Orang Ketiga Pertama

15 Januari 2013 § 5 Komentar

Baca cerita sebelumnya di: Pukul Dua Dini Hari

—-

Aku bukan Cinderella dan aku tidak pernah meninggalkan apa-apa. Mulanya, aku meyakini hal tersebut. Kini, aku tidak bisa seteguh itu lagi–aku meninggalkan sebuah nama.

Medina Dirgaprayana.

Pada nisan di hadapanku, tertulis nama belakang yang sama. Hanya saja, dia membawa nama Adam, yang diberikan orang tua kami ketika melahirkannya dulu.

Tak ada yang pernah menyangka kapan akan kehilangan. Adam yang tempo hari masih menemaniku menonton The Hobbit–hari ini sudah terbujur di dalam peti yang telah ditimbun tanah. Wangi tanah setelah hujan menguap, mengisi penciumanku yang telajur sesak karena duka.

Pertama-tama, aku kehilangan kedua orang tuaku. Kini aku harus melepaskan kakak semata wayang yang kumiliki.

Aku menelan ludah.

Kalau Cinderella harus diselamatkan dari kekejaman saudari dan ibu tirinya, aku ingin diselamatkan dari kesendirian dan kesepian.

Sosok-sosok dalam hidupku musnah satu persatu. Kini mereka masih hidup dalam kenangan. Namun, aku tidak bisa hidup hanya bersama kenangan semata. Kenangan akan menahanku di masa lalu. Aku butuh orang ketiga–seseorang yang akan menuntunku ke depan.

Sebuah tangan menepuk punggungku–Richard, salah satu rekan bisnis ayahku dan seorang yang dianggap beliau sebagai adik, yang selama ini memerankan Paman untukku dan Adam. Aku mengenalnya sejak sekolah menengah pertama–dia adalah mahasiswa brilian kala itu. Sekarang, saat umurku menginjak seperempat abad, dia masih memiliki wajah cemerlang yang sama seperti kali pertama aku mengenalnya, meski terlihat jauh lebih dewasa dan kebapakan di umurnya sekarang yang sekitar 40-an tahun.

“Aku di sini,” katanya berbisik di telingaku. “Aku akan bersamamu.”

Aku merasa tubuhnya mendekat di belakangku. Richard menyelipkan tangannya di pinggangku.

Kalau Cinderella tak punya siapapun, di sini aku memiliki Richard.

“Lebih baik kita pulang sekarang, Medina. Kelihatannya hujan akan turun lagi,” ajaknya dengan lembut.

Aku menoleh dan melihatnya tersenyum kepadaku. Pemakaman itu sudah sepi sekarang, hanya ada kami berdua di sana. Richard mengelus rambutku perlahan. Lalu meletakkan tangannya di bahuku.

Melihat langit yang diselimuti mendung tebal, aku mau tidak mau mengikuti permintaan Richard. Kami berdua melangkah dalam keheningan. Tangan kami berdua saling bertautan–genggaman tanganku seakan coba meyakinkanku jika aku tidak sendiri di dunia ini.

Di tengah jalan setapak, aku berpapasan dengan seseorang. Kami secara tidak sengaja saling menatap satu sama lain. Bentuk wajah itu begitu familiar, bahkan ketika tanpa dihiasi senyuman atau tawa. Rambut keriting sebahunya terurai, membingkai wajahnya bersama jambang tipis. Alisnya yang melengkung di atas mata cokelatnya–bagian yang paling kusukai dan tak bisa kulupakan darinya.

Aku tahu dia menemukanku, di saat tanganku berada di dekapan Richard.

Nararya.

Detik itu aku berharap, dia adalah pangeran yang akan menyelamatkanku. Orang ketiga yang kuharap pertama ada untukku. Sebelum pandangan kami berpisah, aku menatapnya penuh permohonan. Pemintaan untuk bisa menemukanku lagi.

 

*bersambung

Bogor, 15 Januari 2013

Susah memang mengenyahkan sosok om RA dari kepala, maka lahirlah karakter Richard. <3 

§ 5 Responses to Orang Ketiga Pertama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Orang Ketiga Pertama at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: