Review: Game of Thrones (season 1 dan 2)

5 Mei 2013 § 13 Komentar

“Winter is coming.”

Gue penasaran dengan serial ini sejak tahun lalu. Sebagai penggemar kisah fantasi, cerita adaptasi dari novel yang popularitasnya meroket tajam ini tentu nggak bisa gue lewatkan gitu aja. Awalnya gue mau baca novelnya dulu, tapi teman menyarankan untuk nonton serialnya saja terlebih dahulu. Jadi, review ini untuk serialnya ya, bukan novelnya.

Judul Game of Thrones sendiri diambil dari judul buku pertama dari seri A Song of Ice and Fire (ASOIAF), A Game of Thrones. ASOIAF terdiri dari tujuh buku yang belum selesai ditulis oleh George R.R. Martin. A Game of Thrones terbit pada tahun 1996, pada tahun 2011 lalu terbit A Dance with Dragon yang merupakan bagian kelima dari ASOIAF.

Buku-buku ASOIAF banyak di antaranya yang masuk dalam nominasi Hugo Awards. Bahkan penjualannya mencapai lebih dari 15 juta kopi di seluruh dunia. Kisah Game of Thrones ini termasuk dalam medieval drama fantasi.

Okelah… segitu aja info tentang bukunya. Nanti kalau sudah baca bukunya gue review lebih banyak.

Iron Throne

Seri Game of Thrones ditayangkan oleh HBO, sekarang sudah mencapai season 3. Musim tayang pertama pada tahun 2011 dan dilajutkan musim tayang kedua pada tahun 2012. Setiap musim terdiri dari sepuluh episode berdurasi sekitar 60 menit. Gue cuma ngereview dua season karena dua season itu yang sudah lengkap, sementara yang ketiga (waktu ini ditulis) baru sampai episode 5.

Kisahnya sendiri tentang perpolitikan yang menyangkut tahta di sebuah kerajaan di Westeros (nama benua fiktif di ASOIAF), Iron throne of Seven Kingdoms. Perebutan tahta ini mencuat setelah kematian Jon Arryn, hand of the king. Raja yang bertahta waktu itu, Robert Baratheon (Mark Addy) akhinya meminta Eddard ‘Ned’ Stark (Sean Bean) untuk menempati posisi tersebut. Ned Stark adalah pemimpin di sebuah kawasan utara Westeros yang bernama Winterfell, gelarnya Lord of Winterfell.

Ned Stark beristrikan Catelyn Tully (Michelle Fairley) dan memiliki lima anak, Robb (Richard Madden), Sansa (Sophie Turner), Arya (Maisie Williams), Bran (Isaac Hempstead-Wright), dan Rickon. Keluarga Stark ini juga punya anak angkat, Jon Snow (Kit Harrington), dan tawanan yang mereka urus kayak anak sendiri, Theon Greyjoy (Alfie Allen). Robert datang ke Winterfell bersama istrinya, Cersei Lannister (Lena Haydey), gelarnya Queen Regent. Juga pemimpin Kingsguard, Jaime Lannister (Nikolaj Coster-Waldau) yang merupakan saudara kembar dari Cersei. Ikut juga dalam rombongan Tyrion Lannister (Peter Dinklage), adik dari Jaime dan Cersei, yang disebut kurcaci, serta Joffrey Baratheon (Jack Gleeson) yang merupakan anak dari Robert dan Cersei.

Ned sempat nggak mau, terlebih setelah ada insiden Bran jatuh dari menara. Catelyn curiga kalau Bran bukan jatuh karena tidak sengaja, melainkan ada orang yang sengaja mencelakan Bran. Akan tetapi, akhirnya Ned tetap berangkat ke King’s Landing, ibukota Seven Kingdoms. Ikut juga Arya dan Sansa. Sansa ini direncakan untuk menikah dengan Joffrey, agar keluarga Baratheon dan Stark bisa menjadi satu famili.

Bersamaan dengan Ned berangkat ke King’s Landing. Ned melepas Jon Snow untuk berangkat ke The Wall, ikut juga bersama Jon Snow yaitu Tyrion Lannister. Di The Wall, Jon akan menjadi bagian dari Night’s Watch. Tugas Night’s Watch adalah menjaga perbatasan di daerah utara Westeros, tempat salju nggak henti-hentinya turun.

Di King’s Landing, setelah menjadi Hand of the King, Ned diterima oleh small council, yang terdiri atas Master of Coin, Lord Petyr Baelish/Littlefinger (Aidan Gillen); Master of Whisperer, Varys (Conleth Hill); dan Lord Pychelle.

Di tempat lain, tepatnya di seberan Narrow Sea, ada Viserys Targaryen (Harry Lloyd) dan adiknya Daenerys Targaryen (Emilia Clarke) yang merupakan keturunan dari ‘Mad King’ yang digulingkan oleh Robert Baratheon, dkk. Mereka berdua berusahan untuk kembali ke King’s Landing untuk merebut tahta yang seharusnya milik mereka. Viserys menikahkan Daenerys dengan Khal Drogo (Jason Momoa), pemimpin suku Dothraki, dalam rangka mencari bala bantuan untuk menyerang King’s Landing. Daenerys disertai Ser Jorah Mormont (Iain Glen) yang kemudian jadi penasihatnya.

Kehadiran Ned Stark di King’s Landing mengusik beberapa orang. Terlebih dengan Ned Stark yang berusaha tegas dan memimpin dengan adil. Ned sempat berselisih dengan Robert karena mengetahui kenyataan bahwa Jaime-lah yang mencelakakan anaknya, Bran. Sementara itu, Catelyn Tully, menawan Tyrion yang baru pulang dari The Wall, sebagai balasan karena keluarga Lannister sudah membuat anggota keluarga Stark celaka.

Namun Robert tidak membiarkan Ned mengambil sikap sendiri. Pada saat, Ned akan menemui Catelyn di rumah bordil milik Littlefinger, Ned diserang oleh Jaime. Robert mengembalikan lagi jabatan Hand of The King ke Ned, sementara Robert pergi berburu. Malang tak dapat ditolak, Robert yang berburu sambil mabuk diserang oleh hewan buruannya. Tak lama kemudian, Robert pun meninggal dunia.

Cersei Lannister langsung memproklamirkan, Joffrey Baratheon sebagai raja yang baru. Ned yang mengetahui kenyataan bahwa Joffrey Baratheon sebenarnya bukan anak Robert, tidak menyetujuinya. Karena itu, Ned malah dituduh sebagai pengkhianat. Ned dihukum pancung di depan Sansa, anaknya. Sementara itu, Arya melarikan diri dan ikut dalam rombongan… hmm lupa gue namanya, dia yang suka ngerekrut orang-orang untuk dibawa ke The Wall. Di rombongan itu, Arya berteman dengan Gendry, pengerajin logam yang juga anak haram (bastard son) dari Robert Baratheon.

Di utara, Jon Snow dilatih untuk menjadi Night’s Watch. Di The Wall terdengar rumor tentang White Walker (semacam zombie) yang kembali meneror. Jon berteman dengan Samwell Tarly yang dikirim ayahnya ke sana. Jon ingin menjadi Ranger, tapi meski memiliki kemampuan rata-rata Jon malah dijadikan steward yang khusus melayani Lord Commander Jeor Mormont.

Robb Stark berusaha menghimpun kekuatan untuk membebaskan ayahnya. Akan tetapi, setelah mendengar berita kematian Ned, Robb akhirnya mengganti tujuan perangnya untuk membalas dendam kepada Joffrey dan membebaskan kedua adiknya. Winterfell ditinggalkan Rob kepada Bran yang jadi pemimpin sementara di sana.

Daenerys Targaryen mendapatkan hadiah pernikahan tiga telur naga. Vicerys terus mendesak Daenerys agar mau membujuk Drogo untuk menyerang King’s Landing. Akan tetapi, hubungan Drogo dan Daenerys yang tadinya nggak bagus, akhirnya malah jadi saling cinta. Daenerys pun mengandung anak Drogo. Drogo yang tahun Vicerys sering kasar sama Daenerys dan ngebet untuk jadi raja, akhirnya membunuh Vicerys (ini salah satu adegan pembunuhan paling bagus di seluruh episode GoT).

Akan tetapi karena sebuah insiden Daenerys kehilangan Drogo dan anak dalam kandungannya sekaligus. Setelah itu, seluruh klan Dothraki pun meninggalkan Daenerys bersama beberapa pengikut setianya karena tidak sudi dipimpin wanita. Saat membakar jenazah Drogo, Daenerys jusru nggak kebakar dan malah ketiga telur naga itu pecah.

Akhir season satu…

foto promo dari EW. (Kiri ke kanan: Jon Snow, Daenerys, Cersei, Jaime, dan Tyrion)

Di season dua, cerita masih berlanjut sesuai dengan plot utama.

Joffrey pun berhasil jadi raja. Egonya bahkan bikin ibunya nggak bisa berkutik. Kemudian, Twyin Lannister, ayah Cersei, Jaime, dan Tyrion diangkat menjadi Hand of the King, namun karena sedang berada di medan perang, Twyin menyuruh Tyrion untuk menggantikannya sementara di King’s Landing.

Pada perang tersebut, ternyata pasukan Robb Stark cukup mengagetkan pasukan Twyin. Robb juga bisa menangkap Jaime Lannister dan dijadikan tawanan. Kemudian, pasukan tersebut menobatkan Robb sebagai King in The North. Untuk memperbesar pasukan dan bagian dari strategi, Robb mengirim Theon ke Pyre menemui Lord Greyjoy dan Catelyn ke Storm’s End menemui Renly Baratheon, adik bungsu Robert dan Stannis. Stannis berada di Dragonstone, menyiapkan serangkan ke King’s Landing dibantu dengan seorang pendeta cewek, Melisandre, untuk mengklaim tahtanya dari Joffrey.

Renly menolak membantu Stark, namun malam itu Renly dibunuh oleh sihir jahat yang dikirim Melisandre. Catelyn mengajak Brienne, kingsguard Renly, untuk melarikan diri. Di tengah perjalanan, Brienne bersumpah untuk mengabdi kepada Catelyn. Sesampainya, di perkemahan Stark, Catelyn ditemui oleh Littlefinger yang membawa jenazah Ned. Littlefinger datang atas perintah Tyrion untuk membujuk Catelyn melepaskan Jaime. Catelyn meminta Brienne untuk mengawal Jaime sampai ke King’s Landing untuk ditukar dengan Sansa dan Arya.

Robb yang mengetahui hal tersebut pun marah kepada Catelyn dan sempat menjadikan Catelyn tawanan. Di perang ini juga, Robb akhirnya menemukan cintanya, Talisa, dan menikahinya.

Stannis Baratheon pun menyerang ke King’s Landing, pasukannya sempat berantakan karena Tyrion menggunakan wildfire untuk meledakkan kapal-kapal yang membawa pasukan Stannis. Namun, ternyata tidak semudah itu Stannis dipukul mundur. Di saat terdesak, Cersei meminta Joffrey untuk meninggalkan lokasi peperangan dan bersembunyi. Joffrey sempat ragu, tapi akhirnya mematuhi permintaan ibunya. Pasukan King’s Landing pun hampir bubar, tapi Tyrion akhirnya mengambil alih komando. Akan tetapi, itu tidak cukup untuk menahan pasukan Stannis. Untungnya Twyin Lannister bersama pasukannya ditambah bantuan dari House of Tyrell akhirnya bisa memukul mundur pasukan Stannis.

Dari Pyre, Theon Greyjoy pun membawa pasukan ke Winterfell, ia menduduki Winterfell. Membuat Bran dan Rickon, dibantu Hodor dan Osha melarikan diri dari Winterfell menuju The Wall untuk meminta bantuan Jon.

Jon pada saat itu bersama rombongan Night’s Watch berpatroli ke luar The Wall. Namun Jon terpisah dari rombongan dan ditawan oleh Wildlings. Dengan bantuan Yggrite, Jon berhasil selamat dan tidak dibunuh, serta menjadi bagian dari Wildlings. Night’s Watch yang tersisa kembali pulang ke The Wall, tapi insiden di rumah duh bapak-bapak yang nikahin semua anak perempuannya itu yang gue lupa namanya, bikin banyak dari Night’s Watch terbunuh, termasuk Lord Commander Jeor Mormont.

Arya yang dalam perjalanan ke The Wall, rombongannya diserang oleh pasukan Lannister. Pasukan itu mencari Gendry, tapi malah membunuh anak lain. Akhirnya, Arya bersama Gendry juga anak-anak lainnya dibawa ke Harrenhall dan ditawan. Dengan bantuan Jaqen H’gar, Arya, Gendry dan Hot Pie berhasil melarikan diri dari Harrenhall. Jaqen menyuruh Arya pergi ke Braavosi, memberi sebuah koin dan sebuah frasa: “Valar Morghulis”.

Di seberang, Daenerys berhasil mencapai Qarth. Anak-anak naganya sempat dicuri, akan tetapi bisa didapatkannya kembali dan termasuk mendapatkan harta untuk membeli kapal.

Akhir season dua… (kayaknya ada adegan dari season tiga yang nggak sengaja kuceritain).

Karakter favoritku selain Daenerys dan Arya, Jon Snow bersama Ghost, direwolf-nya.

Itu spoiler?! Yes, oh, no. Inget ya, bukunya sudah terbit belasan tahun lalu. Gue cerita berdasarkan plot dari serialnya. Kabarnya sih ada hal-hal dari novel yang nggak keangkat di serialnya, terutama bagian tokoh-tokoh gitu sih. Cuma gue tetep percaya kualitas serialnya karena GRRM juga ikut jadi executive produser dan penulis naskah.

Dulu sebelum nonton, ada selentingan gue dengar kalau cerita GoT membingungkan, pertama karena konfliknya berat dan berlapis, kedua karena pakai multiPOV. Ya, itu bener sih. Konfliknya memang banyaaaaaak dan berlapis-lapis. Pun baik di buku atau di serial diceritakan dengan multiPOV, dari beberapa sudut pandang karakter utama.

Ada juga yang membandingkan dengan karya Tolkien, duh. Bedaaa banget. Serius. Kalau suka dongeng, baca/nontonlah mengenai Middle-earth, kalau suka cerita fantasi dengan konflik realistis ya sok atuh baca/nonton A Songs of Ice and Fire ini. Bahkan dari atmosfir ceritanya juga beda banget kok, jadi nggak usahlah dibanding-bandingin. Masing-masing punya kelebihan sendiri-sendiri dan tadi… pangsa pasar yang beda.

Di atas tadi, aku udah cerita panjang lebar tentang plotnya. Plot tersebut dimainkan oleh karakter-karakter yang oke punya. Ceritanya nggak melulu tentang perang, tapi juga mengenai keluarga. Keluarga Stark yang (awalnya) harmonis, atau keluarga Lannister yang ambisius, punya segalanya tapi nggak menyenangkan. Beberapa part tentang keluarga ini bikin aku nangis lho.

Kalau menurutku beberapa karakter utamanya itu: Catelyn, Cersei, Daenerys, Tyrion, Jon, Jaime, Robb, Bran, Sansa, dan Arya. Dari sudut pandang merekalah cerita ini banyak dituturkan. Cersei, di ata memang nggak banyak ceritanya, tapi sebenarnya peran dia besar banget ke keseluruhan cerita.

Selain karakter yang oke, dialog-dialog dalam serial ini juga bagus. Ada beberapa part yang bikin menyimak banget. Favorit gue terutama bagian-bagian si Tyrion. Omongan dia nggak hitam putih, nggak manipulatif, tapi implisit gitu deh. Suka gue. haha…

Ini adalah serial yang digarap dengan serius dari latarnya aja udah kelihatan. Jadi, pengambilan gambar dibagi di beberapa tempat. Bagian Jon Snow yang bersalju-salju kebanyakan diambil di Eropa utara, sementara latar Daenerys yang kering dan gurun diambil salah satunya di Maroko.

Untuk kostum pun, oke punya juga. Untuk bangsawan-bangsawan, kostum ceweknya sih sopan-sopan. Yang beleleran ke mana-mana itu kostum pelacur (iya, banyak pelacur di serial ini). Favorit gue sih kostum Night’s Watch, pokoknya mantel fur apapun yang dipakai Jon Snow. Haha…

Adegan perang, serta CGI untuk naga yang dipakai di serial ini juga memuaskan. Naganya lucu-lucu!

Daenerys Targaryen

Paling yang gue sayangkan dari serial ini cuma banyaknya adegan seksual ya. Di bukunya sih kabarnya kental juga, tapi gue pribadi cukup terganggu dengan itu. Maksud gue nggak usahlah ada adegan gituan juga nggak mengurangi esensi ceritanya.

Mungkin bagi yang baru mau nonton juga, patut diperhatikan ya adegan-adegan kekerasan di serial ini yang cenderung eksplisit. Setiap episode rasanya selalu ada darah yang mengalir keluar. Tubuh tersayat pedang itu hal paling wajar di serial ini. Kepala atau bagian tubuh terpotong pun biasa saja dan ditampilkan apa adanya. Usus ditarik keluar, dibakar hidup-hidup, ditusuk matanya, ditusuk kepalanya, ya itu semua ada. Jadi ya, nggak usahlah nonton sambil makan… agak gimana gitu rasanya.

Terlepas dari semua kelebihan dan kekurangan di serial ini, yang paling patut aku acungi jempol adalah bagaimana setiap karakter digambarkan punya motivasi yang jelas. Asal muasal si karakter memilih jadi seperti itu, ada penyebabnya. Jadi, bahkan gue diajak mikir ketika harus simpati atau benci ke salah satu karakter. Dan semua karakter rasanya pernah membunuh. Namun tiap karakter punya keyakinan dan bertarung untuk apa yang mereka percayai.

Akhir kata di review panjang ini, Game of Thrones akan gue rekomendasikan untuk yang suka-suka fantasi. Kalau nggak suka kekerasan mending mikir dua kali untuk nontonnya. Atau kalau nggak suka konflik yang berat juga nggak usah repot-repot nonton ini. Haha…. Memang cuma perebutan kekuasaan, tapi yang menyangkut hal itu nggak pernah sederhana kan. Beberapa orang yang punya kepentingan, seluruh negeri bisa dilibatkan. Seperti kata Cersei Lannister kepada Ned Stark, “When you play the game of thrones. You win, or you die.”

Bogor, Mei 2013

Tambahan:

Simbol dan dan semboyan setiap Family/House. (sumber)

Kira-kira setiap karakter jalinannya kayak gini nih (banyak memang):

§ 13 Responses to Review: Game of Thrones (season 1 dan 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Review: Game of Thrones (season 1 dan 2) at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: