Komposisi Memori

5 Juli 2013 § Tinggalkan komentar

“Dari apa memori dibuat?”

Lyanna melihatnya. Di bawah siraman cahaya matahari. Kursi yang bergoyang sendiri. Sepasang tangan bertautan. Berkilau-kilau. Kemudian berpisah.

Kedua mata Lyanna terbuka. Imaji itu berulang di benaknya. Semua tampak nyata, seakan tersusun dari sebagian mimpi dan sisanya adalah kenangan. Lyanna menghela napas panjang. Menyadari jika masih ada tiga puluh hari tersisa untuknya.

**

Potret-potret itu dijajarkan pada pagar kayu yang masih terlihat kokoh meski sudah termakan cuaca. Langit berselimut kegelapan. Cahaya lampu neon menerangi wajah-wajah dalam foto. Banyak paras milik orang yang sama.

Lyanna mengumpulkan gambar-gambar itu sejak beberapa hari lalu. Dari bumantara yang ia bidik, tidak sengaja sosok itu tertangkap olehnya. Bermenit-menit Lyanna mengamati pemilik wajah di layar kameranya. Lalu senyum mengisi seluruh bibirnya, membuat keelokannya kian muncul. Dia yang jatuh cinta selalu cantik. Lyanna hanya butuh dua puluh menit untuk menyadari bahwa dia sudah jatuh cinta. Dua puluh menit di dua puluh sembilan hari yang ia punya.

Sekarang, Lyanna masih memiliki sepuluh hari. Ia menempelkan foto terakhir yang diambil sehari sebelumnya. Warna langit yang kelam berubah agak terang. Sebentar lagi rawi muncul dan akan diikuti oleh dia yang ada di dalam potret.

**

Apa yang membuat waktu begitu berharga?

Harapan.

Lyanna mulai menghitung. Sayangnya harapan tidak bisa mempercepat sesuatu terjadi. Harapan memaksanya duduk sabar untuk menunggu. Bersimpuh bersama novel ‘Every Day’ karangan David Levithan pemberian seseorang. Setiap hari, saat pagi mulai muncul Lyanna duduk di beranda dan membaca satu hari dari novel tersebut.

Ketika Lyanna mengangkat wajah, pohon di depan kamarnya sedang menggugurkan dedaunan. Matanya tertumbuk ke jalanan sewaktu sosok yang sedang jogging itu melintas. Pandangan Lyanna terus mengikuti pemuda hingga hilang di kelokan jalan.

Masih ada dua puluh sembilan pagi untuk Lyanna, ia berharap besok pemuda itu akan muncul lagi.

**

Tak ada yang tahu berapa lama harapan bisa terwujud.

Tinggal sembilan hari yang Lyanna punya. Mereka bertemu di balik pagar kayu. Pohon di atas Lyanna tidak lagi menggugurkan daunnya.

Pemuda itu memegang salah satu potret. Senyum tipis tertera di wajahnya, melunturkan kesan keras dari matanya. “Terima kasih,” ia menyimpan foto dalam sakut jaketnya, “aku seharusnya lari.”

“Ya, itu yang seharusnya kamu lakukan.” Lyanna melambaikan tangan. “Aku akan di sini.”

**

“Ke mana kamu akan pergi?”

“Hmm… sebuah desa kecil di selatan Yogyakarta. Aku ingin tinggal dekat pantai.”

Pagi selalu menyisakan mimpi-mimpi bagi Lyanna. Namun pembicaraan itu nyata padahal sudah satu bulan Ramadhan berlalu. Bergema dalam telinganya dengan nada ucapan yang sama. Ia tidak bisa melupakannya. Kenangan tidak mudah untuk dihapuskan. Lyanna harus tahu bahan baku kenangan agar bisa mencerabutnya dari pikiran.

Tujuh belas hari sebelum waktu Lyanna habis, ia sudah rindu tetapi tak tahu ke mana harus mengadu.

**

Pada suatu pagi, mereka kembali bertemu di balik pagar kayu.

“Aku jatuh cinta kepadamu.”

Pandangan pemuda itu menyipit. Peluh mengalir di dahinya, berhenti di atas alisnya yang tebal. Tulang pipi tinggi menebalkan ekspresi curiga paras itu. “Tapi kita belum berkenalan sebelumnya.”

“Apa jatuh cinta butuh kenal terlebih dahulu?” Lyanna tersenyum, tersipu sendiri. Jantungnya berdegup kencang. Tiap detak yang Lyanna rasa seakan mengingatkan berapa lama lagi waktu tersisa untuknya.

“Umumnya….”

“Mengapa harus seperti yang lain kalau aku bisa berbeda?”

Hanya delapan hari lagi.

**

“Mengapa aku jatuh cinta kepadamu?”

“Ya kenapa?”

Mata Lyanna menyipit ketika tertawa. “Karena aku menyadari setiap hari aku merindukan datangnya pagi. Pagi yang cerah tanpa hujan….”

Ia menarik pemuda itu masuk ke balik gerbang. Pohon di atas mereka mejatuhkan tetes-tetes air sisa hujan semalam. Keduanya bertukar pandangan. Tatapan Lyanna menjelajahi bentuk wajah itu. Pelan, Lyanna menggerakkan tangannya, menyentuh tulang pipi tinggi si pemuda. Kini seolah di telinganya ada yang membisiki akan waktu. Jantungnya berderum-derum. Ia tidak bisa menanti lebih lama. Lyanna tersenyum, lalu menyentuhkan bibirnya pada sosok di hadapannya.

“Kamu tidak mencintaiku.”

Pria itu membisu. “Kamu membiarkan aku menciummu.”

“Ciuman saja tidak perlu cinta, kan?” Telunjuk perempuan itu menyentuh bibir lawan bicaranya. “Aku menyukai bibirmu. Aku ingin tahu rasanya mencium seseorang yang kucintai, tetapi tidak mencintaiku.”

“Bagaimana kamu tahu?”

“Matamu,” ujarnya, menatap lekat-lekat si pria.

“Cinta tidak mesti memiliki.”

Lyanna tergelak. “Itu cuma keluar dari orang-orang yang patah hati dan putus asa karena sama sekali tidak punya kesempatan untuk mendapatkan balasan cintanya.”

“Kalau begitu aku salah satunya.”

“Kamu pasti punya hati yang besar,” katanya, menerawang awan, “hati yang cukup luas untuk menampung perasaan-perasaan yang tak tersampaikan,” katanya tersenyum pilu. “Cinta tak terbalaskan itu seperti kartu domino. Kamu mencintainya, aku mencintaimu. Kita ambruk bersama-sama, bukankah begitu?”

Hari ketujuh dan Lyanna membobol bendungan hatinya sendiri. Hanya hitungan jari, akan tetapi waktu bisa meregang begitu panjang.

**

“Aku akan kembali.”

Pesan singkat itu datang pagi-pagi sekali. Berisi kalimat yang sama seperti Lyanna pernah terima dan mengawali penantian tiga puluh harinya.

Pagi itu hujan turun begitu deras. Pesan itu mengantarkan begitu banya rindu dan hujan menghanyutkannya. Dua belas hari lagi hingga rindu dalam hati Lynna sampai ke muaranya. Dia tidak akan datang. Lyanna bahkan tidak mau repot-repot membuka jendela. Ia terbujur di ranjangnya dengan air mata yang turun satu persatu.

**

Pagi di sisa hari-hari yang Lyanna miliki dihabiskan bersama pemuda itu. Tak perlu nama, mereka hanya bertukar beberapa kalimat. Saling tersenyum dan menyapa. Sesekali Lyanna membiarkan pemuda itu mengecupnya di balik pagar kayu.

Lyanna menyukai pandangan matanya. Mengingatkan pada rindu-rindu yang Lyanna simpan dalam hati. Rindu yang belum tuntas hingga nanti saat waktu penantian Lyanna habis. Rindu yang sebagian Lyanna lampiaskan pada pemuda itu.

“Aku harus pergi.”

“Jangan….” Pemuda itu menangkap tangan Lyanna dari sela-sela pagar. Ia selalu menyempatkan menaruh tangannya di antara jari-jari panjang Lyanna. Biasanya tangan itu hangat, sendingin apapun pagi yang datang di Bogor.

“Kamu akan menemukanku, Martin.”

Lyanna menarik tangannya. Sinar matahari jatuh dari sela-sela pepohonan kepada mereka. Jari tangan Lyanna berkilau. Pemuda itu menatapnya dan mundur selangkah. Senyumnya kini terpenjara di balik tulang pipi tingginya.

“Aku seharusnya lari.”

Lyanna sudah membayangkan ini jauh-jauh hari. Ia melihat perpisahan pada pertemuan.

Dari apa kenangan dibuat?

Pertemuan.

**

“Aku akan kembali. Aku janji.”

Isi pesan itu terlintas di benak Lyanna ketika turun dari taksi. Rumah di desa kecil di selatan Yogyakarta itu begitu asri. Lyanna bisa mendengar suara dedaunan tertiup angin ketika berjalan menuju beranda. Semua bukan lagi mimpi. Kursi di teras bergoyang, seolah baru saja ditinggalkan.

Dia ada di sini. Yang ia rindukan. Mereka berpisah. Suami Lyanna meminta untuk bersama lagi.

Di ambang pintu, Lyanna melihat sosok itu. Senyum melebar di wajahnya. Lyanna segera berlari menuju kepadanya. Mereka berpelukan. Lyanna merasakan matanya yang basah. Genggaman tangan itu terasa begitu hangat. Cahaya mentari yang turun ke langkan, membuat cincin di jari mereka berkilau.

Sekarang Lyanna mengetahuinya.

Dari apa memori dibuat?

Janji.

 

Bogor, 3 Juli 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Komposisi Memori at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: