Untuk Kamu, Apa sih yang Nggak Boleh?

19 Januari 2013 § 1 Komentar

Baca cerita sebelumnya di sini: Cintaku Mentok di Kamu

“Karena aku mencintaimu,” bilang Nararya tanpa keraguan, “karena cintaku berhenti di kamu.”

Aku membeku di tempatku. Pandangan Nararya teracung lurus kepadaku, tak ada keraguan yang kutemukan dari sinar mata itu. Aku menelan ludah. Ada rasa bergejolak yang bermula dari solar plexus hingga merambat ke ujung-ujung jariku. Kukatupkan kedua tanganku di atas pangkuan. Waktu seakan terulur ketika itu, detik-detik berguling begitu lambat.

Angin yang tadi berembus riuh, kini juga melemah. Aku merasa dalam kehampaan, hanya sepasang mata Nararya yang bisa kulihat. Napasku terembus perlahan. Momen ini begitu murni, seolah memang diberikan untuk kami berdua.

“Itu yang pertama. Yang pertama ingin kusampaikan kepadamu.”

Suara Nararya memecah seluruh momen sunyi tadi. Tiupan angin kembali mengacak rambutku, menampar-nampar permukaan kulit yang terbuka. Aku masih belum bisa memikirkan apapun. Perkataannya masih terngiang di telingaku. Perutku masih terasa berombak. Senyum yang terangkai di wajahnya, melumerkan es yang sedari tadi bertengger di hatiku. Semua terasa aneh sekarang… aku sendiri terlalu terkejut untuk bisa menjelaskannya.

Aku pernah mengharapkannya datang sebagai pangeran. Hadir untuk menyelamatkanku. Sekarang dia ada dan mengungkapkan sesuatu yang tak pernah kuduga sebelumnya.

“Aku tidak akan memaksamu untuk membalasnya, Medina. Kamu butuh waktu. Ke sini aku membawamu untuk memberimu waktu dan agar tidak lari ke manapun.”

“Aku tidak akan lari.”

Kalimat itu terlontar begitu saja dari bibirku. Nararya mengalihkan tatapannya sejenak dariku. Hal itu memberiku kesempatan untuk bernapas sedikit lega. Aku mencoba mencari tahu apa yang diamati Nararya sekarang. Pandangannya menerawang ke langit yang hampir gelap. Namun, Nararya sama sekali tidak menunjukkan keinginan beranjak dari teras ini.

Nararya memergokiku yang sedang memperhatikannya, lalu. “Kamu ingin pulang sejak tadi.”

Buru-buru aku memalingkan wajah. Menatap ke mana pun selain, ke arahnya. Kedua tanganku makin bertaut erat. Perasaan tersipu malu, sekaligus ingin membalas tatapannya itu beradu dalam hatiku. Sesaat kemudian aku tahu siapa yang memenangi perdebatan dalam kepalaku itu.

Aku mengangkat wajah, menatapnya lagi. Pertanyaan itu membuatku berani untuk menghadapi Nararya lagi. “Siapa yang mengirimmu ke sini? Apakah Adam?” tanyaku pelan.

“Bukan.”

Aku menghela napas panjang. Debaran jantungku menggila sejak tadi. Pria ini penuh rahasia, tapi sejak pertama aku bicara dengannya aku tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk tahu tentangnya. Meski pada akhirnya, satu persatu yang aku tahu akan dia beberkan, tapi semua tergantung kepadanya. Alur permainan ini ada di tangannya.

“Yang kedua….”

“Bisakah kita menunda itu sampai besok. Aku janji akan mengatakannya kepadamu sebelum Richard datang.”

“Kenapa?”

“Karena mungkin hanya sampai saat itu aku bisa memilikimu.”

Nararya meraih tanganku, dengan lembut mengangkatnya, lalu mengecup punggung tanganku dengan bibirnya. Kedua matanya masih terarah kepadaku.

Di situ, aku sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa. Seakan ada sihir yang membuatku mematung, membiarkan Nararya melakukan apapun yang diinginkannya kepadaku. Lama, hingga dia melepaskan bibirnya dari atas kulitku. Sampai aku bisa merasakan permukaan bibirnya yang basah, serta hembusan napasnya yang hangat. Semua itu membuatku kaku, aku tidak kuasa menggerakkan tubuhku. Aku hanya diam dan mengamatinya.

“Puteri….”

Ucapan itu begitu lirih. Aku membaca itu dari gerak bibir Nararya. Selanjutnya, aku merasakan gelenyar panas ke seluruh tubuhku.

“Aku untukmu. Aku akan melakukan semua untukmu. Apapun yang kamu inginkan,” Nararya menarik tanganku lebih jauh. Meletakannya di pipinya yang lembap. Menggerakkannya perlahan, menjelajahi bibirnya, hidungnya, dan matanya yang terpejam. “Aku memimpikan ini sejak lama.”

Rasa dingin merambati ujung-ujung jariku. Aku masih bertahan dalam kebisuanku.

“Untuk hal yang kedua. Biarkan aku memilikimu sampai kamu nanti akan tahu tentang itu.”

Semua kalimatnya itu seakan terbang begitu saja bersama angin senja. Aku tak mengerti apa lagi yang ada di pikiranku, cuma Nararya yang ada di sana. Sepasang mata cokelatnya, alisnya yang melengkunginya, semua yang ada di wajahnya, dan senyumnya yang menghangatkan. Tawanya yang menyejukkan diriku.

Aku menginginkannya.

Aku, Cinderella, dan dia pangeranku.

*bersambung

Bogor, 19-1-13

§ One Response to Untuk Kamu, Apa sih yang Nggak Boleh?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Untuk Kamu, Apa sih yang Nggak Boleh? at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: