Jangan Ke mana-mana, di Hatiku Saja

23 Januari 2013 § 1 Komentar

Baca cerita sebelumnya di sini.

——-

Ponselku berdering nyaring.

Aku hendak meraih ponsel tersebut di atas nakas, tapi sebuah tangan terjulur mencegah lenganku. Aku terkesiap, lupa kalau malam ini aku tidur bersama orang lain di sisiku. Nararya menurunkan tanganku perlahan. Aku merasakan ia bergerak di belakang punggungku, mendekat kepadaku.

Jantungku berdetak kencang saat tubuh Nararya bersentuhan dengan bagian belakang badanku. Tangannya kemudian melingkari pinggangku. Di antara sunyinya kamar itu, aku bisa mendengar desah napasnya yang berderu di atas bahuku.

“Jangan ke mana-mana,” ucapnya.

Aku mengigil mendengar suara Nararya. Ada terus berdesir dalam hatiku bahkan setelah beberapa saat dia mengucapkan itu.

“Aku sudah janji untuk mengungkapkan kepadamu tentang hal itu.”

Nararya mengenggam tanganku.

“Maafkan aku, Medina,” katanya lirih.

Detak jantung yang tadinya memburu karena perasaan hangat, kini langsung berubah memelan. Perasaan was-was tiba-tiba menggerayangiku. Untuk apa Nararya minta maaf kepadaku?

“Tatap mataku, Medina.”

Aku terhenyak oleh permintaannya. Tubuhku serasa kaku di atas ranjang itu, di dalam pelukan Nararya. Membalas tatapan mata Nararya hanya membuat aku semakin terkurung kepada Nararya. Dia benar-benar tidak membiarkan aku lari ke manapun.

“Medina,” panggilnya merdu.

Aku menelan ludah, berusaha menggerakkan tubuhku yang seolah kram. Namun nyatanya aku bisa berbalik dengan mudah–kini aku menghadap kepada Nararya. Pagi ini, dengan bantuan sinar matahari yang menerobos lewat jendela-jendela besar dinding kamar, aku bisa melihat stuktur wajah Nararya dengan jelas. Cokelat warna matanya menjadi pusat semua keindahan dari wajah itu. Senyum tipisnya tersungging untukku yang membuatku mau tidak mau membalasnya.

Degupan jantungku kembali liar karena membalas senyum itu. Saat ini, tak ada yang lebih kuinginkan selain bisa memiliki senyum itu setiap pagi.

“Ini tentang Adam.”

Senyum Nararya luruh ketika mengatakan itu. Pandangan matanya menajam kepadaku, begitu pula genggaman tangannya yang mengerat.

“Tentang kecelakaan itu,” Nararya berhenti sejenak, “aku yang menyebabkannya.”

Beberapa menit terisi oleh kesunyian. Aku tidak percaya apa yang diterima oleh pendengaranku. Aku hanya diam dan berusaha mencerna.

“Seharusnya aku yang mati. Bukan dia.”

Aku menghela napas panjang.

“Maafkan aku, Medina.” Nararya meletakkan tangannya di pipiku.

Hangat yang sejak kemarin kutemukan dari belaian tangan itu mendadak berubah menjadi dingin kini.

“Aku tahu aku diberi kesempatan hidup untuk ini. Untuk mencintaimu. Untuk menjagamu,” bilangnya pelan.

“Kamu membunuh kakakku?”

Nararya terdiam.

“Kamu melakukannya? Membiarkannya?”

“Aku tidak tahu itu akan terjadi. Seharusnya aku yang memakai mobil itu. Bukan dia,” jelas Nararya.

“Kamu membiarkannya,” ujarku gemetar.

“Aku mencintaimu, Medina.”

Aku tidak bisa menahan tangisku sesudah itu. Nararya merengkuhku dalam pelukannya, membiarkan aku menangis sepuasnya di sana. Aku sendiri tidak ingin lari ke mana-mana, aku hanya butuh seseorang yang mau memelukku di kala perasaanku hancur seperti ini. Di sini hanya ada Nararya, tak ada Richard.

Setelah itu, aku meminta kepadanya untuk kembali ke kamarku. Dia mengantarkanku, berjalan di belakangku dalam diam. Aku melangkahkan kakiku dengan cepat, sama membisunya dengan Nararya. Di depan tendaku, Nararya meraih tanganku, yang membuatku langsung berhenti bergerak.

“Aku akan menjagamu, apapun yang terjadi.” Nararya berjanji kepadaku.

Aku tidak membalas apa-apa kepadanya, meninggalkannya begitu saja di depan pintu.

Di tepi ranjang aku mendudukkan diri sampai entah berapa lama. Pandanganku terpaku ke lantai parquet di bawah kakiku. Namun yang menjadi pikiranku bukanlah tentang itu, namun tentang Adam, lalu Nararya. Apa Nararya melakukan itu benar-benar karena hanya mencintaiku?

Lamunanku terhenti ketika mendengar gemuruh dari kejauhan. Tatapanku langsung mengarah ke laut dan melihat pesawat kecil yang hari lalu membawaku ke sini. Aku langsung berdiri, melangkah ke dermaga. Richard datang dan hanya dialah yang aku butuhkan sekarang.

Aku berada di dekat pantai ketika pesawat itu mendarat di ujung dermaga. Kupercepat langkahku meniti jalan setapak, ketika aku sampai di atas papan-papan kayu dermaga, aku melihat sosok bertubuh tinggi tegap itu keluar dari pesawat itu bersama beberapa penumpang lain. Segera saja aku  berlari ke arahnya, persis seperti anak perempuan yang menyongsong kehadiran ayahnya.

Aku menghambur dalam pelukan Richard, yang juga balas mendekapku tak kalah erat. Kubiarkan beberapa menit berada dalam pelukan yang kokoh itu. Wangi tubuh Richard kini bersaing dengan aroma garam yang diuarkan laut. Bersamanya, seakan dunia pun tidak bisa menyakitiku.

“Aku merindukanmu,” ucap Richard seraya mengendurkan pelukanya. Bibirnya membentuk senyuman, lalu ia mengecup bibirku.

“Aku juga,” balasku pendek.

Richard mengalihkan tatapannya dariku, memandangi sesekelilingnya. Pagi menjelang siang itu langit masih benar-benar biru. Begitu pula lautan di depan kami yang menghampar dengan gradasi warna hijau hingga biru gelap.

“Aku suka tempat ini, Medina,” katanya sambil menghadapkan tubuhnya ke arah lautan.

Aku berdiri menyejajarinya, ikut melihat ke kejauhan. Kubiarkan angin mengacak rambutku, serta panas matahari mengigiti kulitku. “Aku senang sekali kamu akhirnya datang ke sini, Richard.”

“Aku jadi terpikir sesuatu.”

“Apa?” tanyaku.

Richard menghadap ke arahku lagi, lalu berlutut di depanku. Kedua matanya menyorot ke arahku. Di antara telunjuk dan ibu jari Richard ada sebuah cincin.

“Aku tidak ingin kamu pergi lagi. Jangan meninggalkanku lagi. Jangan ke mana-mana, di hatiku saja.”

Di ujung dermaga, aku melihat Nararya yang memperhatikan kami. Pangeran yang patah hati.

 

*bersambung

Bogor, 23-1-13

§ One Response to Jangan Ke mana-mana, di Hatiku Saja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Jangan Ke mana-mana, di Hatiku Saja at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: