Cut!

25 Januari 2013 § 11 Komentar

Baca cerita sebelumnya di sini.

Seluruh episode Medina-Nararya-Richard ada di sini.

 

—-

Nararya di depanku, menjadi penghalang antara aku dan Richard.

“Dia milikku.”

Pada saat ini, aku berharap tiba-tiba ada suara yang menyerukan ‘cut!’. Kemudian dari balik pepohonan di belakang kami muncul sang sutradara dan kru yang bertepuk tangan karena adegan puncak yang telah selesai diambil. Richard, aku, dan Nararya akan saling tertawa satu sama lain–bahwa yang kami lakukan hanyalah akting semata. Peter Jackson, sutradara trilogi The Lord of The Rings dan The Hobbit, mungkin bisa melakukannya, menjadikan klimaks ini begitu tragis.

Bisa-bisanya aku berpikir seperti itu sekarang.

Aku menarik napas panjang, membiarkan paru-paruku terisi udara beraroma garam. Angin masih terus berembus, sesekali kencang lalu melembut dan seterusnya seperti itu. Aku tidak berharap momen ini abadi–kali ini aku ingin waktu bergulir lebih cepat. Bahkan meski aku hanya punya waktu sedikit lagi, aku tetapi menginginkan momen ini cepat berakhir.

Kalau perlu, bahkan aku tidak usah harus mengambil keputusan apa-apa.

“Apa maksudmu?”

Suara bariton Richard terdengar menggelegar, mengalahkan deburan ombak di sekitar dermaga.

“Dia milikku,” ujar Nararya berusaha meraih tanganku. Responku yang terlambat membuat Nararya begitu mudah mendapatkannya. Aku menggeliatkan tangan, berusaha melepaskannya dari genggaman Nararya yang kian mengerat.

“Tidak. Dia kekasihku, Nararya.”

Aku bahkan tidak tahu kalau mereka berdua saling mengenal.

Selanjutnya, tanpa kusangka, Nararya dengan cepat mengubah posisi berdirinya hingga menghadapku. Detik sesudahnya aku bisa merasakan bibir Nararya di bibirku. Wajahnya begitu dekat, dengan rambut yang berkibar tersapu angin. Aku bahkan bisa merasakan ada helaian rambutku di antara bibir kami.  Aku langsung mendorong tubuhnya menjauh dariku, namun tangannya masih menggenggam tanganku. Jantungku berdegup kencang dan napasku terengah-engah hingga memaksaku membuka mulutku untuk bernapas. Richard sedang memandangku begitu tajam. Aku hanya bisa menelan ludah.

“Aku… tidak,” ujarku tergagap kepada Richard.

Richard maju lebih dekat kepada Nararya. Tanpa kusangka, Richard langsung melayangkan pukulan ke wajah Nararya. Tubuh Nararya terpelanting, begitu pula aku yang ikut terbanting ke lantai dermaga. Pegangan Nararya terlepas dariku, sehingga aku bisa merasakan aliran darah yang menyerbu ke tanganku setelah sejak tadi terblokir oleh genggaman Nararya.

Sekarang Nararya sudah bangkit, kembali berhadapan dengan Richard. Mereka berdua sama tinggi, meski Richard memiliki postur yang lebih tegap dibanding Nararya. Aku segera berdiri dan melangkah ke arah mereka berdua. Aku membelakangi Richard dan memandangi Nararya.

“Aku mencintaimu dan aku menginginkanmu. Aku tahu kamu punya keinginan yang sama, Medina,” ucap Nararya.

Dia tahu. Hanya dengan melihat mataku, dia tahu.

Aku menoleh kepada Richard. Lalu menundukkan kepalaku.

“Kamu nggak sungguh-sungguh mencintaiku, Nararya. Kamu nggak sungguh-sungguh mencintaiku.” Dua kali kuucapkan kalimat itu kepadanya, sambil menatap mata Nararya. Aku sampai bisa melihat bercak darah di bibir Nararya yang ingin sekali kuseka.

“Aku mencintaimu,” ujarnya tanpa suara. Tangan Nararya membela pipiku yang kini basah karena air mata.

Dadaku menyesak. Kedukaan terpancar jelas di mata Nararya.

“Kamu lebih baik pergi, kalau hanya datang untuk membuat hidupku berantakan,” kataku gemetar. Aku mundur selangkah dan membentur tubuh Richard. Jari-jemari Nararya terlepas dari pipiku dan tangan Richard meraih tanganku, mengenggamnya.

Aku tak perlu meminta dua kali kepada Nararya.

Pangeran yang patah hati itu pergi. Sejak awal, aku memang bukan Cinderella untuknya.

 

Bogor, 25-1-13

Makasih semua yang udah ngikutin serial Nararya, Medina, dan Richard. Nanti jadikan pdf deh terus bisa didonlot keseluruhan chapternya. Oke, sampai ketemu di cerita bersambung yang lain!😀

Salam sayang dari, Richard.

sumber gambar.

§ 11 Responses to Cut!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Cut! at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: