Abu-abu atau Biru

11 Maret 2013 § Tinggalkan komentar

Aku ragu, matanya abu-abu atau biru.

**

Editorku mengetuk palu—jangan gunakan latar yang sekarang kupakai untuk naskah terbaruku. Kota yang sama dengan tempat tinggalku dan jelas aku tahu sudah dibangun bertahun-tahun lalu. Melewati perdebatan alot, aku dan editorku bertemu di satu titik temu. Nama kota kecil itu tidak cemerlang, aku memilihnya semata-mata karena aku pernah tinggal di sana sebentar dan editornya menyetujuinya. Dulu kakek dan neneknya tinggal di sini, tidak jauh dari pantai berpasir kecokelatan.

Tanpa pikir panjang, selagi pikiranku sedang hangat, aku pun memutuskan langsung mendatangi sekaligus menyelesaikan naskahku di kota ini. Beberapa tahun tidak menjejakkan kaki di sini, ingatanku belum pupus. Jembatan tempat kakek sering mengajakku jalan-jalan masih sama, alun-alun tempat aku sering menemani kakek membaca pun tidak jauh berbeda. Seharian kemarin aku menghabiskannya untuk memberesi tempat tinggal baruku serta membeli beberapa kebutuhan yang kubutuhkan. Hari ini, sejak pagi aku sudah menyusuri kota ini dengan berjalan kaki.

Sekolah menengah tempatku menuntut ilmu ada di seberang alun-alun. Melihatnya seperti aku kembali ke masa lalu, saat aku rambutku masih panjang dan sering kukepang. Kubidik bangunan berarsitektur kuno itu dengan kameraku. Tempat itu bukan salah satu latar yang kugunakan dalam ceritaku—nostalgia, hanya itu alasannya.

Pada saat itu, mataku menangkap sosoknya. Jalannya cepat seperti orang-orang di kota-kota besar yang selalu dikejar waktu. Mantelnya berkelebat, tas yang diselempangkan di bahunya bergoyang cepat. Tanpa sadar aku menekan shutter kameraku. Menjadikannya obyekku. Akan tetapi dia tahu dan menoleh kepadaku. Jantungku bergolak sesaat hingga telunjukku terasa kaku di atas tombol shutter. Momen itu hanya sekedipan mata, lalu ia bersikap seolah tidak melihatku, terus berlalu menuju mobilnya.

SUV hitam itu melewatiku ketika aku memeriksa jepretanku. Aku mendongak, bola mataku mengekori SUV itu hingga menghilang di belokan. Perhatianku kembali fokus pada foto-foto itu. Aku senang bisa mengabadikan langkahnya yang tegas, tubuh tegapnya, kelebatan mantelnya, dan tangannya yang tersimpan di saku pantaloon hitamnya. Bahkan di dalam foto ia bergerak begitu luwes, hanya satu yang mengusikku. Sesuatu yang selalu sama dari frame ke frame—mukanya yang keras dan muram. Rahang berhias sisa cukuran itu mengatup, bibir tipisnya terentang kaku, berpadu dengan sorot mata dingin.

Pria berwajah mendung itu, aku pernah bertemu dengannya.

**

Aku mengangkat kardus terakhir dari bawah. Keringat bercucuran di pelipisku setelah kali ketiga mendaki tangga ke lantai tiga. Tadinya aku hanya ingin tinggal beberapa hari di sini. Ide itu berkembang menjadi aku akan menetap di sini beberapa bulan setelah tahu bahwa aku akan tinggal tidak jauh dari pantai.

Balkon flatku mengarah ke pantai. Menghadap ke barat yang berarti bonus matahari terbit hampir setiap pagi di musim cerah. Flat studio itu cukup besar untuk ditinggali sendirian. Tidak jauh dari flatku, ada sebuah toko roti sekaligus kedai kopi. Sejak awal mengetahuinya, aku sudah menentukan bahwa tempat itu akan jadi tempat menulisku.

Melamunkan itu semua membuatku nyaris menabrak seseorang di atas tangga. Aku terhuyung, namun segera menyeimbangkan diri dengan bersandar di dinding. Pria yang bercambang lebat itu menatapku sekilas. Tanpa senyum dan sepatah kata ia bergeges menuruni tangga. Aku memperhatikan tubuh atletis yang terbalut celana training dan hoodie yang dikerudungkan di kepalanya. Induk semangku bilang aku hanya punya satu tetangga di lantaiku, lantai teratas, mungkin pria bermata abu-abu itu yang dimaksud.

**

Di musim cerah, setelah setengah hari berlalu, maka langit di atas kota kecil ini akan segera dipenuhi awan-awan kelabu. Cuaca ini sudah dimaklumi penduduk kota yang selalu sedia payung sebelum hujan. Kakekku pernah bilang karena kota ini terletak di antara gunung dan pantai, maka seperti itulah yang selalu terjadi di kota.

Sore itu, hujan deras turun. Aku duduk di meja makanku, menunggu brownies yang kupanggang matang. Laptopku menyala, di sampingnya segelas kopi mengepul. Baru beberapa baris meneruskan tulisanku, aku dilanda kebosanan. Kuangkat gelas kopiku dan beranjak dari bangku. Tanpa harus mengeluarkan banyak tenaga, aku menyeret bangku ke sisi jendela. Duduk memandang langit yang kabur karena curahan hujan. Pantai di kejauhan itu pun tersamar. Jalanan di bawah sana sepi, beberapa mobil lewat dengan kecepatan pelan. Kota ini tidak seramai ibu kota, alasan macet tidak berlaku di sini. Di trotoar sosok-sosok berlalu di bawah payung berbagai warna.

Aku harus menulis hujan ini menjadi bagian dari naskahku.

Pikiranku sedang melayang kepada karakter-karakterku di bawah hujan ini. Sampai aku melihat payung gelap yang menutupi pembawanya. Ia berjalan seakan tak peduli hujan. Mantelnya bergerak seirama gerak tubuhnya. Di bahunya tersampir tas kulit yang kulihat tempo hari. Satu tangannya mengenggam sebuah buku, namun aku tidak bisa tahu apa judulnya. Pria itu menghilang di bawah bangunanku.

Aku menghela napas. Mataku terarah ke langit yang suram. Aku ingin tahu ekspresi apa yang ada di bawah payung itu. Masihkah mendung menggelayuti wajah itu?

Hujan mereda sebentar. Suara ovenku berdenting nyaring, memberitahu kalau sudah sebaiknya aku mengangkat browniesku. Mungkin itu dia, cetusku saat aku mengeluarkan loyang. Aroma cokelat dan gula memenuhi otakku. Di kota aku tinggal bersama teman seapartemenku dan biasanya kami menghabiskan seloyang besar brownies ini berdua. Sekarang, seloyang besar brownies ada di hadapanku masih dengan uap terkepul. Bersamaan dengan itu, aku mendengar pintu yang dibuka oleh tetanggaku.

Rasa ingin tahu kembali mengusikku. Brownies ini akan jadi alasannya.

Sepiring brownies di tanganku. Aku mengigit bibir sebelum mengetuk pintu kayu di depanku. Sekarang atau tidak sama sekali. Tanganku bergerak. Buku-buku jariku bergetar saat menumbukkannya ke permukaan kayu berpernis itu. Gelombang suara menyebar, menenuhi lorong.

Pintu itu berayun terbuka, tapi tak sepenuhnya. Tubuh tinggi pria itu menghalangiku untuk melihat ke dalam flatnya. Lengan sweter abu-abunya ditarik hingga ke bawah siku. Tangannya memegang novel Nineteen Eighty-Four karangan George Orwell. Aku menengadah, dia menunduk, kami menatap satu sama lain. Penerangan lorong itu tidaklah terang. Posisinya menciptakan bayangan di wajahnya.

“Siapa?”

Alunan bariton itu mengusir keheningan yang tadi berkumpul bersama kami.

Aku terkesiap, namun buru-buru kuatasi dengan senyumanku yang paling manis. “Aku tetangga barumu, Emma,” kataku seraya menunjuk pintu flatku. “Tadi aku membuat brownies dan aku ingin memberi ini kepadamu. Sebagai tanda perkenalan.”

Sesaat tak ada respon dari pria itu. Brownies yang kudekatkan kepadanya pun tak tersentuh. Jantungku bergejolak. Pikiran macam-macam mulai mengisi otakku. Kusut muka yang jelas kulihat itu harusnya kuanggap pertanda untuk tidak dekat-dekat dengannya. Aku datang ke sini untuk menulis, bukan mencari masalah.

“Emma,” bibir tipis itu bergerak mengeja namaku. “Aku Lucas.” Ia mengambil piring itu dariku, “terima kasih banyak untuk browniesnya.”

Canggung turun menemani kami. Aku mengalihkan tatapanku darinya ke ujung lorong yang dibiarkan gelap. Ada ketakutan menyelip di benakku, hingga aku kembali berpaling ke Lucas. Ya, namanya Lucas.

Kalau aku terus berdiri di sini, dia tidak akan mulai memakan browniesku. “Maaf menganggu, aku akan kembali ke flatku,” ujarku mundur selangkah.

Lucas hanya memandangku dan mengangguk kecil.

“Kau bisa mencariku kalau ada apa-apa,” tambahku.

Mataku membesar saat sadar apa yang aku katakan. Buru-buru aku berbalik menuju flatku. Semestinya bukan aku yang mengatakannya, tapi Lucas. Tanganku mengenggam kenop pintu sewaktu aku mendengar pintu di dinding seberang itu tertutup. Aku menarik napas panjang.

Wajah itu, seperti menahan dukacita.

**

Aku memindahkan posisi meja multifungsi ke dekat jendela. Di situ aku menulis bermandikan cahaya matahari pagi. Pemandangan yang kulihat di dominasi oleh pantai yang ombaknya selalu bergulung keras. Pantai itu sepi, mungkin semua penduduk di pantai ini sudah terlalu terbiasa dengan kehadiran pantai.

Posisiku yang sekarang juga memungkinkan aku mengetahui kapan Lucas datang dan pergi. Bukan sekadar mendengar suara pintu yang terbuka dan tertutup, tapi aku mengamatinya berjalan ke tempat parkir. Setiap pagi dan sore di hari-hari kerja. Di akhir pekan, kadang seharian ia tidak keluar, atau malah pergi dan tak kunjung pulang.

Sejak brownies itu sampai kepadanya, hanya beberapa kali kami bertemu. Selain di saat dia mengembalikan piringku, kami berpapasan di tangga. Saling menyapa satu sama lain, tanpa ada kata lain terselip dan menjadi cakap-cakap.

Pelan-pelan, seiring bertambahnya kata-kata dalam naskahku. Aku pun mulai bisa membaca kebiasaan Lucas. Judul buku yang berbeda setiap dua hari sekali yang dipegangnya dengan tangan kirinya. Lucas senang menggunakan pakaian bewarna gelap, hitam atau abu-abu, dengan mantel sewarna. Sore hari hampir setiap hari ia keluar untuk jogging di sekitar pantai. Aku juga tahu kalau dia sering membeli roti di toko roti tempatku menulis. Di situ aku juga tahu kalau dia tidak minum kopi.

Setiap fakta yang kukumpulkan itu menjadi harta. Mengamati Lucas setiap hari seperti satu kebiasaan yang tidak bisa kulewatkan. Hal yang berhasil merebut fokusku dari naskahku. Aku senang melihatnya. Kagum pada kebiasaan membaca bukunya. Rutinitas larinya. Aku menikmati memandangi wajah tampannya.

Awalnya kuakui dia terlampau dewasa untukku. Umurnya hampir sama dengan kakak tertuaku yang anaknya sudah masuk sekolah menengah sekarang. Hingga aku sadar aku menemuinya dalam mimpi pada suatu hari. Sejak saat itu aku aku ingin tahu banyak tentangnya.

Aku memulainya dari buku dan seloyang brownies lagi. Dia banyak membaca fiksi ilmiah, sama sepertiku. Buku membuatnya lebih banyak bicara dibanding seloyang brownies. Beberapa kali aku mengundangnya masuk ke flatku. Kami mengobrol banyak tentang buku, film, tentang kota kecil ini. Dia menceritakan hal-hal yang kulewatkan setelah aku pindah dari kota ini dan sangat berguna untuk naskahku.

Pernah kami bicara sampai larut malam. Membincangkan novel-novel Michael Crichton, dari Andromeda Strain hingga Micro. Seloyang brownies yang kupanggang sorenya langsung tandas. Lucas mengambil wine miliknya untuk kami nikmati berdua.

Novel Micro yang berlatar di Hawaii, mengungkapkan bahwa Lucas pernah menjejakkan kaki di pulau indah itu. Lucas menuturkannya penuh kekaguman. Akunya, dia menyukai pantai dan suara ombak. Itulah yang menjadi alasan dirinya pindah ke kota ini dan menetap di flat ini.

Cerita Lucas hanya sampai di situ. Otot-otot wajah yang tadi melengkungkan bibirnya, kembali kaku seperti dinding. Namun aku tidak bisa menahan saat dia menarik tubuhku mendekat. Bibir tipisnya menyentuh milikku. Sarafku menegang, memacu jantungku berdetak keras. Ujung-ujung jari dan pelipisku berkedut, bahkan bibirku. Perutku riuh oleh kupu-kupu yang mengepak hebat. Namun itu terhapus oleh gerakan bibir Lucas yang lembut. Aku merasakan wine dan cokelat di sana.

Ciuman itu berhenti ketika tangannya yang mengelus rambutku, sampai di leherku. Napasku menderu. Aku mencium aroma segar dari tubuhnya. Membuatku ingin mengecup sisi rahangnya. Akan tetapi, Lucas seakan membeku dan aku pun menahan diriku hingga gemetar.

Pada jarak ini, warna matanya biru.

**

Buku-buku membuat kami berjumpa kembali, tapi ciuman itu tidak pernah terulang lagi.

“Aku ingin minta tolong kepadamu,” ujar Lucas yang mengetuk pintuku pada suatu sore.

“Ada apa?” tanyaku bergelanyut di pintu, mengantuk. Sejak semalam aku belum tidur sama sekali. Editorku sudah mengejar-ngejar naskahku agar segera diselesaikan.

“Malam ini pesta prom untuk angkatan yang baru lulus. Kami guru-guru juga datang ke pesta tersebut.”

Aku mengangguk-angguk. Kantukku perlahan menguap, mengingat ada harapan dia akan mengajakku ke pesta. Akan tetapi, rasanya itu tidak mungkin sama sekali. Mustahil.

“Aku ingin kamu membantuku memilihkan pakaian yang pantas. Sesuai.”

Tubuhku menegak. Pendengaranku menajam tapi kalimat itu hanya bergema di dalam pikiranku saja. Aku menatapnya dengan pandangan menyelidik.

“Tolong aku ya,” mohonnya.

Dia tersenyum dan aku tidak bisa menolaknya sama sekali.

Pertama kali aku masuk ke flat Lucas. Tidak banyak barang di dalam flat itu, seakan  dulunya penuh kemudian sengaja dikosongkan. Sehingga ada ruang-ruang kosong yang kelihatan tidak wajar di sana. Lemari buku besar menarik perhatianku. Kemudian hanya ada televisi layar datar dan koleksi film miliknya. Namun bukan ke sana tujuan kami, Lucas membawaku ke lemari besar yang diatur posisinya sehingga menciptakan ruangan kecil untuk tempat tidurnya.

Ranjang itu bahkan terlalu besar untuk ditiduri seorang diri.

Buru-buru aku mengusir pikiran itu. Mengalihkan pandanganku ke lemarinya yang besar. Bayangan Lucas memakai pakaian-pakaian warna gelap silih bergantik menjajaki pikiranku. Lemari ini terlalu luas untuk menyimpan kemeja-kemeja dan mantel gelapnya itu.

“Aku tidak terlalu cakap dalam hal fashion,” katanya, membuka lemari.

Aku menyeringai. Ketika pintu lemari itu terbuka, sejenak aku terpaku. Aku menoleh kepadanya. “Lalu untuk apa kau membeli ini semua?”

Lucas tidak tersenyum “Kau sudah mendapatkan pilihannya?”

Mataku menjelajahi tumpukan kemeja yang disusun rapi, mantel-mantel dan jas yang tergantung. Sepatu-sepatu yang jelas-jelas lebih bagus daripada sepatu yang digunakannya setiap hari itu. Melihat ini semua, rasanya gaji seorang guru tidak akan cukup untuk membelinya. Aku membaca label merek ternama saat menarik sebuah kemeja kotak-kotak cokelat dengan warna dasar hitam, vest, jas, dan jins, serta sepatu.

“Agak kasual. Tapi berpesta dengan anak-anak muda tidak perlu terlalu serius,” ujarku menyerahkan itu semua.

“Terima kasih,” balasnya tersenyum, “Aku akan ganti baju dan kau tunggu sebentar di sini ya.”

Lucas berlalu dari hadapanku. Aku menutup pintu lemari tersebut. Lalu bergerak ke arah rak buku yang menjulang hingga langit-langit. Belum sempat aku sampai di rak buku, fokusku tersita kepada sebuah pigura di atas meja kerja Lucas.

Ada tawa dalam foto itu. Tawa yang belum pernah aku lihat selama ini pada Lucas. Mata Lucas memandang seorang perempuan berambut panjang dan gelap. Seorang bayi kecil berdiri dipegangi oleh perempuan tersebut. Aku bahkan itu tersenyum memandangi semua itu. Mereka tampak gembira. Lucas kelihatan sangat bahagia. Sayangnya, posisi Lucas tidak memungkinkan aku mengetahui warna matanya.

“Dia Maya, istriku,” Lucas menunjuk perempuan berambut gelap, lalu telunjuknya berpindah ke bayi kecil, “Leia, anak pertamaku.”

Aku menelan ludah. Saat itu juga aku ingin keluar dari flat ini dan mengurung diri di flatku. Jantungku mencelos ngilu. Kelopak mataku berkedut, seiring dengan sesak yang melanda dadaku.

Aku tidak pernah tahu semua ini.

“Mereka sudah meninggal.”

Tubuhku gemetar. Tanganku memegangi pinggiran meja, nyaris mencengkeramnya hingga aku bisa merasakan ujung kukuku beradu dengan permukaan meja.

“Maafkan aku,” sahutku pelan.

Tak ada balasan dari Lucas. Aku menundukkan kepalaku. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya kurasakan dalam hatiku. Tadi aku sempat mencicipi amarah yang meluap, berubah menjadi cemburu yang mendidihkan, dan kini aku mengenyam pilu. Aku iri kepada Maya yang lebih dulu memiliki Lucas. Aku tidak suka kenyataan bahwa ada orang yang sudah pernah menduduki singgasana hati pria yang kucintai ini.

Tepukan lembut di bahuku hampir membuatku terlonjak.

“Emma, kamu mau temani aku ke pesta itu, kan?”

Kepalaku bergerak perlahan hingga menghadap pada Lucas. Gemuruh masih mengisi pikiranku. Aku tidak bisa mengurai akal sehatku yang seharusnya berada di tempatnya saat ini. Aku diam. Dadaku bergerak naik turun karena napas-napas panjang yang sejak tadi kutarik. Mataku bergerak mengamati Lucas yang sudah rapi dengan pakaian pilihanku. Semua melekat begitu pas di tubuh Lucas.

“Kamu kelihatan oke,” hanya itu yang bisa kuucapkan, meski sebetulnya aku ingin memujinya lebih dari itu.

“Ya, aku merasa nyaman dengan ini.”

Detik itu aku tidak merasa pantas bersanding dengannya ke pesta. “Aku tidak membawa baju pesta.”

“Bukankah kau sendiri yang bilang, tidak perlu serius?” ujar Lucas dengan senyum lebar.

Aku tidak bisa menolak ajakannya. Aku datang ke pesta itu dengan blus terbaik yang kubawa tanpa high heels, aku hanya membawa flat shoes ke sini. Akan tetapi, Lucas kelihatannya sama sekali tidak keberatan.

Lucas mengenalkanku dengan banyak orang. Murid-muridnya menggodanya hingga wajahnya memerah. Guru-guru perempuan menatapku iri. Kami ikut berdansa. Ini pengalaman pertamaku mengikuti pesta prom. Pesta itu kabarnya berakhir lewat tengah malam dan kami pulang lebih dulu karena aku sangat mengantuk.

Lucas menggandeng tanganku sepanjang pesta, hingga kami sampai di lantai flat kami. Alih-alih mengantarkanku ke depan flatku, Lucas malah terus menarikku sampai ujung lorong yang gelap. Ternyata ada sebuah pintu lagi ke sana. Tanpa ragu Lucas membukanya, menghidupkan lampu yang remang, dan membimbingku mendaki tangganya. Kami tiba di depan pintu lain. Lucas mendorongnya dengan sedikit usaha. Ketika pintu itu terbuka aku merasakan angin menyentuh permukaan bahuku yang terbuka. Lucas melepas jasnya dan memakaikannya di pundakku.

“Aku sering ke sini,” bilangnya, mengajakku terus berjalan.

Tepi-tepi atap tersebut dipasangi lampu yang mengarah ke bawah, tapi masih cukup membuat sekitar atap ini terang. Aku memandangi lampu-lampu kota yang menyala. Pohon-pohon di sekitar jalan utama dipasangi fairylights warna-warni. Suara debur ombak terdengar jelas dari tempatku berdiri sekarang. Aku harus menceritakan bagian ini dalam naskahku.

Seperti yang kuharapkan. Di tempat ini, harapanku menjadi nyata. Ciuman itu terulang lagi.

Aku tidak bisa melihat warna mata Lucas, tapi aku mendengar jelas nama Maya terucap darinya.

**

Beberapa minggu kemudian, aku mendapat jawaban atas pertanyaan-pertanyaanku.

Dulu Lucas bukan guru. Ia seorang scientist di perusahan swasta yang mengembangkan pesawat ulang alik untuk kebutuhan space-tourism. Kecelakaan mobil merenggut nyawa Maya dan Leia, menyisakan Lucas yang menyesal. Dari kota tempatnya bekerja, Lucas pindah ke kota kecil ini dan mendaftar menjadi guru fisika.

Ketampanan, kecerdasan, dan keramahannya, membuat Lucas mudah disukai sesama rekan kerja dan murid-muridnya. Namun tak pernah ada yang benar-benar mengenalnya. Semua orang melihat luka di matanya, tapi terlalu sungkan untuk bertanya.

Kepadaku, Lucas memberi sebuah jalan untuk masuk dalam kehidupannya. Aku mendapatkan kesempatan untuk melihatnya tertawa seperti yang kulihat di fotonya bersama Maya.

Aku merasa dia bahagia. Lucas mengaku bahwa dia bahagia menemukanku.

Setelah itu, aku makin sering mendengar nama Maya. Bukan hanya saat kami bercinta, tapi juga ketika obrolan biasa. Lucas memintaku memanjangkan rambutku yang sekarang pendek. Mengajariku membuat panekuk dari resep yang Maya punya. Kadang-kadang, Lucas memohon padaku agar aku memakai baju milik Maya yang ukurannya sama denganku.

Aku menurutinya karena aku mencintainya.

Pada suatu waktu aku pernah bertanya siapa yang Lucas cintai. Aku atau Maya.

“Aku mencintai Maya. Tapi aku juga mencintaimu.” Saat itu aku menolak memandangnya. “Aku melihat Maya di dirimu. Aku ingin bersamamu, Emma.”

Dan aku ingin bersamanya karena aku mencintainya.

Lain waktu, aku pernah bertanya kepada orang-orang apa warna mata Lucas. Semua menjawab abu-abu muda.

Padahal mendung sudah terusir dari wajah itu, mata itu.

Aku tidak ragu lagi. Aku mencintainya. Seyakin bahwa warna mata Lucas adalah biru.

**

Bogor, 11/3/2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Abu-abu atau Biru at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: