Cintaku Mentok di Kamu

18 Januari 2013 § 2 Komentar

Amanwana

Amanwana

Baca cerita sebelumnya di: Bales Kangenku, Dong

—–

Senja dan aku punya janji.

Kulangkahkan kaki di atas jalan setapak. Langit di atas laut sudah tercemari warna keemasan. Tiupan angin terasa lembut, meski agak lebih dingin dibandingkan siang tadi ketika kali pertama aku menginjakkan kaki di sini. Aku memeluk tubuhku sendiri. Agak sedikit menyesal rupanya karena tadi memutuskan tidak memakai kardigan. Aku memang tidak menyangka, cuaca akan lebih dingin dan berangin.

Di setapak itu aku nyaris tidak bertemu tamu lain, hanya beberapa petugas resor yang bersimpang jalan denganku. Tadi, ketika Nararya meninggalkanku di kamar sendiri, aku menyempatkan diri untuk mencari tahu lokasi keberadaanku sekarang. Nararya tidak berusaha menutupinya ternyata, kami ada di Pulau Moyo, tepatnya di salah satu resor mewah, Amanwana.

Terusan yang kupakai berkibar karena angin ketika aku mencapai teras di sisi tebing ini. Teras yang sengaja dibuat ini diperuntukkan bagi mereka yang ingin berjemur dan berenang. Sekarang di teras itu tak ada seorang pun, kecuali diriku. Aku terus berjalan sampai ke tepian teras. Di sisi itu, aku melihat helaian handuk bersama beberapa barang yang diletakkan sembarang. Tak jauh dari teras, aku melihat laut yang beriak tapi bukan karena ombak. Seseorang sedang berenang di sana, kelihatannya tidak menyadari kedatanganku kemari. Kemudian, aku duduk di pinggir teras itu dengan kaki menjuntai ke bawah, merasakan ombak menjilati ujung kakiku.

Sekarang langit sudah kehabisan warna birunya. Seluruhnya jingga, dengan matahari yang sudah nyaris turun sampai ke laut. Aku menarik napas panjang. Biasanya di sore seperti ini, aku sudah akan duduk di rumah dan menyambut Richard pulang. Kali ini, aku duduk di lautan, tanpa harus menunggu siapa pun. Namun aku menyukai hal itu.

Mataku tidak lepas dari langit. Jarang-jarang aku bisa menikmati pemandangan seperti ini di ibu kota. Kini hanya ada deburan ombak, gemerisik dedaunan, dan burung-burung yang pulang ke sarang. Harus kuakui, pilihan Nararya akan tempat ini memang tidak salah.

Sosok yang berenang itu mendekat ke arah teras. Dia segera naik dan duduk di sebelahku setelah aku menggeser handuk dan barang-barangnya agak jauh ke belakangku agar tidak basah. Kuserahkan handuk itu kepadanya, tapi Nararya mengabaikannya.

Seluruh tubuhnya berkilat oleh titik-titik air. Rambutnya yang keriting menggantung lemas menutupi pinggiran wajahnya.

“Nanti kamu masuk angin,” kataku, menjejalkan handuk itu kepadanya. Aku mengatakan itu dengan yakin karena sekarang Nararya hanya menggunakan celana pendek saja.

Nararya membiarkan handuk itu tetap di pangkuannya, sementara ia duduk dengan santai. Tetes-tetes air membasahi sekitar tempatnya duduk. Aku yang jengkel dengan sikapnya itu berusaha mengambil handuk itu dari pangkuannya. Aku bermaksud mengelapi tubuhnya–lima menit lagi saja dia bertahan dengan sikapnya itu, maka semalaman nanti dia akan merasakan akibatnya: masuk angin. Aku tidak ingin repot mengurusinya.

Bersamaan dengan itu, Nararya juga bergerak hendak mengambil barangnya dari belakang tubuhku. Maka, tubuh kami berbenturan–bahuku menabrak dadanya. Dingin air yang tersisa di kulitnya berpindah ke permukaan kulitku. Saat itu juga aku merasakan jantungku yang mendadak berontak. Buru-buru aku menarik tubuhku–hendak menjauh, tapi Nararya lebih cepat melingkarkan tangannya di sekitar pinggangku.

Aku tidak bisa ke mana-mana sekarang.

Tatapan itu lagi. Aku tidak suka bagaimana Nararya memandangiku dengan kedua mata cokelatnya yang tajam. Setiap kali itu terjadi aku merasa tidak berkutik. Jauh berbeda dengan sepasang mata Richard yang hangat, yang membuatku nyaman di sana. Pandangan mata di hadapanku ini sekarang, seakan dengan sengaja merantaiku untuk tidak berpaling darinya.

Pelan-pelan, Nararya menarik tangannya dariku.

“Jangan lari,” katanya pelan.

Aku menelan ludah.

“Aku membawamu ke sini untuk memberitahumu dua hal,” ujarnya. Nararya kini tak lagi memandangiku, ia sedang mengelapi dirinya sendiri.

Namun, nyatanya aku masih terus memperhatikannya dengan jantung berdebar dan pikiran yang kacau balau. Aku menarik napas panjang. Perasaan aneh itu kembali menyusup–biasanya, aku sering melakukan hal itu kepada Richard, mengelapi tubuhnya yang basah. Kini aku harus menahan diri untuk tidak melakukannya kepada pria di sebelahku ini, meskipun aku ingin dan tadi hampir melakukannya.

Nararya menoleh kepadaku setelah selesai mengeringkan tubuhnya. Senyumnya memenuhi wajahnya, bersinar lebih terang dibanding cahaya matahari sore yang redup. Aku selalu menyukai senyum itu, lebih dari apapun.

Saat dia memandangku kembali, aku menunggu dua hal yang ingin dikatakannya kepadaku.

“Dua hal,” ucapku.

Kudengar suara tawanya yang merdu. Entah mengapa dia mendadak tertawa. “Kita pernah bertemu sebelum pertemuan kita di bioskop. Sebelum aku harus lima kali menonton The Hobbit dan kamu akhirnya berani menyapaku.”

Aku terhenyak. “Aku… tidak tahu kita pernah bertemu.”

“Mungkin nggak bertemu secara langsung. Tapi aku tahu tentangmu,” katanya kembali tersenyum, “dari Adam.”

“Adam tidak pernah cerita.”

“Tentu saja,” sahut Nararya. “Dia bahkan tidak ingin aku mengenalmu, Medina.”

“Mengapa?” tanyaku heran.

“Karena aku mencintaimu,” bilang Nararya tanpa keraguan, “karena cintaku berhenti di kamu.”

*bersambung
Bogor, 18-1-13
Sumber gambar: amanresort.com

bonus:

sumber: disini

§ 2 Responses to Cintaku Mentok di Kamu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Cintaku Mentok di Kamu at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: