Kehilangan

20 Mei 2013 § Tinggalkan komentar

Cahaya matahari menembus kertas itu. Tulisan tegak bersambung yang tertera di sana terasa sulit dibaca. Aku mengangkatnya lebih tinggi. Satu-satunya yang dia tinggalkan adalah kata-kata pada lembar itu, yang belum juga sempat kubaca. 

Wajahnya masih terbayang jelas di pikiranku. Senyumnya. Matanya ketika menatapku. Tulang pipinya yang kusukai.

Aku menggenggam erat buket bunga di tanganku. Aku tak peduli apakah dia akan suka aku datang untuknya atau tidak. Aku hanya merindukannya, sangat merindukannya.

Dia bilang dia mencintaiku, tetapi tetap pergi meninggalkanku.

Aku menggigit bibir. Tak bisa berkata-kata, karena seluruh kalimat-kalimat mengambang dalam kepalaku. Mengenai kenangan-kenangan yang kupelihara. Ingatan-ingatan tentang dia yang mendadak bermunculan. Semua yang pernah kuinginkan, dia.

Kali pertama kami bertemu, di pantai itu, dia menggenggam tanganku. Pandangannya mengarah kepadaku. Bibir merah muda pucatnya melengkung, membagi senyum yang belum pernah kulihat. Menciptakan paduan menarik dengan tulang pipinya yang tinggi. Sesederhana itu saja aku jatuh cinta kepadanya.

Kami menjalani hari-hari menyenangkan hingga memutuskan untuk selamanya bersama. Bersama, meski kadang aku menginginkan yang dia tidak. Dia menginginkan apa yang aku tidak harapkan.

Memoriku melayang pada satu momen.

Cahaya matahari bersinar terik, membasuh wajahnya di balik jendela rumah kami. Aku berdiri di depannya, begitu dekat. Tanganku bermain di atas permukaan kulit dadanya. Kami memandang ke arah luar, pada halaman berumput hijau tempat segerombolan anak kecil bermain bola.

Aku bilang, kapan giliran kita. Dia bilang, tidak menginginkannya.

Dia menarik tubuhku mendekat padanya. Matanya yang abu-abu seakan menelanjangiku. Pandangannya, salah satu hal yang membuatku jatuh cinta. Tangannya bergerak membelai pelipis, hingga ke daguku. Sentuhan jari-jemarinya yang ramping tak pernah gagal memesonaku. Aku membalasnya, menangkupkan kedua tanganku di sisi wajahnya. Tulang pipinya yang tinggi berlekuk di antara jemariku. Satu ciri khas yang begitu kusukai darinya. Tahu-tahu, dia sudah menempatkan bibirnya di bibirku.

Dia, adalah semua yang orang lain hanya bisa dambakan. Aku mendengar napasnya berdesah di telingaku, saat tangannya bergerak di atas tubuhku. Kesempatan ini, adalah semua yang perempuan lain di luar sana bisa impikan. Tanganku melingkari lehernya, sementara kini dia yang ganti menghimpitku ke dinding.

Sinar matahari menyilaukan mataku. Cahaya jatuh di wajahnya, memberi efek seakan-akan dia bagai malaikat jatuh di pelukanku. Rambut hitamnya berjatuhan di atas dahinya, bergoyang seirama dengan gerakan tubuhnya.

Aku mencintainya. Meski tidak bisa mendapatkan satu hal yang paling kuinginkan dalam hidupku.

Demi cinta, aku menerima itu semua. Selalu ada yang dikorbankan untuk mendapatkan hal yang lain. Aku mengikuti semua inginnya, demi selamanya bersamanya.

Kami terus bersama. Hingga pada suatu pagi aku menemukan kertas itu di antara kertas-kertas kerjanya. Sinar matahari menembus jendela ruang kerjanya sampai kepadaku. Aku melihat tulisannya di atas kertas itu. Kuangkat tinggi-tinggi pesan terakhir darinya itu. Aku tahu dia pergi.

Kau tahu apa yang paling kuinginkan dalam hidup ini: kau. 

Kau tahu apa yang paling tidak kuinginkan dalam hidup ini: kehilangan kau.

Aku pergi karena aku tidak ingin kehilanganmu. Aku pergi ketika aku masih sadar dan sanggup untuk lepas darimu. Aku terlalu mencintaimu, hingga tak ingin kau kehilangan aku. Maka, aku pergi tanpa pernah berhenti mencintaimu.

Dan akan selalu mencintaimu.

Beberapa bulan kemudian setelah aku menemukan kertas itu, hari ini, aku berdiri dengan sebuket lily putih. Batu hitam mengilap itu berkilau di bawah sinar matahari, memantulkan deretan namanya.

 

Bogor, Mei 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Kehilangan at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: