggu. Bahkan kita bekerja di hari Minggu, Tere.”

Aku terdiam, bersamanya aku bisa sampai lupa waktu.

“Kemarilah,” katanya memberiku isyarat untuk mendekat.

Kami berdua berdiri di tepi jendela yang mengarah ke parkiran yang nyaris kosong.

“Sebaiknya kamu pulang.”

“Hujan, Simon,” kilahku. Akan tetapi, memang benar, cuaca yang tadinya gerimis, kini berubah menjadi hujan deras.

Simon tertawa kecil seraya menyesap kopinya perlahan. Dia menatapku dengan sepasang mata yang bersinar hangat.

“Kamu tahu apa yang lebih merdu dari pada suara hujan?” tanyanya seraya menggeser jendela sampai terbuka.

Udara dingin menerpa wajahku. Tanganku menggenggam mug berisi kopi hangat itu lebih erat. Suara hujan sekarang menguasai seluruh pendengaranku. Pikiranku bekerja, apa yang lebih merdu dibandingkan semua ini?

“Apa?”

Kurasakan dia mendekat kepadaku, lalu membisikkan sesuatu. Aku memejamkan kedua mataku, tersenyum kecil.

Kemudian, bisikan itu terhenti karena bibirnya berada di bibirku. Aku mendengar desah napasnya bercampur dengan deru napasku.

Suara hujan terdengar hanya samar-samar setelahnya.

**

Apa yang lebih indah dibanding pelangi setelah hujan?

Tak ada, kataku.

Bintang, ujarnya.

Proyek itu selesai. Kami adalah tim yang hebat. Kami sama-sama menyukai suara hujan, meski kami menganggap suara satu sama lain adalah yang lebih merdu. Aku mengagumi suaranya, bagaimana ia bicara.

Sayangnya satu kesamaan seringnya tidak cukup untuk mengikat dua hati. Kami berpisah setelah proyek itu.

Siang ini hujan kembali, aku duduk di tepi jendelaku bersama segelas kopi. Mengenang suara miliknya, yang paling merdu di antara suara hujan. Suara yang pernah menyenandungkan sebuah lagu di telingaku, ketika hujan waktu itu.

I’d take you down for a ride on a time machine
Back to the days when we sat on empty porch
You were talking ’bout life, I’d look in your eyes
 
Now that we part and we live on a different times
Both of us spend our own days on a separate lines
You be closing your eyes, I’d stare at the sky

You chase rainbows, I gaze starlight
We will never be the same again

 

Bogor, 13-1-13

*bayangin Richard Armitage yang berbisik. awwww… 

Bonus: ini lagu Rainbow and Starlight yang disenandungkan Simon (aslinya dinyanyiin Adhitia Sofyan).


§ One Response to Suara Hujan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Suara Hujan at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: