Tunggu Di Situ, Aku Sedang Menujumu

23 Januari 2013 § 1 Komentar

6814545108_6761db9b89_b

Baca cerita sebelumnya di sini.

——

Banyak perempuan yang mungkin bermimpi dilamar di tempat seperti ini. Ujung dermaga dengan bentangan laut yang begitu jernih di bawahnya. Beratapkan langit biru berhias carik-carik awan. Kemudian, seorang pria yang berlutut di hadapan dengan sebuah cincin berkilau dan bermata biru.

Di antara banyak perempuan itu, aku tidak termasuk di dalamnya. Aku tidak pernah memimpikan hal itu–yang sekarang terjadi kepadaku.

Aku menatap Richard yang tersenyum kepadaku. Tangannya masih menyodorkan cincin yang begitu indah–ia selalu tahu seleraku. Pria yang selalu rapi ini selalu mengerti apa yang kuinginkan, seakan dia bisa membaca pikiranku. Kini, aku mencoba menutup-nutupi pikiranku, ada Nararya membayangi di dalam sana dan aku tidak bisa mengusirnya.

Aku mengigit bibir. Kedua tanganku terkepal di sisi badan. Angin mengacaukan rambutku, membuatnya berkibar di depan wajahku.

Momen ini, ketika Richard memintaku untuk menjadi pendampingnya sekarang menghadirkan perasaan asing. Seakan Richard yang ada di depanku sekarang merupakan seseorang yang baru saja kukenal. Sementara, Nararya yang tadi kulihat ada di ujung lain dermaga adalah sosok yang sudah menetap selamanya di dalam hatiku.

Betapa mudahnya hati manusia terbolak-balik.

Pandanganku menjelajahi raut wajah Richard. Aku teringat ketika pertama kali melihatnya, seorang pemuda berwajah tampan dengan tatapan menyala-nyala dan suara bariton yang menangkan. Sekian tahun berlalu, sorot matanya masih menyala, bukan lagi seperti api yang berkobar, tapi api yang hangat. Pandangan mata yang selalu memberi keyakinan bahwa ia selalu bisa menjadi yang diandalkan.

Aku menyukainya sejak pertama ia tersenyum kepadaku dan menyapaku. Umurku tujuh tahun dan dia dua puluh empat tahun. Pemuda berbadan tegap itu datang menemui ayahku, ketika sedang menunggu ayahku, ia melihatku yang sedang belajar membaca buku cerita bergambar, Cinderella. Serta merta, Richard menawarkan diri untuk membacakannya kepadaku. Senyumnya dan tatapan matanya membuatku percaya sejak itu, aku tak menolaknya. Dia menaruhku di pangkuannya dan mulai membaca dongeng tersebut. Aku bersandar di dadanya, merasakan gerakan naik turun diafragmanya setiap kali ia menarik napas.

“… Cinderella dan pangeran pun hidup bahagia selamanya.”

“Sudah?”

“Iya, sudah selesai,” katanya seraya menutup buku tersebut.

“Kalau aku jadi Cinderella, Kakak jadi pangerannya ya,” bilangku sambil menghadap kepadanya.

“Boleh, boleh,” ujarnya, menganggukkan kepala.

Sejak saat itu, setiap kali Richard datang ke rumah, aku selalu memintanya untuk membacakan sesuatu untukku. Kalaupun aku kehabisan buku, Richard selalu punya cerita-cerita lain. Dia yang mengenalkanku kepada The Hobbit dan karya Tolkien lainnya. Kami berteman baik, baik sekali. Aku pernah marah kepadanya ketika aku tahu dia punya kekasih dan membawanya ke rumah. Setelah itu, Richard selalu datang sendiri, dan setiap pertemuan dengannya, ia selalu jadi milikku.

Sekarang Richard memintaku jadi miliknya.

Dua tahun terakhir kami tinggal bersama. Usai aku kuliah, Richard menawarkan hal itu kepadaku, daripada aku harus tinggal sendiri di rumah, sementara Adam masih berada di luar kota. Kedua orang tuaku sudah meninggal dan sejak dulu orang tuaku percaya dengan Richard. Maka, aku pun tidak menolak usulan itu. Kami bersama dan dia mengaku mencintaiku sudah sejak lama.

“Medina.”

Panggilannya menyambangiku, aku tersadar dari nostalgiaku. Kembali aku memandang Richard di hadapanku dengan fokus. Bahkan aku bisa melihat kerutan-kerutan di sekitar sudut matanya. Meskipun begitu, itu sama sekali tidak mengurangi keindahan wajahnya–di mataku Richard selalu tetap sama.

Tetapi waktu tidak sebaik itu. Baginya yang abadi hanyalah masa lalu, yang tak mungkin lagi berubah. Kekal berupa memori yang terendap di dasar kepala. Sementara itu, waktu membuat segalanya bergerak bersamanya–berubah. Ketika sesuatu berhenti bergerak dan berubah, maka ia mati dan abadi sebagai kenangan.

Richard bukan sekedar pangeran bagiku, ia lebih dari itu, ia adalah seorang pelindung. Bukan seseorang yang datang dan membawa sepatu kaca, mengklaim jika aku adalah miliknya.

“Aku….”

Kehadiran seseorang menyela perkataanku. Aku berdiri membisu, menatap terkejut tubuh tinggi Nararya yang berdiri di antara aku dan Richard. Nararya datang menujuku tanpa ragu. Aku tidak pernah menyangka keberadaannya di ujung dermaga adalah untuk ini semua. Nararya sengaja memberiku waktu bersama Richard. Nararya membuatku menunggunya sehingga aku bisa memikirkan tentang segalanya antara kami bertiga.

Angin berhembus kencang kala itu. Dari balik helaian rambutku, aku melihat Richard yang berdiri perlahan. Jantungku yang sejak tadi sudah berdegup kencang, sekarang seperti dipaksa untuk berdetak lebih cepat. Keduanya bertatapan.

“Dia milikku.”

Suara itu keluar dari bibir Nararya penuh keyakinan.

*bersambung ke episode terakhir!

Bogor, 23-1-13

*punten, lupa ngambil fotonya dari mana 

§ One Response to Tunggu Di Situ, Aku Sedang Menujumu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Tunggu Di Situ, Aku Sedang Menujumu at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: