[Tips] Menyusun Kerangka Tulisan

14 Februari 2013 § 10 Komentar

tulisan iseng-iseng… ^^

Gue sering dimintai solusi untuk pertanyaan-pertanyaan seperti, ‘Sudah nulis setengah tapi mandek’, ‘Nggak tahu endingnya’, ‘Nggak tahu mau nulis apa lagi’, ‘Ceritanya melenceng ke mana-mana’. Jawaban gue cuma satu: persiapkan kerangka tulisan.

Kemudian, dingeyeli lagi: ‘Tapi kalau pakai kerangka tulisannya jadi kaku’, ‘Nggak bisa improvisasi’, ‘Nggak bebas berkreasi’. Biasanya sih yang ngomong begitu nggak benar-benar pernah mencoba menulis penuh menggunakan kerangka tulisan.

Gue sendiri pernah nulis novel dari yang nggak pakai kerangka sampai yang kerangkanya lengkap.

Ketika nulis nggak pakai kerangka, gue ya bermodal ingatan aja. Namun, ketika ngedit nggak semulus saat nulis…. Karena nggak punya catatan, gue harus benar-benar ngaduk-aduk ingatan. Dan itu berat, bro… berat. Kecuali, punya otak super dan bisa ngingat benar-benar, bolehlah nggak pakai kerangka.

Terus berlanjut ketika gue nyoba nulis dengan kerangka seadanya. Gue cuma bikin poin-poin adegan yang mau gue tulis, tapi nggak mendetail. Lumayan membantu. Tapi kemudian ketika ngedit… dang!… dihantui detail demi detail yang tercecer dalam tulisan.

Akhirnya, gue nulis dengan kerangka lengkap. Sebelum nulis gue rincikan semua yang gue butuhkan dalam tulisan, termasuk tokoh, setting, sampai adegan demi adegan.

Pada saat membuat kerangka lengkap itu, barulah gue menyadari kelemahan gue dalam menulis adalah mengingat detail dengan terperinci. Karena itulah gue butuh banget kerangka tulisan, terutama untuk membantu gue mengingat detail-detail kecil dalam tulisan.

Memang butuh waktu untuk menyusun kerangka. Dan untuk yang belum pernah coba seperti buang-buang waktu atau malah memadamkan api semangat menulis yang sudah membara. Ya, kalau sudah ngebet tulis aja dulu yang sudah kepikiran, tapi tetap dibarengi nyusun kerangka. Biasanya semangat bikin novel itu paling banter sampai beberapa belas sampai beberapa puluh halaman. Sehabis itu, tanpa kerangka… biasanya nggak akan tahu lagi apa yang akan dilakukan. Biasanya juga, ya tulisannya akan melebar ke mana-mana.

Akan tetapi, justru itu menjadi semacam perkenalan dengan kisah yang mau ditulis, terutama karakter dan pendalaman setting. Jadi, justru menyusun kerangka itu semacam pemanasan, seperti aktor yang akan mendalami sebuah karakter, biasanya mereka ada semacam pendalaman karakter. Kayak para dwarfs di The Hobbit, mereka ada Dwarf Bootcamp selama tiga bulan untuk dilatih mengenal karakter yang dimainkan, dari cara jalan, cara berantem, bahasa, latar belakang, dsb, sebelum mereka mulai syuting beneran. Jadi, ketika syuting mereka udah benar-benar siap melakukan apa yang ada di skenario.

Kenapa aku bilang mereka yang belum pernah benar-benar bikin kerangka yang bilang kerangka itu membatasi?

Karena aku mengalami sendiri. Kerangka tulisan adalah pemandu kita selama menulis. Menulis itu kan bak perjalanan. Menulis novel juga bukan free-writing (eh apa itu istilahnya yang menulis bebas), jadi harus tahu ke mana tujuannya. Dalam perjalanan itu, kerangka seperti peta, boleh mampir ke mana-mana, tapi tujuan akhirnya adalah di sana….

Kerangka tidak akan membatasi improvisasi. Ketika sudah mulai menulis, nantinya kita bakal mengenal karakter yang kita buat secara lebih baik. Saat sudah merasa kenal itu, maka akan muncul improvisasi atau penyesuaian dengan plot yang sudah kita buat. Apa iya, karakter kita akan begini? Bisa jadi plotnya berubah, tapi kerangka bakal ngingetin kalau yang harus kamu tulis sebenarnya adalah begini. Jadi, bisa ditambahkan sebagai catatan revisi atau nantinya digunakan sebagai perbandingan dengan kerangka dasarnya. Bahkan seorang Peter Jackson dan Philipa Boyens, sutradara dan penulis skenario The Hobbit, mereka bikin revisi naskah setiap hari syuting. Maka, nggak seharusnya kerangka membatasi, justru seharusnya membuat berpikir lebih kreatif.

Kerangka tulisan sendiri sebenarnya beda-beda ya untuk setiap penulis. Biasanya bentuk umumnya berupa rincian adegan per adegan, atau bab per bab yang mau ditulis. Tetapi ya, balik lagi ke kenyamanan masing-masing penulis.

Gue pernah merangkum beberapa teknik menyusun kerangka. Teknik ini dari Sarah Domet, penulis 90 Days to Your Novel, memberikan tiga contoh metode menyusun kerangka:

 

– The “Structure-plus” Outline

Metode ini membagi adegan dalam tiga bagian:

a. pengenalan (karakter dan situasi)

b. konflik (si tokoh menginginkan sesuatu, tapi ada yang menghalanginya)

c. penyelesaian (si tokoh mendapatkan apa yang dia inginkan atau tidak).

Metode ini mengharuskan kamu tahu detail setiap kejadian: tempat, waktu, dan sebagainya. Membuat kerangka dengan metode ini akan sangat berguna untukmu yang sering lupa. Karena ketika membuatnya kita diminta untuk membubuhkan setting sebanyak mungkin dalam kerangka. Kerangka model ini juga akan mempercepat proses menulismu, karena kita tidak perlu banyak memikirkan detail ketika menulis. Yang perlu diperhatikan: kerangka dengan metode ini membuatmu susah untuk menambahkan detail baru dalam proses penulisan.

Contoh:

I. Latar: Dapur sebuah kafe, jam 5 sore hari

Karakter: Rian, Dina, dan manager tempat Dina bekerja

Tujuan: Untuk meningkatkan ketegangan antara Rian dan Dina

a. Rian akhirnya mendapat tawaran beasiswa ke luar negeri dan berencana menemui Dina untuk memberitahunya di tempat kerja Dina

i.    Dina mengajak Rian ke dapur kafe

ii.    “Aku ingin memberitahumu sesuatu,” kata Dina. “Aku hamil.”

iii.    Manajer Dina menyela, “Dina, ke meja tujuh sekarang.”

b. Rian terkejut dan merasa cita-citanya untuk melanjutkan sekolah ke luar negeri kandas.

i.    “Apa yang akan kamu lakukan?” tanya Rian.

ii.    “Aku? Apa yang akan aku lakukan? Kita melakukan ini berdua, Rian,” ujar Dina dengan bingung.

iii.    Manajer Dina masuk kembali dan melihat Dina menangis. “Tinggalkan dia sekarang dan keluarlah dari sini,” katanya pada Rian. “Dina, kubilang meja tujuh. Sekarang.”

c. Rian segera meninggalkan kafe itu dan di tengah jalan ia meremas kertas itu lalu membuangnya.

 

– The Signpost Outline

Metode ini hanya menjabarkan secara general adegan yang terjadi. Metode ini cocok untuk kamu yang sudah memiliki gambaran cerita secara besar dalam kepalamu dan senang berimprovisasi ketika proses penulisan. Yang perlu diingat: menggunakan kerangka model ini untuk menulis, karena detailnya hanya disajikan secara general, maka ketika proses penulisan kamu baru akan menambahkan detail dalam adegan tersebut. Dan karena tiap adegan tidak terpeta dengan jelas, maka ada bisa menyebabkan tulisanmu stuck di tengah-tengah.

Contoh:

Scene 6: Action Scene

SETTING: Ruang brangkas sebuah bank

CHARACTERS: Jack, Jasmine, dan Mary

PLOT: Jack dan Jasmine berhasil masuk ke ruang brangkas. Ternyata di dalam sana, Mary sudah menunggu. Ia menodongkan pistolnya kepada Jack dan Jasmine, sambil memaksa meminta kode angka untuk membuka brangkas.

 

– The Notecard Technique

Pembuatan kerangka dengan metode ini: menganggap setiap adegan berdiri sendiri. Sehingga kamu bebas mengerjakannya dari mana saja. Metode ini mengharuskan kamu untuk ‘menjahit’ tiap adegan di akhir proses penulisan sesuai dengan benang merah ceritamu. Metode ini juga mengharuskan kamu sudah mengenal baik elemen-elemen cerita yang kamu buat sehingga tidak kesulitan ketika melakukan penyatuan adegan.

Contoh:

SETTING: Rumah: teras dan kamar Nawang. Sore hari.

KARAKTER: Joanna, Nawang, Artan

Joanna sedang mengobrol dengan Artan ketika Nawang pulang dan melihat keduanya.

Artan menitipkan sesuatu pada Joanna untuk Nawang karena Nawang tidak mau menemuinya.

Saat Joanna memberikan titipan tersebut kepada Nawang, ternyata Nawang marah karena cemburu.

TUJUAN: Untuk mengembangkan plot di mana nantinya Nawang dan Joanna harus mengambil keputusan tentang hidup mereka.

 

Itu adalah beberapa teknik menyusun kerangka. Kerangka nggak mutlak dibuat, tapi aku menyarankan untuk penulis pemula, cobalah untuk menyusun kerangka sebelum menulis. Itu benar-benar bakal membantu banyak kok. Ada juga penulis yang sekadar membuat catatan-catatan untuk tulisannya. Ya, itu ndak apa-apa, bebas aja. 

Kerangka dan catatan-catatan yang dibuat itu nantinya bakal berguna banget ketika proses editing. Percaya deh…

Yang jelas, alangkah baiknya untuk mempersiapkan hal-hal yang dibutuhkan sebelum menulis. Jadi, saat tersesat atau ingin berhenti di tengah jalan, sudah ada peta yang dipegang, ada perjalanan yang harus dilalui sampai ke tujuan. Selamat menulis!

Adit

§ 10 Responses to [Tips] Menyusun Kerangka Tulisan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading [Tips] Menyusun Kerangka Tulisan at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: