Bangunkan Aku Pukul Tujuh

22 Januari 2013 § 1 Komentar

“Maafkan aku.”

Suaraku seakan tertahan di tenggorokan saat mengucapkan itu. Lawan bicaraku tak menjawab sampai beberapa saat. Aku bisa mendengar helaan napasnya beberapa kali. Keringat dingin muncul di telapak tanganku. Aku memainkan sprei di ranjang dengan gelisah–membuat pola-pola tak kasat mata dengan ujung jemariku.

“Aku khawatir padamu. Benar-benar khawatir kepadamu, Medina.”

Gantian aku yang membisu. Sekitar tenda itu begitu sepi. Selain desah napas lawan bicaraku, yang terdengar hanyalah suara serangga-serangga malam serta debur ombak yang tak kunjung habis. Baru kusadari kamar ini begitu luas ditempati sendiri. Ranjang ini seharusnya bukan untuk satu orang, tapi jelas disediakan untuk dua orang. Begitu pula semua hal lain dalam tenda itu–westafel yang berjumlah dua. Aku benar-benar merasa kesepian ketika melihat bersamaan ke arah dua cermin besar di atas westafel tadi.

“Maafkan aku. Aku tidak akan bersikap seperti itu lagi.”

“Seharusnya aku nggak membiarkanmu pergi sendirian.” Suara lawan bicaraku melunak. Aku menghela napas lega, kemudian berbaring di atas ranjang besar berkelambu itu.

“Di sini sepi sekali,” ujarku.

“Aku akan menemanimu, sampai kamu tidur.”

“Ceritakan aku sesuatu,” pintaku seraya menarik selimut hingga menutupi tubuhku.

“Hmm… sedang membaca The Timekeeper. Mau kubacakan?”

“Apa saja. Asal kamu tetap di situ.”

Richard mulai membacakan paragraf dari buku yang dimaksudnya. Aku terdiam saat suara merdu Richard memenuhi pendengaranku. Aku selalu menyukainya ketika membaca untukku. Aku membayangkannya ada di sampingku–seperti malam-malam yang lain. Sesekali dia akan mengelus kepalaku yang bersandar di dadanya. Berhenti membaca sejenak, lalu mengecup puncak kepalaku. Tanpa sadar aku membelai ruang kosong di samping kiri tempat tidur yang kosong, semestinya ada seseorang yang menempati tempat tersebut.

“Try to imagine a life without timekeeping. You probably can’t. You know the month, the year, the day of the week. There is a clock on your wall or the dashboard of your car. You have a schedule, a calendar, a time for dinner or a movie. Yet all around you, timekeeping is ignored. Birds are not late. A dog does not check its watch. Deer do not fret over passing birthdays. an alone measures time. Man alone chimes the hour. And, because of this, man alone suffers a paralyzing fear that no other creature endures. A fear of time running out.”

“Richard,” panggilku.

Lantunan suara Richard terhenti. Sejenak hanya ada sunyi di antara sambungan telepon itu.

“Ada apa, Medina?”

“Cerita itu menakutkan.”

“Aku akan menceritakan yang lain….”

“Itu tentang ketakutan kehabisan waktu. Aku tidak menyukainya. Aku takut,” aku memotong ucapan Richard.

“Kamu punya semua waktuku, Medina.”

Aku mengembuskan napas panjang. Pada saat itu, seakan-akan ponselku pun mengamini ketakutanku. Ponsel itu memberikan aba-aba kehabisan baterai.

“Richard, ponselku kehabisan baterai. Tolong, bangunkan aku pukul tujuh besok,” kataku tak rela, tanganku mencengkeram erat pinggiran selimut. Aku sama sekali belum mengantuk.

“Jangan matikan lampunya jika kamu takut. Selamat malam, Medina. Sampai jumpa besok. Aku harap malam ini ada di sana, bersamamu.” 

Hingga beberapa lama setelah telepon itu usai, aku masih belum bisa memejamkan mata. Tanpa harus mematikan lampu, ketakutan itu tetap datang kepadaku. Kesepian di tempat ini terasa begitu asing. Aku tidak terbiasa dengan semua ini. Aku berguling gelisah di atas ranjang. Namun usahaku itu tidak banyak membantu, aku tetapi tidak bisa terlelap.

Aku mencabut ponselku dari pengisi daya meski baru setengah terisi. Nomor ponsel Richard langsung kuketikkan tanpa ragu, tapi aku hanya bisa mencapai mailbox. Beberapa kali dan teleponku selalu kembali ke sana. Aku berpikir untuk menghubungi Nararya, tapi aku sendiri tidak menyimpan nomor ponselnya. Satu-satunya cara untuk menghubunginya adalah mendatangi ke tendanya.

Entah dorongan dari mana, tapi aku langsung bergegas keluar dari tendaku. Di bawah lampu-lampu yang menerangi jalan setapak, aku melangkah digelayuti rasa takut. Aku tidak pernah suka kegelapan, seperti yang sekarang kutemui di antara pohon-pohon yang berdiri di sekitar sini. Suara ombak terdengar begitu keras di luar tenda. Aku memeluk diriku sendiri sambil terus berjalan ke tenda Nararya. Aku harap dia belum tidur saat aku sampai di sana.

“Nara,” panggilku.

Sekali saja aku melontarkan panggilan itu dan pintu tenda Nararya langsung terbuka. Angin mengacak rambutnya yang sudah berantakan. Nararya memandangku dari atas ke bawah.

“A-aku tidak bisa tidur,” ujarku terbata, sambil memeluk diriku sendiri.

Butuh beberapa saat bagi Nararya untuk mencerna ucapanku, sampai dia kembali angkat bicara. “Masuklah.”

“Terima kasih, Nara.”

Aku mengelus lenganku sendiri dan langsung duduk menuju sofa. Nararya duduk di sisi sofa yang lain, menuangkan sampanye untuk dirinya sendiri. Tatapannya tidak tertuju kepadaku, melainkan ke arah lain dan entah apa yang sebenarnya dilihatnya.

“Apa aku menganggumu?”

Nararya menoleh kepadaku dengan anggun. “Tidak,” jawabnya singkat, lalu kembali meneguk sampanye di gelasnya.

Kami berdua sama-sama terdiam. Canggung sekali kami berdua saat ini. Sekarang aku benar-benar merasa seakan sudah menganggunya. Seharusnya aku tidak perlu bersikap kekanak-kanakan seperti ini. Namun aku memang tidak terbiasa sendiri, aku selalu butuh orang lain di sisiku.

“Kamu sudah lama berteman dengan Adam?”

“Sekitar lima tahun.”

Aku mengangguk. “Teman kerja? Kuliah?”

“Teman main.”

“Oh… teman main…?”

Drifting.

“Oh…,” kataku seraya menganggukkan kepala kesekian kalinya. Aku tahu hobi otomotif Adam, tapi tidak pernah terlalu peduli selama ini. Kami sama-sama membisu lagi setelah itu dan aku tak bisa menahan diri untuk menguap ketika malam makin larut.

“Tidurlah, Medina. Aku akan tidur di sofa.”

Aku menatap Nararya. “Biar aku yang tidur di sofa. Aku menumpang di sini.”

Nararya tersenyum dan menggeleng.

“Kita bisa berbagi,” kataku seraya memandang ranjang. “Kita bisa berbagi,” ulangku, kini sambil menatap Nararya. Aku menaikkan kakiku ke atas sofa, lalu merebahkan punggungku.

“Oke,” jawab Nararya kemudian.

Beberapa menit kemudian, kami berdua sudah sama-sama berbaring di atas ranjang. Bahkan untuk ditempati dua orang ranjang ini masih terlalu besar.

“Terima kasih,” ujarku kepada Nararya.

“Selamat malam, Medina.”

 

*bersambung

Bogor, 22-1-13

*paragraf di atas diambil dari buku The Timekeeper oleh Mitch Albom

§ One Response to Bangunkan Aku Pukul Tujuh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Bangunkan Aku Pukul Tujuh at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: