Review: Star Trek Into Darkness (novel)

21 Juni 2013 § 4 Komentar

Di bulan yang sama dengan perilisan filmnya, versi novelisasi dari Star Trek Into Darkness juga diluncurkan. Novelisasi ini ditulis oleh Alan Dean Foster berdasarkan screenplay STID yang dibuat oleh Roberto Orci, Alex Kurtzman, dan Damon Lindelof. Novel setebal 312 halaman ini diterbitkan oleh Pocket Books, salah satu divisi dari Simon & Schuster. Ngomong-ngomong ini novel Star Trek pertama yang gue punya.

Gue nggak akan ngulang lagi cerita STID gimana, karena sebelumnya udah panjang lebar gue ceritain di review film STID. Secara keseluruhan memang ceritanya sama persis (ya jelaslah, novel itu kan dari film juga asalnya). Jadi, gue tuturkan tentang apa yang beda dari novel ini aja. Awas ada spoiler ya.

Ketertarikan gue sama novel ini pertama tentang karena kovernya (gue cinta mati sama John Harrison!), dan tentunya karena ada pertanyaan-pertanyaan dari film yang tertinggal buat gue.

Alur dalam novel ini serupa dengan di filmnya. Bagaimana adegan satu dengan lainnya berjalan, itu sama banget. Jadi, karena disesuaikan dengan filmnya, ada adegan pendek-pendek satu paragraf, kemudian ganti tempat/POV karakter. Kalau sudah nonton filmnya nggak akan terlalu membingungkan sih, apalagi yang udah nonton tiga kali kayak gue. Haha…

Di novel ini, ada adegan-adegan dan potongan dialog yang nggak ada di filmnya juga. Seperti penjelasan Bones tentang torpedo dan orang-orang di dalamnya secara ilmiah. Tapi, adegan mandi Khan nggak ada juga sih…

Selain itu, apa yang gue suka adalah gimana cara Alan Foster mendeskripsikan tiap karakternya. Kayak yang pernah beliau bilang di salah satu interview, kalau novelisasi ini memang character-centric banget. Kalau di film kita cuma bisa melihat ekspresi dan gerak-gerik para aktornya, di novel dideskripsiin apa yang mereka rasakan dan pikirkan. Bukan cuma itu, deksripsi setiap karakter juga bagus, meski mungkin setelah nonton filmnya nggak terlalu merhatiin juga sih, karena tampang karakter-karakternya udah terpatri di kepala.

Terus pertanyaan gue tentang apa yang dilakukan Spock ke Khan ketika mereka berantem di atas kotak sampah terbang itu… Spock bikin Khan ngerasa sakit, makanya Khan sampai teriak gitu.

Akhir ceritanya tetap sama sih, padahal gue berharap dijelasin lebih lanjut tentang apa yang terjadi kepada Khan. Siapa yang memutuskan dia ditidurkan lagi? Apakah dia diadili? Kalau memang dia penjahat dan pernah dihukum mati lalu melarikan diri, kenapa sekarang nggak dibunuh sekalian aja?

Semua pertanyaan itu nggak terjawab. Memang sih, kata Alan Dean Foster di interview beliau dengan startrek.com, beliau nulis berdasarkan filmnya aja, tanpa bisa menjelaskan lebih lebar tentang apa yang terjadi. Beliau bilang ini memperbaiki plot, pengin ada penjelasan yang terjang dan mencerahkan, tetapi ya beliau harus patuh sama script dan filmnya.

Akan tetapi, setelah gue pikir dan pikir (beneran gue mikirin film ini banyak-banyak), Khan ditidurkan lagi dalam cryotube adalah ending yang adil buat dia. Di Star Trek Into Darkness, Khan bukan yang sepenuhnya penjahat, tetapi Admiral Marcus. Khan cuma berusaha menyelamatkan krunya, meski mungkin di masa lalu dia memang penjahat besar. Khan mengakui kok kalau dia salah udah membunuh orang, tetapi itu dia lakukan akibat tekanan dari Marcus juga.

Setelah, Marcus meninggal? Apa Khan jadi kemudian jadi pihak yang jahat? Kupikir nggak juga. Khan merasa dia dikhianati duluan. Kirk nyuruh Scotty untuk menembak Khan sesampainya mereka di anjungan. Sementara, Khan nggak pernah ngejanjiin apa-apa ke mereka. Jadi, ketika dia ambil tindakan menembak Enterprise setelah mengembalikan Scotty, Kirk, dan Carol, ya sah-sah aja, untuk membalas pengkhianatan yang dibuat Kirk.

Ada dialog dia yang bagus banget tentang itu, yang nggak ada di filmnya.

Khan: “Your crew, for my crew.”

Spock: “You betrayed us. The Captain trusted you. Trusted you enough to make you an ally against the renegade Admiral Marcus.

Khan: “And if we’re going to throw around the term ‘betrayal’, I’m the one who should be outraged. I’m the one who was betrayed. Once the admiral and those around him had been dealt with, your man shot me. On the direct order of the same captain you claim made me his ally.”

(pg. 262-263)

Gue pribadi suka novelisasi ini, karena gue memang demen filmnya dan Khan. Sedikit banyak novelisasi ini memberi gue sedikit pencerahan. Gue juga suka cara nulis dari Alan Dean Foster ini. Karena ini novel adaptasi dari film, jadi bukan sesuatu yang bisa dibandingkan, lebih tepat untuk saling melengkapi sih. Kayak yang Alan Dean Foster bilang (gue kutip dari sini):

In a perfect world, would Star Trek fans see the movie and then read the book or read the book and then see the movie?

FOSTER: I think they’d go see the movie first, and I’ll tell you why? After having been doing this for 40 years I have some small insight into that, and I’m not trying to flatter myself here. I’m just telling you what people have said. Alien is a good example. People who said they read the book before the film said they were disappointed in the film, and they shouldn’t have been disappointed in the film because it’s a terrific film. Now, not everybody said that, but enough people said that and said that about other books that I’ve done, to where it’s fairly obvious that I have, in a book, much more time to develop things and unlimited budget. It’s an unfair comparison with a film. So I think it’s much better if people see this film first and then get the book later. It’s like tasting a new dessert. You taste it first, and then you go and buy the whole thing and enjoy it at your leisure. You don’t buy the whole thing and then somebody offers you a taste later. You’ll say, “I’ve already eaten the whole thing. Why do I want just a taste?”

Jadi, kalau memang suka filmnya dan suka baca novel, nggak ada salahnya untuk mengoleksi buku ini.😀

Bogor, Juni 2013

§ 4 Responses to Review: Star Trek Into Darkness (novel)

  • Ambu Dian mengatakan:

    ‘adegan mandi Khan nggak ada juga sih’

    Tiaaaaaa! Masih aja XDD

    Sayang bukunya paperback bukan hardcover (mahal, tau!) tapi akibatnya bukuku jadi gendut karena sering banget dibulak-balik. Dibaca beberapa kali, dicari kalimat-kalimat yang disukai, dan–sekarang jadi suka menulisi margin buku gegara buku Marginalia-nya Dyah Rinni, tapi masih pake pinsil sih XD–menulis marginalia-nya.

  • Adis mengatakan:

    adegan mandi itu penting, Mbu… hahaha

    aku juga sering bolak-balik bukunya… tapi bagian Khan aja. yang lain dibaca sekilas-sekilas aja. hihihi… ditulisin apa Mbu, di pinggir-pinggirnya? kalau aku biasanya kukasih post-it.😀

  • Ambu Dian mengatakan:

    Ditulisin apa? Ihihi, lahacia dong #bletags

  • Adis mengatakan:

    Reblogged this on Catatan Tia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Review: Star Trek Into Darkness (novel) at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: