Pria yang matanya berkaca-kaca.

15 Mei 2013 § Tinggalkan komentar

Pria yang matanya berkaca-kaca.

—–

Perjalanan rutin ini berjalan tak biasanya. Aku tertinggal pesawatku. Maka, sepanjang malam itu aku harus menghabiskannya di kereta antar kota.

Kursi di sisi jendela diisi pria muda. Jaket kulit hitam membungkus tubuhnya. Syal abu-abu melingkari lehernya. Sebuah knit cap menutupi kepalanya. Kereta malam ini ternyata lebih dingin dari yang kukira.

Saat aku duduk, dia mulai membuka sebuah novel. Sekilas aku sempat membaca judulnya, ‘A Storm of Swords’. Judul itu tidak familier untukku. Tentu saja karena jenis bacaan favoritku adalah kisah-kisah romansa, seperti novel ‘Black Leather Jacket’ yang baru saja kukeluarkan dari tas.

Baru beberapa halaman kubaca, sebuah benda terjatuh dari tangannya. Air mineral itu menggelinding sampai kakiku. Kuletakkan novel di pangkuan dan mengambil botol itu. Senyum menghiasi wajahku saat aku menyerahkannya kepada pria muda itu.

“Terima kasih.” Suara bariton lembut itu meluncur darinya.

Sejak awal, baru itu kesempatanku untuk menatap wajahnya secara langsung. Di bawah terang lampu kereta, kulitnya terlihat pucat. Nyaris sewarna dengan bibirnya yang melengkungkan senyum. Akan tetapi, semua itu tidak semenarik matanya. Bola mata yang berwarna hitam itu berkaca-kaca.

Kereta mulai bergerak. Dia kembali menekuni novelnya. Sementara aku berusaha mengenyahkan bayangan matanya yang berkaca-kaca. Aku tahu itu bukan urusanku, tapi ada hal yang menimpa pria itu. Aku tidak ingin tahu, tetapi benakku tak henti menerka-nerka.

Sekarang, alih-alih berkonsentrasi dengan novel di depanku. Aku malah memikirkan cara terbaik dan tersopan untuk menyapanya. Lewat kaca jendela yang memantulkan bayangannya, aku curi-curi memandangnya. Sama sepertiku, buku di pangkuannya terbuka, namun tatapannya mengarah ke luar. Pada kegelapan yang berderet, bersilang-silang dengan pijaran cahaya.

Pemeriksaan tiket kereta menjadi satu lagi momen ketika dia bangun dari lamunannya. Aku berusaha melirik lagi. Ingin memastikan mata yang semestinya bercahaya itu. Mata itu tetap sama, masih berkaca-kaca. Namun aku masih belum menemukan kalimat terbaik untuk mengajaknya bercakap-cakap.

Kali kedua kesempatan itu datang, petugas kereta membagikan selimut-selimut. Aku langsung mengambil dua dari tangan petugas, biar kuserahkan sendiri kepadanya. Sayangnya, aku tidak seberuntung itu. Pria muda itu sudah terlelap, membuat tanganku yang terjulur kepadanya mematung.

Sekarang, aku tidak perlu lagi sembunyi-sembunyi mengamatinya. Tangannya bersedekap. Jari-jarinya yang ramping tampak sama pucatnya. Kuberanikan diri menyentuh lengannya perlahan, membangunkannya.  Kutaruh selimut biru tua dalam plastik bening itu di pangkuannya. Saat itulah aku tak sengaja menyentuh tangannya.

Udara yang ada dalam gerbong itu masih sedingin tadi. Sekali lagi aku menempelkan ujung-ujung jariku ke permukaan kulitnya. Hawa panas merambati diriku. Dia demam. Aku menarik selimut itu lagi dari pangkuannya dan membukanya. Tanpa seizinnya, aku langsung menyelimuti pria muda itu. Kupikir dia akan membutuhkannya. Dia bahkan tidak terbangun saat aku melakukannya.

Setelah itu, aku menyelimuti tubuhku sendiri dan memandanginya, hingga aku sendiri jatuh tertidur.

Aku terbangun sewaktu kereta mulai bergerak. Mataku menatap papan nama Stasiun Jatinegara. Kursi di sisiku sudah kosong. Padahal aku belum sempat mengenalnya dan mencari tahu mengapa matanya berkaca-kaca.

Aku menggeser tubuhku ke kursinya. Lampu-lampu lebih meriah sekarang. Jakarta. Saat mataku terarah ke jendela, pandanganku mengenai seekor burung kertas di sisi jendela. Tanganku bergerak mengambilnya, menaruhnya di telapak tanganku.

Burung kertas kecil ini dari sobekan tiket kereta api.

Petugas kereta mengumumkan kalau kereta yang kutumpangi akan segera memasuki Stasiun Gambir. Kukembalikan burung kertas itu lagi ke tempatnya. Kereta sudah berhenti dan aku bangkit dari kursiku. Akan tetapi, rasanya berat untuk meninggalkan burung kertas itu. Melawan arus penumpang yang keluar, aku berusaha masuk kembali.

Senyumku mengembang saat burung kecil itu aman dalam genggamanku. Di peron, di antara bangku-bangku yang disinari cahaya neon, aku segera duduk kembali. Mataku mengitari ornamen stasiun ini yang berwarna hijau dan terasa begitu sepi sepagi ini. Pelan-pelan kubuka lipatan burung kertas itu.

Mungkin dia memang menginginkan aku untuk menemukannya. Potongan tiket itu memuat sebuah nama.

Antares Vishnu Abhasvara.

Jogja-Bogor, Mei 2013

… jangan tanya kapan ditulis sambungannya. bersambung aja gitu ya. *ditimpuk*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Pria yang matanya berkaca-kaca. at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: