Sambungan Hati Jarak Jauh

17 Januari 2013 § 1 Komentar

Baca cerita sebelumnya di Cuti Sakit Hati

Bunyi bel berkali-kali itu membangunkanku. Ingin sekali mengabaikannya, tapi menurut tingkat deringnya, itu bukanlah sesuatu yang bisa tidak kuhiraukan. Yang pertama kulihat ketika membuka mata adalah Richard yang masih terlelap di sebelahku. Biasanya dia tidak pernah melewatkan pagi, mungkin kali ini ia terlalu lelah sebab semalam kami membereskan kamar Adam hingga larut. Aku menyempatkan mencuci mukaku, sebelum beranjak ke pintu depan.

Saat aku membuka pintu, tak ada seorang pun berdiri di sana. Tamuku itu duduk di undakan depan rumah, memunggungi pintu. Ada asap yang mengepul darinya. Dia menoleh kepadaku.

“Kupikir, kamu tahu aku tidak bercanda dua hari yang lalu,” ujarnya ketika memandangiku.

Aku masih menggunakan gaun tidur–tidak sepenuhnya lupa dengan ajakannya untuk pergi dua hari lalu. Akan tetapi, aku terus ragu, jadi aku memilih untuk tidak memikirkannya. Bahkan karena terlalu sibuk membenahi kamar Adam, aku malah sampai lupa untuk memberitahu dan meminta izin Richard.

“A-aku tidak mau pergi,” balasku gugup kepada Nara.

Tatapan mata Nara seolah ingin menelanku bulat-bulat. Namun sesaat kemudian, dia berhenti menatapku dan kembali memunggungiku sambil mengisap rokoknya.

“Aku beri kamu sepuluh menit. Bawa apa saja yang kamu bisa kumpulkan dan mungkin, paspor, kalau-kalau nanti aku berubah pikiran.”

Perintahnya itu membuatku gemetar.

“Sepuluh menit,” ulangnya, mengingatkanku.

Aku membiarkan pintu itu tetap terbuka, lalu berlalu dari sana menuju kamarku. Kepalaku dipenuhi banyak sekali pikiran. Saat aku hendak masuk ke kamar, aku melihat Nara melesat ke arah dapur. Aku ingin memanggilnya, tapi lidahku kelu. Ada perasaan dalam diriku yang mengatakan dia bukan orang asing lagi di rumah ini, hanya aku saja yang belum mengenalnya.

Suara dalam kepalaku masih meracau. Mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang bahkanaku tak tahu apa jawabannya. Siapa Nara sebenarnya? Aku baru mengenalnya beberapa waktu lalu. Kini, tiba-tiba dia muncul dalam foto milik Adam. Masuk ke rumah seakan dia sudah tahu seluk-beluk tempat ini.

Jika, aku ingin tahu siapa dia, aku harus pergi bersamanya.

Aku memutuskan tidak memberitahu Richard. Secepat mungkin aku berganti pakaian dan  mengepak barang-barangku yang bisa kutemukan di sekitar kamar. Aku tidak tahu apakah beberapa helai pakaian yang kubawa, sesuai dengan tempat yang dituju Nara. Barang-barang yang kubawa itu muat dalam satu ransel milik Adam. Sebelum aku meninggalkan kamar, aku menyempatkan mencium kening Richard. Lalu tergesa menulis pesan bahwa aku harus buru-buru ke Bandung untuk urusan mendadak pagi ini.

Pesan itu akan kutempelkan di pintu kulkas. Sewaktu mencapai dapur, ada Nara yang sedang duduk di breakfast table dengan sebuah mug di tangannya. Di sisi mugnya ada sebuah lagi. Aku melewatinya tanpa menyapa menuju lemari pendingin dan menaruh pesan itu di sana.

Aku menghela napas panjang saat membaca tulisan itu sekali lagi. Aku akan berbohong kepada Richard, mungkin, kalau tujuan Nara memang bukanlah Bandung. Semoga Richard tidak berprasangka apa-apa, meski biasanya ia selalu tahu. Sejak kami bersama, seakan-akan dia selalu bisa membaca pikiranku. Seolah hati kami berdua tersambung, walau ada jarak membentang antara kami.

“Kopimu, Medina.”

Suara Nara menyentakku dari lamunan. Aku menoleh kepadanya yang jelas sedang tersenyum kepadaku. Kuseret tubuhku untuk menempati kursi di sebelahnya dan menerima mug yang digeser Nara ke dekatku.

“Trims, Nara.”

“Aku sudah membeli sarapan di mobil. Kita makan dalam perjalanan ke bandara.”

“Bandara? Memangnya kita mau ke mana?”

Nara mengangkat bahu dan memalingkan wajahnya kepadaku. Dia masih seberantakan hari ketika datang kemari. Rambut keritingnya tak tersisir. Di bawah matanya aku melihat kantong gelap–bukti jelas kebiasaan begadangnya. Hari ini dia memakai jaket hitam, berbeda dengan yang dipakainya tempo hari.

Aku melirik Nara yang sedang mengamati jam tangannya. “Kita berangkat sekarang,” katanya lalu turun dari kursinya.

“Beritahu aku dulu mau ke mana kita pergi,” ujarku masih tetap duduk di tempat.

Nara meraih lenganku dan menarikku. “Masih banyak waktu untuk memberi tahu tentang itu, Medina.”

Mau tidak mau, aku mengikuti langkah-langkah besar Nara sekarang, dalam diam. Kebisuanku itu bahkan bertahan sampai aku turun dari pesawat untuk kedua kalinya.

Cinderella bahkan dijemput dengan lebih manis oleh pangeran daripada semua perlakuan yang kuterima ini.

Dari Bali, Nara mengajakku terbang sekali lagi dengan pesawat yang lebih kecil dan privat. Kami bahkan mendarat di atas air, dekat sebuah dermaga kayu. Di bawahku ada laut yang berwarna kehijauan, karena begitu jernih. Suara ombak menerpa pantai berpasir putih yang berada beberapa meter di depanku. Aku terpana dan terpaku di dermaga itu beberapa saat. Entah di mana ini berada, seakan-akan semua orang berusaha untuk tutup mulut kepadaku. Yang jelas aku tahu, aku sudah berada jauh sekali dari Jakarta.

“Medina,” panggil Nara yang ada di depanku. Ia memberiku isyarat untuk kembali mengikutinya. Aku berjalan pelan di atas dermaga sembari memandangi pantai, laut yang luas, serta pepohonan yang ada di balik pantai. Sebuah tempat persembunyian sempurna.

Rasanya ingin sekali aku menceritakan kepada Richard tentang semua ini. Aku mengambil ponselku dari dalam tas, menghidupkannya. Tanpa perlu menunggu lama, sebuah telepon masuk kepadaku, tentu saja itu dari Richard. Aku mengigit bibir. Mendadak keraguan menyerangku, namun akhirnya aku tetap mengangkat telepon itu.

“Medina, sayang, dari tadi aku menghubungiku.”

Suara berat Richard menyambangi telingaku.

“Aku kehabisan baterai.”

“Kamu di Bandung?”

“I-iya.”

Sesaat Richard tidak bicara apa-apa.

“Mau kujemput?”

“Tidak perlu, Richard.”

“Aku tidak tahu kalau di Bandung ada pantai sekarang. Aku dengar suara ombak. Jelas sekali.”

Aku menelan ludah.

“Aku selalu tahu, Medina. Jarak bukanlah lawan kita. Aku mencintaimu, Medina.”

Sambungan telepon itu terputus seketika itu juga. Jantungku berdentum-dentum. Sesaat, keindahan pantai itu mendadak lenyap. Ingin sekali aku kembali ke Jakarta sekarang juga. Aku menarik napas panjang. Udara segar beraroma garam memasuki penciumanku.

“Kenapa masih di sini?”

Aku terkesiap mendengar suara itu. Nara sudah ada di hadapanku. Rambutnya berkibar karena angin, begitu pula helaian rambutku yang tidak masuk dalam ikatan. Jaketnya sudah tidak menutupi tubuhnya lagi, ia hanya menggunakan kaos tanpa lengan sekarang. Cocok sekali untuk berlibur di pantai.

“Aku ingin pulang ke Jakarta.”

Nara tersenyum mengejek. Dahinya berkerut, sama seperti bibirnya yang menyeringai.

“Kamu tidak bisa, Medina.”

“Aku tidak ingin Richard marah kepadaku. Ia pasti khawatir,” rengekku kepada Nara.

“Medina, kalau kalian berdua saling mencintai. Dia pasti akan tahu kamu baik-baik saja di sini. Jarak bukan apa-apa, kalau kalian saling mencintai.”

Kalimat Nara menohokku. Kami bersitatap. Tatapan seperti itu lagi yang Nara berikan kepadaku, sorot mata yang kelihatannya begitu ingin mengurungku di dalam sana. Aku menundukkan kepalaku untuk menghindari pandangan itu.

“Aku akan menjagamu, untuknya,” ujarnya, meraih tanganku dan membimbingku berjalan di dermaga. “Sekarang. Di sini. Kita masih punya urusan yang harus diselesaikan.”

*bersambung

Bogor, 17 Januari 2013 

 

§ One Response to Sambungan Hati Jarak Jauh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Sambungan Hati Jarak Jauh at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: