Cuti Sakit Hati

16 Januari 2013 § 1 Komentar

“You’re frozen, like photograph.” 

— Josie to Mitchell (Being Human UK S1-05)

—-

Baca cerita sebelumnya di: Orang Ketiga Pertama

—-

Di tanganku terdapat selembar foto yang kuambil dari laci di meja milik Adam. Sekarang aku berada di kamar kakakku itu membereskan barang-barang miliknya. Hanya saja, sejak tadi aku lebih banyak duduk di pinggir ranjang Adam dan belum menyentuh selain laci serta foto ini.

Terdengar derit pintu kamar, aku buru-buru menyimpan foto tersebut ke belakang punggungku. Richard ada di sana, memandangiku seraya tersenyum tipis. Di tangannya terdapat dua buah mug yang masih berasap.

“Boleh aku masuk?” tanyanya.

Selama beberapa saat aku hanya mengamati Richard yang hari ini terlihat santai dengan jaket, kaus, jins, serta sneaker hitam. Busana itu mengesankan Richard yang matang. Rambut pendeknya tersisir rapi. Aku tersenyum kepadanya, mengangguk menyilakannya masuk dan Richard pun segera masuk dan duduk di sebelahku. Diserahkannya satu mug putih dengan pola polkadot di permukaannya kepadaku. Cairan kecokelatan mengisi mug itu–aroma cokelat yang diseduh menguar di antara aku dan Richard.

“Trims,” ujarku, mendekatkan mug itu ke mulutku. Uap panas menjalari permukaan bibirku yang sejenak membuatku enggan untuk langsung meminumnya.

“Terlalu panas ya?” sahutnya.

“Sebentar lagi juga dingin,” kataku, kini mendekap mug itu dengan kedua tanganku. Kami berpandangan. Tatapan Richard penuh simpati kepadaku. Aku mengerti bahwa dia mengalami kehilangan yang sama denganku. Richard banyak membantuku dan Adam selama ini, baginya Adam sudah seperti adik sendiri. Tak ada yang menyangka bahwa kecelakaan itu akan menimpa Adam, bahkan aku sendiri masih sulit untuk percaya.

Richard mengelus rambutku perlahan, lalu menarik tubuhku dalam rangkulannya. Di sini, dalam dekapannya, selalu memunculkan perasaan nyaman bagiku. Aku bisa merasakan tubuhnya yang hangat, serta menciumi wangi parfumnya yang tak pernah berubah sejak bertahun-tahun lalu. Rasanya seolah menemukan seorang ayah kembali.

Aku menghela napas panjang. Kurasakan kecupan lembut Richard di keningku. Sesaat kedua mataku terpejam.

“Terima kasih sudah menemaniku di hari-hari yang sulit ini, Richard. Bahkan kamu harus sampai mengambil cuti dari pekerjaanmu juga.”

“Untukmu. Aku tidak akan membiarkanmu melewati ini sendirian. Ini bukan hanya kehilanganmu, Medina, ini juga kehilanganku,” bisiknya di telingaku.

Bisikan itu membuatku mengigil sejenak. Saat aku membuka mata, aku melihat wajah Richard begitu dekat dengan milikku. Selanjutnya, aku bisa merasakan bibirnya di bibirku–rasanya seperti cokelat.

Hingga dering bel, memisahkan kami berdua.

Aku menghela napas panjang, masih terus memandanginya sampai bel itu terdengar lagi.

“Biar aku yang membukanya,” ujar Richard yang langsung berdiri dan berjalan ke arah luar kamar.

Kuambil foto yang kutaruh tadi. Aku melihat sosok Ada di sana, bersama dua orang lain, seorang laki-laki dan seorang perempuan berambut burgundy. Aku menelan ludah.

Kadang kita tak pernah tahu bahwa yang kita ingini begitu dekat adanya.

Dia, Nara, ada di dalam foto itu. Bersama Adam.

“Medina!” Suara Richard menggema dari ruang depan.

Aku masih tetap duduk terpaku kepada foto tersebut. Saat Richard sampai menghampiriku ke kamar untuk memberi tahu ada seseorang yang mencariku, barulah aku tersadar dan mengikuti Richard ke ruang depan.

Di ambang pintu, aku tidak bisa memungkiri aku mengenalinya. Dia yang berpapasan denganku di setapak pemakaman hari lalu, Nararya.

“Hei, Medina,” sapanya pelan. Ada sebuket bunga warna putih di tangannya.

Richard memberi tahuku akan kembali ke kamar Adam dan meninggalkanku berdua dengan tamuku.

“Nara,” sapaku. Kuamati penampilan Nara yang kasual–paduan kaos putih, jaket kulit hitam, jins sewarna, dan boot. Rambut keritingnya tergerai dan kelihatan berantakan.

Nara menyerahkan buket bunga itu kepadaku, “Aku turut berduka cita.”

“Terima kasih,” kataku, menerima buket Lily putih itu dari tangan Nara.

“Aku tidak akan lama,” ujarnya. Tatapannya mengarah kepadaku–kedua bola mata cokelat itu seakan mengurungku untuk memperhatikannya terus menerus.

“Ada apa?”

“Aku ingin mengajakmu pergi ke suatu tempat.”

Keningku berkerut. “Apa maksudmu?”

“Kita–aku dan kamu–pergi ke suatu tempat,” jawabnya, disertai gerakan tangan yang menunjuk kepadanya, lalu kepadaku.

“Untuk apa?” tanyaku semakin tidak mengerti.

“Berlibur.”

Aku menatapnya tidak yakin, seakan-akan Nara baru saja melontarkan sebuah ide yang lebih gila daripada sekadar berlibur.

“Aku tidak butuh liburan,” tukasku.

Nara mengangkat alisnya, menanggapi reaksi yang kutampilkan di wajahku. Kedua alis tebal yang melengkungi kedua matanya itu bergerak menggemaskan. “Kamu butuh. Butuh cuti dari sakit hatimu,” tambah Nara dengan yakin.

Aku menggelengkan kepala.

“Aku akan menjemputmu lusa,” ujarnya seraya menudingkan jarinya kepadaku.

Selanjutnya, Nara langsung berbalik dan menuruni undakan rumah. Jalannya begitu cepat menuju SUV-nya yang terparkir di tepi jalan. Sesaat kemudian, aku masih berdiam di ambang pintu ketika mobil itu melaju meninggalkan rumah. Kehadirannya seakan angin, muncul dan lenyap begitu saja.

Belibur memang ide bagus. Akan tetapi, pergi bersama orang yang tidak kukenal–mungkin Richard tidak akan menyukai hal itu.

*bersambung

Bogor, 16-1-13

Kutipan di atas nggak ada hubungannya sama cerita, gue cuma denger dan suka aja. Haha…

§ One Response to Cuti Sakit Hati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Cuti Sakit Hati at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: