Familier

13 Mei 2013 § Tinggalkan komentar

Kota ini masih begitu familier.

Antares menjejakkan kakinya ke trotoar. Dari mana kabar kalau dia berada di kota ini sampai ke telinga perempuan itu, Antares tak tahu. Tangannya tersimpan di saku celana jinsnya. Suara kendaraan yang melintasi jalan berbaur dengan lantunan musik dari iPod-nya.

Beberapa menit Antares biarkan berlalu di trotoar itu. Pandangannya beranjak dari jalanan yang tak begitu ramai ke arah depan kafe.

Datang ya, hari ini hari ulang tahunmu.

Pesan itu datang pagi-pagi sekali, tercantum juga waktu untuk bertemu. Sekarang sudah dua jam berlalu dari yang dijanjikan. Antares masih ragu. Padahal pesan itu tak pernah memaksa, hanya meminta penuh harapan.

Antares sudah mengucapkan selamat tinggal.

Kini dia datang lagi untuk apa? Untuk datang dan menyatakan bahwa masa berlaku ‘selamat tinggal’ yang dulu sudah selesai?

Antares menyingkir ketika sebuah motor hendak masuk ke halaman kafe tersebut. Sekaligus menyadarkannya jika dia sudah berdiri lama di situ.

Sebuah pertemuan lagi tak akan berarti. Antares meyakinkan diri.

Kakinya melangkah pelan. Antares tidak bisa melihat ke arah dalam kafe tersebut karena bagian depannya tertutup air mengalir. Akan tetapi, dari dalam mungkin perempuan itu bisa melihatnya. Maka, tidak baik untuk mundur.

Ruangan kafe itu tidak ramai. Antares langsung mengenal sosok yang duduk di sofa. Rambut hitam pendeknya rasanya tak pernah berubah. Perempuan itu menoleh ketika mendengar pintu terbuka. Kini mereka saling menatap satu sama lain.

Tangan Antares mengepal di dalam saku jinsnya. Bibirnya bergerak membentuk senyuman sebelum Antares meneruskan lagi langkahnya.

“Cokelatmu sudah dingin,” sapa perempuan itu saat Antares mendudukkan diri di sofa di hadapannya.

Sofa yang ditempati perempuan itu masih luas, tetapi tempat itu bukan untuknya lagi.

“Aku akan pesankan lagi,” katanya dengan halus.

“Tidak usah, Aira,” tolak Antares. “Aku tidak akan lama.”

Perempuan itu menunduk, menghindari tatapan Antares.

“Maaf membuatmu menunggu lama.”

Wajah perempuan itu kembali terarah kepada Antares. “Nggak apa-apa. Aku jadi bisa namatin buku barumu.”

Perempuan itu meraih cangkirnya dari atas meja, meminumnya sedikit. Di samping cangkir itu terletak novel miliknya, Perfume.

“Terima kasih sudah membacanya.”

Senyum terulas di bibir perempuan itu. “Aku kan sudah janji kepadamu untuk selalu membaca tulisan-tulisanmu. Nggak keberatan kan kalau aku minta tanda tanganmu?” ujar perempuan itu, menarik sebuah pena dari dalam tasnya.

Antares meraih pena dan buku itu. Menyibak kovernya, terdiam lagi sebelum menggoreskan pena di tangannya. Pesan. Pesan apa yang harus ditulisnya untuk perempuan itu.

“Apa saja. Kamu kan kenal aku banget,” kata perempuan itu.

Mengenalnya? Antares mencoba mengingat-ingat lagi. Banyak hal yang rasanya begitu spesial sampai-sampai ketika baru saja meniatkan mengenang, hal-hal itu menyeruak duluan. Mereka berdua penyuka cokelat dan semua olahannya. Mereka bisa duduk berjam-jam tanpa bicara–Antares duduk menulis dan perempuan itu membaca. Kenyamanan apa lagi yang Antares harapkan kalau tanpa bicara pun bisa saling mengerti. Tak ada. Antares mengira mereka berdua bahkan bisa terus bersama tanpa mengikat, tanpa mengharap apa-apa. Hanya saling mencintai saja.

Melihat Antares hanya tertegun, perempuan itu kembali angkat bicara. “Apa yang membuatmu kembali ke Jogja? Buku baru ya?”

Antares mengangguk pelan. Bertahun-tahun dia meninggalkan kota ini sejak memutuskan pergi dari rumah. Orangtuanya sama sekali tidak menyetujui pilihan hidup Antares yang ingin selalu hidup bebas.

“Aku iri padamu. Pergi ke mana-mana tanpa beban. Seperti burung ya, burung yang terbang bebas. Tidak takut tersesat. Tidak takut kehilangan jalan pulang.”

“Kamu memutuskan untuk tinggal,” komentar Antares, tatapannya masih terarah pada buku di tangannya.

“Ya, aku,” jawabnya pelan. “Oh ya, selamat ulang tahun. Jangan-jangan kamu sendiri lupa hari ulang tahunmu,” perempuan itu tertawa kecil. Dia menyingkirkan tas tangannya yang ada di atas sebuah buku warna cokelat besar. “Ingat ini?”

Antares tidak menjawab. Tentu saja dia ingat sekali buku tersebut. Sudah berkali-kali Antares melihat wujudnya, jauh sebelum ucapan selamat tinggal itu muncul antara mereka. Perempuan itu menyuruh Antares duduk di sebelahnya. Antares, tanpa menolak, mengiyakan permintaan perempuan itu.

Jari-jari ramping perempuan itu membuka sampul depan buku itu. Antares melihat dirinya sendiri dengan buku pertamanya. Halaman-halaman selanjutnya berisi potongan-potongan koran dan majalah mengenai ulasan serta berita terkait Antares.

“Kamu nggak berubah ya? Knit cap yang kamu pakai hari ini sama dengan fotomu di halaman depan,” ujar perempuan itu.

Dia memindahkan buku itu ke pangkuan Antares. Hendak mengambil tasnya yang berada di sisi antares tapi kesulitan. Antares menyerahkan tas itu tanpa sepatah kata.

“Terima kasih,” katanya terkekeh. Dari dalam tas, perempuan itu kembali mengeluarkan sebuah barang, kali ini sebuah kotak berwarna hitam. “Hadiahmu. Selamat ulang tahun.”

Antares tidak bisa berkelit ketika perempuan itu menarik tangannya dan menggenggamnya. Antares membiarkan tangannya berada di sana. Membiarkan kenangan membanjiri pikirannya. Kemudian, bersamaan dengan berkas senyum simpul muncul di wajahnya, Antares melepaskan tangannya.

“Bukalah.”

Antares mengikuti perintah perempuan itu. Di dalamnya, tertutup kertas putih, ada sebuah benda berwarna merah marun. Sebuah knit cap.

“Nggak keberatan kan kalau kamu memakainya?”

Lagi-lagi Antares tak bisa menolaknya. Seharusnya dia tidak usah datang ke sini. Satu pertemuan bisa mengubah segalanya. Satu pertemuan bisa membuat usaha yang dilakukan Antares selama ini untuk melupakan perempuan itu sia-sia.

“Aku harus pergi sekarang.”

Perempuan itu terlihat agak kaget. Akan tetapi, dia hanya mengangguk.

“Bawa juga buku ini.” Perempuan itu memandang Antares. “Cari orang lain yang akan melanjutkannya, untukmu.”

“Aku tidak bisa membawanya.”

“Bawa saja. Setelah itu mau kau simpan atau kau buang, itu hakmu,” ucap perempuan itu tercekat. “Aku tidak bisa melanjutkannya, Antares.”

Perempuan itu memalingkan wajah. Antares menarik napas panjang, memandang perempuan itu mengelus perutnya yang membesar.

“Sejak kamu datang tadi, dia terus-terusan menendang. Dia kelihatannya menyukaimu,” ujar perempuan itu.

Antares tersenyum. “Kamu bahagia?”

Dulu perempuan itu pernah mengatakan bahwa dia bahagia bersama Antares. Bahagia meski hubungan mereka naik turun tanpa kejelasan. Bahwa mereka bahagia satu sama lain hanya dengan tahu jika mereka punya perasaan yang sama.

Perempuan itu mengiyakan dengan senyuman.

Antares menarik novel Perfume yang ada di atas meja. Tangannya bergerak menuliskan kalimat yang baru saja ditemukannya.

Selamat atas kehamilanmu, Aira. Selamat berbahagia.

Perempuan itu masih begitu familier bagi Antares, seperti halnya kota ini, Jogjakarta. Namun tak ada yang akan selalu sama.

 

**

Knit cap-mu baru,” komentar perempuan itu, duduk di samping Antares.

Di bawah langit penuh gemintang malam itu, Antares duduk bertelanjang kaki. Pasir pantai menyentuh telapak kakinya. Sama dingin dengan angin yang berembus dari arah pantai.

Pikiran Antares melayang kepada Aira, perempuan yang memberinya knit cap itu. Sejak pulang dari pertemuannya tadi, Antares menghabiskan waktunya di pantai, meneruskan naskahnya. Sekarang laptopnya menyala redup di atas buku kliping pemberian Aira.

Dulu di bawah malam serupa, Antares memeluk Aira semalaman. Dulu.

Sekarang, bukan Aira di sebelahnya. Perempuan ini tidak familier untuknya. Di bawah gemintang, Antares menciumnya. Antares berharap bisa berhenti mencintai Aira.

Jogja, Mei 2013

makasih iif udah minjemin antares buat gueee! :3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Familier at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: